Dalam sebulan terakhir, kasus meningitis di Buleleng memang cukup dominan. Hingga kini tercatat ada 12 orang yang dirawat di RSUD Buleleng. Sebanyak dua orang telah dinyatakan positif meningitis, dan sepuluh orang lainnya berstatus suspek.
Dari penelusuran tim medis, rata-rata pasien meningitis itu menunjukkan gejala yang sama. Para pasien sempat mengonsumsi produk olahan babi dalam kondisi mentah. Makanan yang dimaksud adalah lawar getih matah. Makanan itu terbuat dari jeroan babi yang dicampur dengan darah babi yang masih mentah.
Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Buleleng, dr. Sucipto mengatakan, pihaknya telah menyampaikan kewaspadaan dini kepada para camat dan perbekel di Buleleng. Dalam himbauan itu, Diskes menganjurkan agar warga memasak daging babi hingga suhu internal 70 derajat celcius atau hingga air kaldu jernih.
“Babi yang mati mendadak jangan sampai dikonsumsi. Lebih baik dikubur. Ini sudah kami sampaikan ke masyarakat, melalui camat dan perbekel,” kata Sucipto.
Menurutnya Diskes telah menindaklanjuti setiap kasus dengan menelusuri riwayat para pasien. Selain itu petugas promosi kesehatan (promkes) juga terus melakukan edukasi kepada masyarakat agar mengonsumsi olahan babi dengan lebih aman.
Disamping itu, Diskes bersama Dinas Pertanian (Distan) juga mengawasi rumah jagal babi yang ada di Buleleng. Guna memastikan babi-babi yang dijagal dalam kondisi sehat dan bebas infeksi. Sehingga masyarakat juga terlindungi saat mengonsumsi makanan.
“Kalau mau makan daging babi, diolah dulu. Supaya kumannya mati. Jangan menyajikan dalam bentuk mentah. Mudah-mudahan masyarakat paham,” imbuhnya.
Di sisi lain, Pj. Bupati Buleleng, Ketut Lihadnyana meminta agar penyakit meningitis itu segera ditindaklanjuti. “Baru beberapa kasus saja, sudah harus ada langkah pencegahan. Itu harus secepatnya diantisipasi. Jangan sampai ada penularan segala macam,” tegasnya. (eps) Editor : Donny Tabelak