Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

BMKG: Kombinasi Anomali Cuaca Picu Banjir Bandang di Bali

Dhian Harnia Patrawati • Senin, 15 September 2025 | 11:25 WIB

ANOMALI - Curah hujan di atas 200 mm yang melebihi kategori ekstrem (150 mm) disebabkan sejumlah anomali cuaca di Bali.
ANOMALI - Curah hujan di atas 200 mm yang melebihi kategori ekstrem (150 mm) disebabkan sejumlah anomali cuaca di Bali.

RADAR BALI - Banjir dan longsor yang melanda Bali pada 9–10 September 2025 memperlihatkan dampak hidrometeorologi basah yang luar biasa.

Laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, bencana terjadi di tujuh kabupaten/kota dengan lebih dari 120 titik banjir.

Kota Denpasar menjadi wilayah terdampak terparah dengan 81 titik banjir, disusul Gianyar 14 titik.

Selain itu, banjir juga terjadi di 12 titik di Kabupaten Badung, Tabanan 8 titik, Karangasem dan Jembrana masing-masing 4 titik, serta Klungkung di Kecamatan Dawan.

Hujan Ekstrem Picu Banjir Massif

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan curah hujan harian ekstrem menjadi pemicu utama banjir besar tersebut.

Data menunjukkan Jembrana mencatat curah hujan tertinggi, yakni 385,5 mm per hari, disusul Tampak Siring 373,8 mm, Karangasem 316,6 mm, Klungkung 296 mm, dan Abiansemal 284,6 mm.

Beberapa wilayah lain seperti Denpasar Barat, Petang, Kerambitan, dan Padangbai juga mengalami hujan di atas 200 mm/hari.

Padahal, secara klimatologis, hujan di atas 150 mm/hari sudah tergolong ekstrem.

Fenomena Atmosfer Berlapis

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menjelaskan intensitas hujan ekstrem kali ini merupakan akibat kombinasi fenomena atmosfer regional dan lokal.

“Aktivitas Madden–Julian Oscillation (MJO), gelombang Kelvin, dan Rossby ekuator yang aktif bersamaan dengan kondisi atmosfer labil di Bali memperbesar risiko terbentuknya awan konvektif secara masif,” jelasnya.

Infrastruktur Tak Mampu Menampung Debit Air

Selain faktor dinamika atmosfer, kondisi lingkungan dan infrastruktur juga turut memperparah dampak banjir.

Sistem drainase di sejumlah wilayah tidak mampu menyalurkan volume air yang luar biasa besar, diperburuk oleh sedimentasi dan sampah yang menyumbat aliran air.

Alih fungsi lahan dari daerah resapan menjadi permukiman dan kawasan komersial juga mengurangi kemampuan tanah menyerap air. Akibatnya, genangan cepat meluas dan memperbesar risiko banjir.

Peringatan Dini dan Kesiapsiagaan

BMKG menegaskan bahwa pihaknya sudah mengeluarkan peringatan sejak 5 September 2025 melalui prospek cuaca sepekan.

Peringatan dini tiga harian kemudian diterbitkan, diperkuat dengan pembaruan nowcasting per jam saat hujan ekstrem mulai terjadi.

“Dalam periode 9–10 September saja, BMKG menerbitkan 11 kali pembaruan peringatan dini cuaca ekstrem untuk wilayah Bali,” ungkap Dwikorita.

Ke depan, masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem sepekan mendatang dengan rutin memantau informasi resmi BMKG melalui aplikasi, media sosial, maupun siaran televisi.

Mitigasi Bencana Hidrometeorologi

Dwikorita juga mengingatkan pentingnya langkah mitigasi sederhana yang bisa dilakukan masyarakat.

Misalnya, menjaga kebersihan saluran drainase, tidak membuang sampah sembarangan, dan memperhatikan tata kelola lingkungan.

“Dengan kesiapsiagaan dan mitigasi yang baik, kita bisa meminimalkan risiko bencana akibat cuaca ekstrem yang masih akan berlangsung dalam beberapa hari ke depan,” tutupnya.***

Editor : Ibnu Yunianto
#gelombang kelvin #bmkg #abiansemal #Tampaksiring Gianyar #hujan lebat #jembrana #Gelombang Rossby Ekuator #anomali cuaca #karangasem #petang badung #bali #klungkung #gelombang rossby