RADAR BALI – Gubernur Bali Wayan Koster memberikan respons tegas terkait narasi yang beredar luas di media sosial mengenai kondisi pariwisata Bali yang disebut sepi menjelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026.
Koster menyatakan bahwa informasi tersebut adalah bohong dan tidak didukung oleh data lapangan yang valid.
Ditemui seusai rapat paripurna di DPRD Bali, Koster menegaskan bahwa arus kunjungan wisatawan ke Pulau Dewata saat ini justru menunjukkan tren positif.
Berdasarkan data riil yang dihimpun dari Angkasa Pura maupun Dinas Pariwisata, jumlah kedatangan wisatawan mancanegara rata-rata mencapai 17 ribu orang per hari.
"Bohong, saya punya data. Setiap hari totalnya meningkat," ujar politikus PDI Perjuangan tersebut.
Secara akumulatif, Koster memaparkan bahwa sejak Januari hingga 16 Desember 2025, total kunjungan sudah menyentuh angka 6,7 juta orang.
Realisasi ini jauh meningkat dibandingkan pencapaian sepanjang tahun 2024 yang hanya sebesar 6,3 juta orang.
Dengan sisa waktu dua minggu sebelum penutupan tahun, ia optimistis target ambisius 7 juta wisatawan untuk tahun 2025 akan segera tercapai.
Faktor Cuaca: Wisatawan Lebih Banyak Beristirahat
Mengenai keluhan para sopir pariwisata yang merasakan penurunan jumlah penumpang secara signifikan, pejabat asal Buleleng ini memberikan penjelasan berbeda.
Menurutnya, fenomena ini tidak disebabkan oleh minimnya turis yang datang ke Bali, melainkan akibat faktor cuaca ekstrem.
Belakangan ini, beberapa wilayah di Bali kerap diguyur hujan lebat yang memicu banjir di sejumlah titik.
Kondisi alam ini dinilai mengubah perilaku wisatawan yang datang. "Sekarang musim hujan, banjir. Mungkin orang datang ke Bali tidak untuk jalan-jalan, banyak yang istirahat. Jadi datanya riil," jelas Koster.
Kontradiksi Data dan Kondisi Lapangan
Meskipun secara statistik jumlah kedatangan di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai menunjukkan peningkatan, cuaca menjadi variabel kunci yang memengaruhi perputaran ekonomi di sektor jasa.
Para penyedia layanan transportasi wisata menjadi pihak yang paling merasakan dampak langsung karena minimnya mobilitas wisatawan yang memilih tetap berada di penginapan demi menghindari hujan.
Secara keseluruhan, pemerintah tetap yakin bahwa ekosistem pariwisata Bali masih sangat kuat, meski tantangan alam di penghujung tahun 2025 ini memberikan pengaruh pada aktivitas wisata di luar ruangan.
Beberapa hari terakhir beredar info di media sosial yang membandingkan jumlah pesawat yang datang ke Bali dan Thailand. Narasi yang beredar adalah Bali ditinggalkan. ***
Editor : Ibnu Yunianto