Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Cerita Getir di Balik Legitnya Durian Ketol: Harus Bertaruh Nyawa Petani Aceh Tengah demi Panen yang Tersisa

Rizki Maulizar • Jumat, 9 Januari 2026 | 07:20 WIB
ADA LIKU-LIKU KISAH : Durian ketol dari Aceh Tengah harus penuh perjuangan untuk bisa menjualnya. (dok.karantinaaceh)
ADA LIKU-LIKU KISAH : Durian ketol dari Aceh Tengah harus penuh perjuangan untuk bisa menjualnya. (dok.karantinaaceh)

 

Bagi para pencinta buah, durian ketol alias Durio zibethinus  dari Aceh Tengah adalah sebuah kemewahan. Teksturnya yang lembut seperti mentega dengan rasa manis-pahit yang khas membuatnya selalu laku keras. Namun, di balik legitnya buah unggulan ini, tersimpan kisah pilu tentang perjuangan hidup dan mati para petaninya.

SAAT ini memang sedang musim. Januari hingga April seharusnya menjadi bulan-bulan penuh senyum di wilayah Ketol. Namun, bagi warga di Kampung Bergang, Karang Ampar, dan Pantan Renduk, musim panen kali ini justru terasa seperti kutukan yang harus dihadapi dengan keringat dan nyawa.

Petaka dimulai pada akhir November 2025. Banjir bandang yang menerjang Dusun Ayun menghanyutkan jembatan penghubung utama.

Sejak saat itu, akses ekonomi tiga kampung seolah terputus dari dunia luar. Jalur vital yang biasanya dilalui truk-truk pengangkut durian kini rata dengan tanah.

Realitas pahit ini disuarakan oleh influencer dan aktivis kemanusiaan, Sherly Annavita. Melalui lensa kameranya, ia memperlihatkan sisi lain dari durian yang kita nikmati di meja makan.

"Warga harus menuruni tebing curam dan melewati jalur darurat yang minim pengamanan, hanya agar hasil panen tidak membusuk di kampung," tulis Sherly dalam unggahan medianya.

Meniti Maut di Atas Jurang

Salah satu sosok yang menjadi simbol keteguhan hati di sana adalah pria yang biasa dipanggil Bule. Seorang kuli panggul bertubuh kecil, tak seperti nama panggilannya. Si Bule ini  harus melawan derasnya hujan.

Ia berkali-kali menyeberangi Sungai Krueng Peusangan hanya bermodalkan kabel baja dan topangan bambu yang rapuh.

Di bawah kakinya, jurang sedalam puluhan meter siap menerkam jika ia sedikit saja kehilangan keseimbangan. Sayangnya, ini bukan sekadar ketakutan kosong; jalur maut ini dikabarkan telah memakan korban jiwa.

Setiap buah durian dipikul melewati medan ekstrem dengan ongkos panggul sekitar Rp2.000 per buah. Perjalanan belum selesai sampai di situ.

Durian-durian ini kemudian harus diangkut lagi menggunakan sepeda motor (dilangsir) melewati tebing terjal dengan biaya mencapai Rp150.000 per perjalanan.

Harga yang Tergerus Medan Terjal

Ironisnya, meski risiko yang diambil sangat besar, kantong para petani justru semakin tipis. Akibat melonjaknya ongkos angkut darurat, para petani hanya mampu mengantongi 25 hingga 50 persen dari harga normal.

Keuntungan mereka habis "dimakan" oleh medan yang sulit. Di saat konsumen di kota menikmati kelezatan Durian Ketol, para petani di Bergang harus puas dengan sisa-sisa hasil jerih payah yang nyaris tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Hingga saat ini, warga hanya bisa berharap adanya perbaikan akses infrastruktur yang permanen. Tanpa jembatan yang layak, Durian ketol yang legendaris itu bukan lagi menjadi berkah, melainkan beban berat yang harus dipikul di atas jurang kematian.[*]

Editor : Hari Puspita
#pascabencana #bencana alam #aceh #durian