Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Rais Aam dan Ketum PBNU Sepakat Percepat Muktamar ke-35, Gus Ipul: NU Biasa Gegeran..

Dhian Harnia Patrawati • Sabtu, 27 Desember 2025 | 17:39 WIB
DUALISME - Gedung PBNU di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat. Terjadi dualisme kepengurusan PBNU antara Kubu Sultan dan Kubu Kramat.
DUALISME - Gedung PBNU di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat. Terjadi dualisme kepengurusan PBNU antara Kubu Sultan dan Kubu Kramat.

RADAR BALI – Dinamika internal yang sempat memanas di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) akhirnya menemui titik terang.

Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, memberikan tanggapan mendalam terkait pertemuan islah antara Rais Aam KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) yang berlangsung di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur.

Gus Ipul menilai gesekan yang terjadi selama beberapa bulan terakhir merupakan bagian dari proses pendewasaan organisasi.

Dia menekankan bahwa Nahdlatul Ulama memiliki mekanisme kultural dan spiritual yang kuat untuk meredam konflik, meskipun tensi sempat meninggi.

Ditemui saat menghadiri acara "Satu NU, Satu Bangsa: Doa untuk Negeri" di Masjid Raya K.H. Hasyim Asy'ari, Jakarta Barat, Jumat malam (26/12/2025), Gus Ipul tampak santai menanggapi situasi tersebut.

Dia menganalogikan konflik di NU dengan istilah khas Jawa yang menggambarkan perubahan dari ketegangan menuju keakraban.

"Bahwa di NU itu perbedaan pendapat biasa, yang pada akhirnya nanti akan menemukan solusi. Awalnya 'gegeran' (berkelahi), akhirnya 'ger-geran' (tertawa bersama)," ujar Gus Ipul.

Menurutnya, warga Nahdliyyin tidak perlu merasa cemas secara berlebihan. Ia meyakini bahwa campur tangan para kiai sepuh melalui jalur musyawarah dan istikharah selalu mampu melahirkan jalan keluar yang terkadang melampaui logika organisasi pada umumnya.

"Makanya dari awal kan saya bilang, sudah kita serahkan saja pada ulama. Nanti akan ada solusi yang kadang-kadang tidak kita duga. Istikharah sudah, musyawarah sudah, nanti kita lihat bagaimana hasilnya," tambahnya.

Latar Belakang Konflik dan Titik Balik di Lirboyo

Ketegangan di PBNU sebelumnya mencapai puncaknya ketika jajaran Syuriyah mendesak Gus Yahya mundur dari jabatan Ketua Umum.

Hal ini dipicu oleh kontroversi kehadiran peneliti pro-Israel Peter Berkowitz dalam acara resmi PBNU pada Agustus 2025.

Gus Yahya pun memecat Gus Ipul dari posisi sekjen. Waketum PBNU Amin Said Husni ditunjuk menggantikannya. 

Perselisihan tersebut sempat memicu dualisme setelah rapat pleno di Hotel Sultan pada 9 Desember 2025 menetapkan KH Zulfa Mustofa sebagai Penjabat Ketua Umum.

Namun, pada Kamis (25/12/2025), suasana mencair di Pesantren Lirboyo. Dalam pertemuan internal yang dihadiri para Mustasyar tercapai kesepakatan untuk mengakhiri dualisme.

Gus Yahya dalam keterangan resminya menyatakan bahwa kepemimpinan PBNU kini kembali solid di bawah komando Rais Aam dan Ketum PBNU untuk menyiapkan Muktamar ke-35.

Katib Aam PBNU Muhammad Nuh mengungkapkan bahwa Rais Aam Miftachul Akhyar telah secara resmi memberikan maaf kepada Gus Yahya.

Langkah ini diambil demi menjaga keutuhan organisasi dan mengedepankan tradisi tabayun yang menjadi ciri khas kaum sarungan.

Fokus pada Muktamar ke-35

Dengan tercapainya islah tersebut, PBNU kini bersiap menatap agenda besar yakni pelaksanaan Muktamar ke-35 yang direncanakan akan dipercepat.

Gus Ipul meminta seluruh pengurus dan warga NU untuk merapatkan barisan dan mendukung proses transisi menuju muktamar agar berjalan damai dan bermartabat.

"Kesepakatan ini akan segera ditindaklanjuti dengan pembentukan panitia muktamar. Kita ikuti saja arahan para ulama," pungkas Menteri Sosial tersebut.

Gus Yahya sendiri tidak hadir dalam acara doa bersama di Jakarta semalam meski panitia telah mengundangnya. Ketidakhadiran Gus Yahya dan Kubu Kramat dalam acara yang diselenggarakan Kubu Sultan menunjukkan islah di tubuh PBNU masih belum selesai.***

Editor : Ibnu Yunianto
#Ketum PBNU Yahya Cholil Staquf #Dualisme PBNU #gus yahya #gus ipul #Muktamar Ke 35 NU #Nahdlatul Ulama #rais aam pbnu #Ketum PBNU Gus Yahya #Rais Aam KH Miftachul Akhyar #saifullah yusuf #PBNU #Islah PBNU #nu