Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Dendam Berbahaya bagi Kesehatan Mental

Rosihan Anwar • Senin, 29 Mei 2023 | 01:00 WIB
Santy Sastra
Santy Sastra
Oleh: Santy Sastra

(Mindset Motivator dan Hipnoterapis) 

 

MENYIMPAN dendam dapat mengakibatkan masalah kesehatan mental, di antaranya adalah depresi, gangguan kecemasan, gangguan stres pasca trauma, serta menurunkan imun tubuh.

Menurut jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Journal of Social Psychiatry and Psychiatric Epidemiology, disebutkan kalau menyimpan dendam dapat menempat seseorang mengalami serangan jantung dan darah tinggi.

Pengalaman buruk dari peristiwa perundungan membuat korban menjadi selalu awas. Ada rasa takut kalau kejadian tersebut terulang kembali, sehingga dia selalu bersikap waspada dan cemas.

Rasa sakit hati yang tidak tersalurkan dapat membuat seseorang mengalami depresi.

Tidak seperti kesedihan biasa, depresi dapat berlanjut selama berminggu-minggu, yang pada akhirnya mengganggu pekerjaan, relasi, dan membuat tidak bisa menikmati hidup.

Pengalaman buruk yang masih dipendam dan susah dilepaskan dapat memicu gangguan stres pasca trauma.

Gejala-gejala seperti kilas balik pengalaman buruk, tidur tidak lelap, overthinking, tekanan emosional, akan membayangi kehidupan orang dengan gangguan pasca trauma.

Menyimpan dendam juga dapat membuat orang mengalami panic disorder. Ditandai dengan mengubah rutinitas, menciptakan kebiasaan baru, dan menghindari situasi tertentu yang mengingatkan akan peristiwa trauma tersebut.

Kondisi panic disorder bisa jadi muncul sebagai bentuk coping system perlindungan terhadap pengalaman buruk yang ingin dilupakan.

Dendam juga bisa merusak sistem kekebalan tubuh. Ini disebabkan karena orang yang punya dendam senantiasa hidup dalam keadaan tegang.

Akibatnya, situasi ini menonaktifkan mekanisme perbaikan tubuh meningkatkan peradangan dan hormon stres kortisol dalam tubuh.

Berbeda dengan dendam, sikap memaafkan melibatkan sistem saraf parasimpatis, yang membantu sistem kekebalan tubuh berfungsi lebih efisien dan memberi ruang bagi hormon perasaan baik seperti serotonin dan oksitosin.

Otak tidak mengetahui apa yang nyata dan apa yang dibayangkan. Jika mengingat kembali pengalaman yang dialami dulu, tubuh akan bereaksi seolah mengalami pengalaman yang sama berulang kali.

Bayangkan jika yang diingat adalah pengalaman buruk, itu berarti membuat tubuh merasakan rasa sakit yang sama.

Memaafkan dan move on adalah langkah tepat yang perlu dilakukan ketimbang menyimpan dendam. Sikap memaafkan akan membantu melepas rasa sakit dan emosi negatif.

Jika saat ini merasa sulit untuk melepaskan rasa sakit hati, bisa konsultasikan masalah kesehatan mental dengan hipnoterapis. (ss/han)

 

  Editor : Rosihan Anwar
#santy sastra hypnoterapi #santy sastra #Power of mind santy sastra #santy sastra public speaking #Dendam Berbahaya bagi Kesehatan Mental