SEMARAPURA, Radar Bali.id – Kabar kurang sedap datang bagi pemerintah desa di seluruh Kabupaten Klungkung. Total alokasi Dana Desa (DD) untuk tahun 2026 dipastikan merosot tajam menjadi Rp17,09 miliar saja.
Angka ini turun sangat signifikan dibandingkan pagu tahun 2025 yang mencapai Rp49,5 miliar lebih.Di Klungkung sendiri Kabupaten Klungkung, Bali, terdiri dari 53 desa dan 6 kelurahan yang tersebar di empat kecamatan (Banjarangkan, Dawan, Klungkung, dan Nusa Penida).
Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Pengendalian Penduduk, dan KB Klungkung, Ida Bagus Mas Ananda, mengungkapkan bahwa rata-rata desa di Klungkung kini hanya akan menerima DD di bawah Rp400 juta.
"Penerimaan DD terbesar tahun 2026 berada di angka Rp373,4 juta (per desa) , sedangkan yang terkecil di kisaran Rp226,6 juta (per desa)," jelas Mas Ananda.
Realisasi 2025: Terganjal Kesiapan BUMDes
Mengevaluasi tahun 2025, per 31 Desember realisasi DD di Klungkung tercatat sebesar Rp45,4 miliar atau sekitar 91,62 persen. Mas Ananda menyebutkan, kegagalan mencapai target 100 persen ini disebabkan oleh beberapa desa yang tidak mengeksekusi program ketahanan pangan.
Kendala utamanya adalah kondisi Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang belum siap sebagai pelaksana teknis.
"Mayoritas karena BUMDes belum siap, padahal anggaran ketahanan pangan sudah dialokasikan untuk dikelola mereka. Kegiatannya mulai dari tanam pisang, jagung, hingga ternak dengan sistem ngadas (bagi hasil) dengan warga," terangnya.
Dalam sistem ngadas, desa membelikan bibit ternak seperti sapi atau babi untuk dipelihara warga. Setelah dijual, keuntungan akan dibagi antara desa dan warga sesuai perjanjian yang disepakati.
Desa Sakti dan Batumadeg Melampaui Target
Meski secara total kabupaten tidak mencapai 100 persen, ada catatan prestasi dari beberapa desa yang realisasinya justru melampaui pagu awal.
Desa Sakti, misalnya, dari pagu Rp1,02 miliar berhasil merealisasikan Rp1,2 miliar. Demikian pula Desa Batumadeg yang merealisasikan Rp1,1 miliar dari pagu Rp963 juta. Menurut Mas Ananda, hal ini terjadi karena desa-desa tersebut mampu menyerap sisa Dana Desa dari tahun sebelumnya secara efektif.[*]
Editor : Hari Puspita