RADAR BALI - Rencana penutupan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung yang dijadwalkan pada 1 Maret 2026 menuai atensi serius dari pemerintah pusat.
Menanggapi kondisi di lapangan yang belum sepenuhnya siap, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka berencana membawa persoalan ini ke tingkat kementerian untuk dikaji ulang.
"Minggu depan akan kita bahas di istana bersama menteri lingkungan hidup dan menteri ESDM," kata Gibran saat bertemu 74 pelaku industri pariwisata Bali di Poltekpar Jimbaran pada Jumat (13/2).
Beberapa isu yang disampaikan para pelaku usaha pariwisata kepada Wakil Presiden Gibran di antaranya pengembangan infrastruktur dan destinasi di 10 destinasi prioritas; peningkatan keselamatan wisata dengan pelatihan dan identifikasi kompetensi; perizinan, hingga penanganan sampah.
Gubernur Bali I Wayan Koster menyampaikan langsung kepada Wakil Presiden bahwa target penutupan dalam 15 hari ke depan sulit direalisasikan.
Menurut Koster, kondisi di Denpasar dan Badung saat ini belum memungkinkan untuk penghentian total operasional pembuangan sampah sebesar 1.200 ton per hari.
Persoalan utama terletak pada kesiapan teknologi pengolahan sampah menjadi energi (waste to energy). Danantara berencana membangun fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Denpasar yang mampu menyelesaikan persoalan sampah secara permanen. Meski demikian, proyek tersebut baru akan selesai dua tahun setelah pembangunan pada Maret 2026.
Pemkab Badung juga berencana membangun fasilitas pengolahan sampah senilai Rp 330 miliar berbasis desa yang ditargetkan rampung sepenuhnya pada pertengahan November 2026.
"Baru bisa diselesaikan kira-kira prosesnya pertengahan November 2026 ini. Kalau itu sudah selesai, maka volume sampah di TPA Suwung bisa dinolkan," ujar Koster.
Desakan penundaan penutupan TPA Suwung juga datang dari pelaku industri. Asosiasi Perjalanan Wisata (ASITA) Bali telah menyampaikan petisi penolakan penutupan TPA Suwung sebelum adanya solusi permanen pada Wapres Gibran.
Mereka khawatir tumpukan sampah yang tidak terkelola akan merusak citra Bali sebagai destinasi wisata dunia.
Menanggapi aspirasi tersebut, Gibran menegaskan bahwa Bali memiliki peran strategis sebagai wajah Indonesia, mengingat hampir 45 persen dari 15 juta wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia masuk melalui pulau tersebut.
"Jadi, Bali ini adalah wajah Indonesia. Bali ini adalah kesan pertama Wisman saat tiba di Indonesia. Ini harus kita jaga baik-baik," kata Wapres Gibran.
Wapres Gibran juga menekankan pentingnya menjaga momentum kunjungan wisatawan pada Kuartal I 2026. Ia menyoroti rentetan hari libur panjang, mulai dari Nataru, Imlek, hingga menjelang Lebaran dan libur sekolah, sebagai momentum emas yang harus dijaga.
Sebagai langkah awal, Pemerintah Provinsi Bali beserta Bupati Badung dan pihak terkait dijadwalkan bertemu langsung dengan Menteri Lingkungan Hidup pada 16 Februari.
Pertemuan tersebut bertujuan untuk melaporkan progres penanganan sampah di hulu serta mengusulkan skema penutupan bertahap.
Salah satu opsi yang ditawarkan adalah pengurangan jumlah truk sampah yang masuk ke TPA secara perlahan, sembari menunggu fasilitas pengolahan lokal beroperasi secara optimal hingga target penyelesaian di akhir tahun 2026.***
Editor : Ibnu Yunianto