RADAR BALI - Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Nasional Berdasarkan tes (SNBT) 2025 telah berlangsung sejak Rabu (24/4).
Dalam dua hari penyelenggaraan, ujian yang diikuti lebih dari 195 ribu ribu peserta tersebut diwarnai dengan aneka kecurangan.
Peserta Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) menemukan total 14 kasus kecurangan dalam dua hari terakhir.
Panitia menemukan sembilan kasus kecurangan pada hari pertama UTBK.
Sedangkan pada hari kedua UTBK ditemukan lima kasus kecurangan peserta.
Seluruh peserta yang melakukan kecurangan tersebut telah didiskualifikasi dan kehilangan haknya untuk masuk ke perguruan tinggi negeri.
"Panitia SNPMB juga melakukan investigasi untuk mendalami keterlibatan pihak internal dan eksternal dalam kasus-kasus kecurangan tersebut," kata Ketua Panitia SNPMB 2025 Prof Eduart Wolok dalam live Youtube SNPMB ID pada Jumat (25/4).
Eduart membantah terjadi kebocoran soal UTBK meski terdapat live di Instagram oleh oknum yang membahas soal-soal yang keluar di UTBK hari pertama.
Panitia SNPMB memastikan setiap sesi memiliki soal yang berbeda, baik dalam materi maupun urutan soal. "Kami menyiapkan lebih dari 23 set soal UTBK meski hanya terdapat 23 sesi di UTBK," katanya.
Dia juga memastikan soal yang telah dibahas dalam live Instagram tersebut tidak akan keluar di ujian hari kedua dan seterusnya.
"Tidak ada yang bisa membuka set soal sebelum waktu ujian dilaksanakan. Bahkan, ada koordinator SNPMB yang dua anaknya mengikuti UTBK dan tidak lulus meski soal ujian berada di rumahnya," terang Eduart.
Modus-modus yang ditemukan panitia pada dua hari pertama meliputi:
1. Recording Dekstop
Peserta ujian berupaya mengambil soal melalui perangkat keras dan perangkat lunak, seperti melakukan perekaman menggunakan ponsel dan merekam melalui dekstop komputer (recording dekstop).
Modus ini telah beberapa tahun digunakan oleh jaringan melalui perantaraan oknum yang mendaftar sebagai peserta UTBK.
2. Remote Dekstop
Peserta menggunakan modus remote dekstop yang memungkinkan soal ujian dikerjakan oleh pihak eksternal yang tidak berada di ruang ujian.
3. Penggunaan kamera mikro
Upaya pencurian soal juga dilakukan melalui penggunaan kamera mikro di kawat gigi (behel) dan kuku.
4. Kamera di Kancing Baju
Panitia menemukan modus pencurian soal dengan menggunakan kamera mikro di ikat pinggang dan kancing baju.
Kamera mikro yang ditemukan juga telah didesain agar tidak terdeteksi oleh pemindai logam (metal detector).
5. Menyembunyikan Ponsel
Seluruh ponsel dan tas peserta UTBK wajib dikumpulkan di depan ruangan sebelum ujian dilakukan.
Meski demikian, masih ada peserta yang membawa ponsel dengan cara melekatkan di badan menggunakan berbagai alat.
Modus ini juga telah lazim ditemukan dalam sejumlah UTBK sebelumnya.
6. Mencari Titik Pengawasan Terlemah
Panitia SNPMB mencurigai peserta mencari lokasi ujian yang lebih longgar pengawasannya.
Kecurigaan tersebut disebabkan sejumlah peserta yang SMA-nya di Jogja atau Bandung sengaja memilih lokasi ujian di pedalaman Kalimantan dibandingkan di lokasi terdekat dengan rumahnya.
"Itu tidak salah, namun menjadi tugas dari kami terhadap anomali ini untuk melakukan pendalaman lebih lanjut apa yang menjadi motif dari peserta itu," terang Eduart. ***
Editor : Ibnu Yunianto