SEMARAPURA, Radar Bali.id- Kabupaten Klungkung belum memiliki kawasan olahraga yang representative dan terintegrasi hingga saat ini.
Bahkan sejumlah cabang olahraga (cabor) tidak memiliki tempat berlatih yang representative. Untuk mewujudkan kawasan olahraga yang representative dan terintegrasi, Pemkab Klungkung setidaknya membutuhkan anggaran sekitar Rp70 miliar.
Ketua KONI Kabupaten Klungkung, I Wayan Subamia mengungkapkan Kabupaten Klungkung memiliki GOR Swecapura dan sejumlah lapangan sebagai tempat berlatih. Hanya saja tidak semua cabor dapat terakomodir di sana.
“Misalnya untuk cabor atletik, yakni lari 100 meter di Lapangan Swecapura itu harus bongkar pagar dulu. Kalau lari 200 meter out semestinya hanya satu kali tikungan, ini kami harus dua kali tikungan. Dan itu akan mempengaruhi kecepatan atlet kami,” terangnya.
Tidak hanya itu, diungkapkannya Kabupaten Klungkung belum memiliki lapangan sepak bola standar kompetisi. Bahkan standar daerah sekalipun. “Tidak ada satupun lapangan sepak bola di Klungkung standar kompetisi,” ungkapnya.
Untuk mengakomodir kebutuhan cabor di Klungkung dalam satu kawasan, dikatakannya KONI Klungkung telah mengusulkan pembangunan kawasan olahraga yang representative dan terintegrasi di kawasan GOR Swecapura, Desa Gelgel.
Usulan tersebut telah diajukan sekitar delapan tahun yang lalu dengan kebutuhan anggaran sekitar Rp70 miliar. “Sudah ada 3D dan layoutnya tinggal menunggu uangnya saja. Itu bukan biaya, tapi investasi. Dengan tempat fasilitas yang memadai, prestasi atlet akan terpengaruhi,” katanya. [*]
Editor : Hari Puspita