SEMARAPURA, Radar Bali- Nelayan dan petani garan di pantai Desa Kusamba tidak bisa mencari nafkah sejak ombak tinggi menghantam pesisir belakangan ini.
Bahkan Rabu (5/6/2024), tinggi ombak bisa mencapai 2,5 meter sehingga banyak nelayan memutuskan tidak melaut, hari Kamis (6/6/2024) lantaran khawatir ombak tinggi mengancam keselamatan mereka.
Sementara petani garam di Pantai Karangnadi sudah sepekan ini tidak dapat memproduksi garam tradisional lantaran lahan penggaraman mereka dipenuhi bebatuan yang dibawa ombak.
I Ketut Subrata, nelayan Pantai Segara Desa Kusamba, Kamis (6/6/2024) mengungkapkan, hasil tangkapan nelayan cukup melimpah dalam beberapa hari ini, yakni berkisar 80-200 ekor. Hanya saja sebagian besar nelayan memilih tidak melaut kemarin.
Itu lantaran ombak di pantai itu cukup besar mencapai lebih dari 2,5 meter yang dikhawatirkan dapat mengancam keselamatan. “Air laut sampai masuk ke tempat memarkirkan jukung,” ungkapnya.
Bahkan para nelayan mengikat perahu-perahu mereka lantaran khawatir terbawa ombak besar. Melihat kondisi pesisir pantai, dia memprediksi ombak besar akan berlangsung hingga hari ini (7/6/2024).
“Kemarin ombak besar sekali, perahu-perahu kami ikat. Banyak nelayan tidak melaut hari ini karena khawatir ombak besar. Hanya beberapa yang tetap melaut,” jelasnya.
Tidak hanya nelayan, petani garam juga merasakan dampak ombak besar beberapa hari terakhir ini. Sudah sepekan ini petani gram di Pantai Karangnadi tidak memproduksi garam lantaran lahan penggaraman mereka dipenuhi bebatuan yang dibawa ombak besar.
“Besar ombaknya sampai melewati tanggul. Kalau tidak ada tanggul, kemungkinan tempat penggaraman kami tidak lagi dipenuhi batu, tapi tergerus air laut,” kata Wayan Nuaya seorang petani garam di pantai tersebut.
Para petani baru akan memperbaiki lahan penggaramannya ketika ombak benar-benar telah tenang. Sehingga upaya mereka memperbaiki tempat penggaraman tidak sia-sia. [*]
Editor : Hari Puspita