Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Koster Desak Kementerian PU Normalisasi Tukad Badung dan Tukad Unda

Dhian Harnia Patrawati • Rabu, 17 September 2025 | 14:40 WIB
keren-dinding-tukad-badung-dihias-gambar-kura-kura-dan-ikan-3d
keren-dinding-tukad-badung-dihias-gambar-kura-kura-dan-ikan-3d

RADAR BALI - Banjir parah yang melanda sejumlah wilayah di Bali pada Rabu (10/9/2025) lalu kembali mengingatkan betapa rapuhnya ekosistem sungai di Pulau Dewata.

Tragedi ini bukan sekadar bencana alam biasa, melainkan puncak dari krisis ekologis yang telah lama terakumulasi.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali, sedikitnya 18 orang meninggal dunia akibat banjir bandang, terdiri dari 12 orang di Denpasar, 3 orang di Gianyar, 2 orang di Jembrana, dan 1 orang di Badung. 

Selain itu, 4 orang masih dinyatakan hilang, yang terdiri dari satu orang di Denpasar dan 3 orang di Mengwitani, Badung. 

Gubernur Bali, Wayan Koster segera bergerak ke pemerintah pusat. Dia bertemu sejumlah menteri termasuk Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno.

Mantan dosen statistik itu untuk mengusulkan langkah konkret berupa normalisasi Tukad Badung dan Tukad Unda sebagai solusi jangka panjang pencegahan banjir di Denpasar dan Klungkung.

Intensitas hujan yang sangat tinggi dengan curah hujan mencapai 245,5 milimeter (mm) per hari menyebabkan volume air Sungai Tukad Badung meningkat hingga 85,85 m3/detik.

Tingginya debit air tersebut tidak tertampung badan sungai sehingga meluap dan menggenangi permukiman warga di Denpasar Barat.

Empat anak sungai yang bermuara ke Tukad Badung juga menyebarkan genangan ke sejumlah kecamatan lain di Denpasar. 

Kementerian PU sebelumnya telah melakukan normalisasi Tukad Badung pada 2012 dengan membuat sodetan Tukad Teba menuju Tukad Badung.

Proyek tersebut berhasil mengurangi titik banjir di Jalan Kargo Pidada, Jalan Gunung Agung, Banjar Tegal Harum, kawasan Perumnas Monang Maning, dan Jalan Pura Demak.

Meski demikian, proyek tersebut belum menyentuh badan utama Tukad Badung sehingga titik banjir di Denpasar pada 2025 terus bertambah menjadi 188 titik. 

Penyebab utama bencana ini adalah kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) yang masif.

Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurrofiq, mengungkapkan data yang mengkhawatirkan.

Kondisi hutan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Ayung, salah satu yang terbesar di Bali, mengalami degradasi serius sejak 2015.

Dari total 49.500 hektare kawasan hutan, kini hanya tersisa sekitar 1.500 hektare yang masih ditumbuhi pepohonan—setara 3%. Padahal, secara ekologis, minimal 30% kawasan DAS harus tertutup vegetasi untuk menjaga keseimbangan ekosistem.

"Namun di DAS Ayung, pohon hanya tersisa 3 persen. Ini sangat serius, karena di bawahnya ada Kota Denpasar, Kabupaten Badung, Gianyar, dan Tabanan,” ujar Hanif.

Alih fungsi lahan menjadi pemukiman dan kawasan komersial yang tak terkendali selama satu dekade terakhir memperparah situasi.

Dampaknya, hujan deras sedikit saja langsung meningkatkan debit air secara drastis dan memicu banjir bandang di kawasan hilir.

Potret Empat Sungai Vital di Bali Selatan

Bali bagian selatan memiliki empat sungai besar yang menjadi nadi kehidupan sekaligus sumber ancaman ketika ekosistemnya terganggu:

  1. Tukad Ayung

    • Panjang: 71,7 km, melintasi Bangli, Gianyar, Badung, hingga Denpasar.

    • Luas DAS: 306 km²

    • Masalah: Meskipun terpanjang, degradasi hutan parah di hulu membuat debit airnya semakin liar dan sulit dikendalikan.

  2. Tukad Badung

    • Panjang: 19,6 km, membelah Kota Denpasar.

    • Luas DAS: 52,4 km²

    • Masalah: Padatnya pemukiman di bantaran sungai telah mengurangi daerah tangkapan air secara drastis. Pelanggaran aturan sempadan sungai menjadi persoalan klasik.

  3. Tukad Mati

    • Panjang: 22,4 km, melintasi Badung hingga Denpasar.

    • Luas DAS: 44,6 km²

    • Masalah: Sungai ini dipenuhi limbah domestik akibat pemukiman padat dan terhimpit oleh pembangunan perumahan serta kawasan industri.

  4. Tukad Penet

    • Wilayah: Kabupaten Tabanan dan Badung.

    • Masalah: Meski relatif masih asri, mulai muncul pelanggaran sempadan akibat pembangunan vila yang berdiri hanya beberapa meter dari aliran sungai, mengancam kelestariannya.

Solusi Mendesak: Dari Normalisasi Hingga Pembangunan Waduk

Usulan Gubernur Koster untuk normalisasi sungai merupakan langkah taktis yang krusial.

Namun, para pakar lingkungan menilai perlu ada solusi yang lebih fundamental dan terintegrasi:

  1. Pembangunan Waduk dan Bendung di hulu sungai: Langkah mendesak adalah pembangunan waduk di kawasan hulu Tukad Ayung dan Tukad Badung untuk menahan limpahan air saat hujan ekstrem.

    Selain mengendalikan banjir, waduk ini juga mampu menambah pasokan air baku untuk Denpasar. Revitalisasi Bendung Merta Gangga di Ubung Kaja juga diperlukan untuk mengurangi debit air di Tukad Badung dan Ayung.

  2. Restorasi Ekosistem DAS: Penghijauan masif di kawasan hulu dan pengendalian ketat terhadap alih fungsi lahan adalah kunci utama.

    Penegakan aturan sempadan sungai juga harus dilakukan tanpa kompromi. Secara ekologis, jarak ideal sempadan untuk Tukad Ayung dan Tukad Badung adalah minimal 25 meter.

  3. Sinergi Lintas Sektor: Tragedi banjir yang menelan korban jiwa ini seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah pusat, provinsi, hingga kabupaten/kota untuk bersinergi memperbaiki tata kelola sungai.

    Penanganan tidak boleh lagi sebatas menata estetika tepian sungai, melainkan harus fokus mengembalikan fungsi ekologisnya sebagai penyangga kehidupan. ***

 
 
 
Editor : Ibnu Yunianto
#denpasar #tukad badung #banjir denpasar #wayan koster #banjir bali #bali #2025