Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Bolehkah Puasa Arafah dan Tarwiyah Sekaligus Membayar Utang Puasa Ramadan? Bagaimana Niatnya?

Dhian Harnia Patrawati • Selasa, 3 Juni 2025 | 21:39 WIB

Puasa Arafah - ilustrasi
Puasa Arafah - ilustrasi

RADAR BALI - Umat Islam dianjurkan untuk melaksanakan puasa Tarwiyah pada 8 Dzulhijjah (Rabu, 4 Juni 2025) dan puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah (Kamis, 5 Juni 2025).

Puasa Arafah secara khusus memiliki keutamaan besar, yaitu dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang, sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Muslim.

Namun, seringkali muncul pertanyaan mengenai hukum menggabungkan puasa sunnah ini dengan puasa qadha Ramadan. Apakah keutamaan puasa sunnah tetap bisa diperoleh?

Pandangan Ulama Mengenai Menggabungkan Puasa Qadha dan Puasa Sunnah

Wakil Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LBM PBNU), Ustadz Alhafiz Kurniawan, menjelaskan bahwa penggabungan qadha puasa Ramadan dengan puasa sunnah Tarwiyah atau Arafah dibolehkan dan sah.

Bahkan, orang yang melaksanakannya akan tetap mendapatkan keutamaan puasa sunnah tersebut.

"Qadha puasa Ramadhannya tetap sah. Sedangkan ia sendiri tetap mendapatkan keutamaan yang didapat oleh mereka yang berpuasa dengan niat puasa sunnah Arafah," jelas Ustadz Alhafiz di laman NU Online.

Pandangan ini diqiyaskan dengan keterangan Syekh Zakariya Al-Anshari dalam kitab Asnal Mathalib mengenai qadha puasa di hari Asyura.

Dijelaskan bahwa Al-Barizi berfatwa bahwa orang yang berpuasa pada hari Asyura dengan niat qadha atau nazar puasa, maka ia juga mendapat pahala puasa sunnah hari Asyura.

Pandangan ini disepakati oleh Al-Ushfuwani, Al-Faqih Abdullah An-Nasyiri, dan Al-Faqih Ali bin Ibrahim bin Shalih Al-Hadhrami.

Senada dengan itu, Sayyid Bakri dalam kitab I‘anatut Thalibin juga menyampaikan pandangan serupa.

Menurutnya, orang yang berpuasa pada hari-hari tertentu yang sangat dianjurkan untuk berpuasa, akan mendapatkan keutamaan seperti mereka yang berpuasa sunnah pada hari tersebut, meskipun niatnya adalah qadha puasa atau puasa nazar, bukan puasa sunnah tersebut.

"Di dalam Al-Kurdi terdapat nash yang tertulis pada Asnal Mathalib dan sejenisnya yaitu Al-Khatib As-Syarbini, Syekh Sulaiman Al-Jamal, Syekh Ar-Ramli bahwa puasa sunnah pada hari-hari yang sangat dianjurkan untuk puasa memang dimaksudkan untuk hari-hari tersebut. Tetapi orang yang berpuasa dengan niat lain pada hari-hari tersebut, maka dapatlah baginya keutamaan," terang Ustadz Alhafiz mengutip Sayyid Bakri.

Meskipun diperbolehkan, Ustadz Alhafiz menyarankan agar orang yang memiliki utang puasa Ramadan sebaiknya terlebih dahulu mengqadha utang puasanya.

Setelah itu, barulah mereka dapat mengamalkan puasa sunnah Arafah. Namun, jika utang puasa Ramadan baru teringat menjelang hari Arafah, sangat dianjurkan untuk membayar qadha puasa di hari Arafah tersebut.

Syeikh Muhammad bin Sholih al Utsaimin juga berpendapat bahwa secara syariat, amalan wajib seperti puasa qadha Ramadan sebaiknya didahulukan dibandingkan puasa sunnah.

Ini karena seorang muslim dapat berdosa jika utang puasa wajib tidak dikerjakan, sementara amalan sunnah hanyalah anjuran.

Namun, Syeikh Muhammad menambahkan bahwa puasa sunnah, termasuk puasa Arafah, yang diamalkan sebelum utang puasa Ramadan lunas, tetap sah selama waktu pelunasan utang Ramadan masih lama, yaitu masih berlanjut sampai Ramadan berikutnya.

Beliau mengibaratkan seperti salat wajib; jika seseorang melaksanakan salat sunnah sebelum salat wajib dengan waktu yang masih leluasa, maka itu dibolehkan.

Niat Puasa Qadha Ramadan di Hari Arafah dan Tarwiyah

Apabila Anda berniat untuk mengqadha puasa Ramadan sekaligus mendapatkan keutamaan puasa Arafah, niat yang diucapkan adalah niat puasa qadha.

Berikut adalah niat puasa qadha Ramadan:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلهِ تَعَالَى

"Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhā’I fardhi syahri Ramadhāna lillâhi ta‘âlâ."

Artinya: "Aku berniat untuk mengqadha puasa Bulan Ramadan esok hari karena Allah swt."

Dengan niat qadha puasa ini di hari Arafah, Syeikh Muhammad bin Sholih al Utsaimin mengatakan bahwa seorang muslim berkesempatan mendapatkan dua pahala: pahala hari Arafah dan pahala puasa qadha.

Ini berlaku karena puasa sunnah Arafah adalah puasa mutlak yang tidak berkaitan dengan puasa Ramadan.

Jadi, bagi Anda yang memiliki utang puasa Ramadan, jangan lewatkan kesempatan untuk menggabungkan niat qadha dengan keutamaan puasa Arafah. ***

 
 
Editor : Ibnu Yunianto
#niat qadha puasa #Niat Puasa Arafah dan Tarwiyah #niat puasa Qadha Ramadan #niat puasa qadha #niat puasa tarwiyah dan arafah #niat puasa qadha ramadhan #Niat Puasa Arafah #Niat Puasa Tarwiyah #Puasa Idul Adha #Niat Puasa Zulhijah #Kapan puasa Tarwiyah 2025 #kapan puasa tarwiyah #hukum puasa #Kapan Puasa Arafah #niat puasa #niat puasa utang ramadhan #niat puasa dzulhijjah