RADAR BALI - Dalam rangka memperingati Hari Kesadaran Tsunami Sedunia (World Tsunami Awareness Day), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Geofisika Denpasar berpartisipasi aktif dalam latihan kesiapsiagaan tsunami skala internasional, Indian Ocean Wave Exercise (IOWave) 2025.
Latihan tersebut diikuti oleh negara-negara di kawasan Samudra Hindia bertujuan mewujudkan kawasan yang tanggap dan tangguh terhadap tsunami.
Latihan juga dilakukan untuk mendukung peningkatan kapasitas nasional dalam sistem peringatan dini.
Kepala Stasiun Geofisika Denpasar BMKG Rully Oktavia Hermawan menjelaskan bahwa latihan IOWave 2025 digelar dalam dua fase.
Fase pertama pada 25 September 2025 mensimulasikan skenario gempa bumi dahsyat berkekuatan Magnitudo 9,0 di zona Selat Sunda.
Sementara fase kedua, pada 5 November 2025, menggunakan skenario nasional dengan gempa Magnitudo 9,2 di zona megathrust Utara Sumatera.
Hasil uji simulasi ini menempatkan Bali pada status Siaga Tsunami.
Daerah-daerah yang teridentifikasi berpotensi terdampak meliputi: Klungkung, Nusa Penida, Kuta, Jembrana, Denpasar, dan Tabanan.
Ancaman Tektonik dan Waktu Selamatkan Diri yang Minim
Pulau Bali memang berada di antara dua zona pemicu gempa bumi dan tsunami.
Bagian selatan Bali merupakan bagian dari Zona Subduksi Sunda, pemicu tsunami dahsyat seperti Aceh (2004) dan Pangandaran (2006).
Sementara bagian utara dipengaruhi zona patahan naik busur belakang (back arc thrust) pemicu Tsunami Flores (1992).
Gempa dangkal akibat proses subduksi di palung Jawa berjarak hanya 150 km hingga 200 km dari pantai selatan Bali.
Gempa dangkal berkekuatan di atas M7.0 sangat berpotensi memicu tsunami.
Berdasarkan pemodelan BMKG, waktu tiba gelombang tsunami sangat singkat:
Pantai Selatan Bali: berkisar antara 20-30 menit.
Pantai Utara Bali: berkisar antara 5-10 menit.
Minimnya waktu evakuasi ini menuntut adanya kearifan lokal dan kemampuan evakuasi mandiri yang tinggi dari masyarakat.
Sistem Peringatan dan Budaya Siaga
Untuk mengatasi keterbatasan waktu tersebut, BMKG telah memasang sistem peringatan tsunami di berbagai titik strategis di Bali.
Sirine peringatan tersebar di Seminyak, Tabanan, Singaraja, Kuta, Kedonganan, BTDC, Tanjung Benoa, Serangan, dan Sanur.
Rully Hermawan menyampaikan, "Melalui IOWave 2025, kami berkomitmen memperkuat kesiapsiagaan daerah, terutama di wilayah pesisir dan pariwisata. Kesiapsiagaan adalah kunci keselamatan."
Sebagai langkah nyata, BMKG bekerja sama dengan BPBD Provinsi Bali, TNI, POLRI, SAR, dan instansi terkait untuk memastikan jalur komunikasi, sistem peringatan, dan mekanisme evakuasi berjalan efektif.
Selain itu, kesepakatan simulasi bunyi sirine pada tanggal 26 pukul 10.00 waktu setempat tiap bulannya menjadi sarana penting untuk melatih kepedulian masyarakat terhadap bahaya tsunami.
Peran Krusial Hutan Bakau
Menariknya, kearifan lokal dalam mengelola sumber daya alam juga berperan vital.
Penelitian menunjukkan bahwa keberadaan hutan bakau dapat mereduksi kekuatan gelombang tsunami secara signifikan.
Contoh kasus di Pulau Simeulue di Aceh membuktikan korban tewas yang rendah pasca-tsunami dikaitkan dengan hutan bakau di sana.
Penelitian lain mencatat hutan bakau di selatan Jawa Barat mampu mereduksi ketinggian gelombang tsunami dari 6-7 meter menjadi 1,6 meter.
Saat ini, Bali memiliki areal hutan bakau seluas 3067,71 Ha, dengan lokasi terluas berada di Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai (1373,5 Ha), Nusa Lembongan (202 Ha), dan Taman Nasional Bali Barat (602 Ha).
Sebagai bagian dari rangkaian IOWave, BPBD Buleleng telah melaksanakan simulasi siaga bencana di Desa Pengastulan, Seririt, pada 25 September 2025.
Desa ini dipilih karena pernah terjadi tsunami di masa silam dan telah memiliki komunitas Tsunami Ready yang diakui UNESCO sejak 2024.
Langkah-langkah ini menegaskan bahwa kegiatan IOWave 2025 adalah momentum untuk membangun budaya siaga tsunami di Bali.***
Editor : Ibnu Yunianto