SEMARAPURA, Radar Bali.id- Kabupaten Klungkung merupakan salah satu kabupaten rawan terjadinya bencana alam tsunami.
Setidaknya ada sekitar 18 desa rawan terjadi tsunami di Kabupaten Klungkung. Meski demikian, belum ada alat deteksi dini tsunami yang terpasang di perairan Kabupaten Klungkung.
Kepala Pelaksana BPBD Klungkung I Putu Widiada mengungkapkan, pemerintah pusat melalui Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) atau pun Pemprov Bali berencana memasang alat peringatan dini tsunami di perairan Klungkung tepatnya di wilayah Nusa Penida dan Kusamba tahun 2024 lalu. Hanya saja rencana itu belum terealisasi hingga saat ini.
Dia belum tahu mengapa rencana itu belum juga terealisasi. ”Kami menunggu saja. Mudah-mudahan di tahun 2025 ada realisasinya. Rencananya Klungkung diberikan dua, yakni di Kusamba dan di Nusa Penida,” jelasnya.
Diungkapkannya Pemkab Klungkung berencana melakukan pengadaan alat pendeteksi tsunami sejak beberapa tahun lalu. Hanya saja karena adanya pandemi Covid-19 yang berdampak pada kondisi keuangan Pemkab Klungkung, sehingga pengadaan alat tersebut belum dapat dilakukan sampai saat ini. ”Kalau dipasang alat itu, kami lebih mudah untuk memantau,” terangnya.
18 desa rawan bencana tsunami tersebut, yakni Desa Negari dan Takmung untuk Kecamatan Banjarangkan. Di Kecamatan Klungkung, yakni Desa Satra, Jumpai, Tangkas, Gelgel, dan Tojan. Sementara di Kecamatan Dawan, ada Desa Gunaksa, Kusamba, Kampung Kusamba, dan Pesinggahan.
Untuk Kecamatan Nusa Penida, yang termasuk desa rawan bencana ada Desa Lembongan, Jungutbatu, Kampung Toya Pakeh, Ped, Kutampi Kaler, Batununggul, dan Suana. [*]
Editor : Hari Puspita