Cucu Pendiri NU hingga Gus Yahya Masuk Bursa Ketum di Muktamar Nahdlatul Ulama 2026 Jombang

Dhian Harnia Patrawati • Dipublikasikan Minggu, 19 Juli 2026 | 21:06 WIB
Ilustrasi - Gus Salam, Gus Rozin, dan Gus Kikin. Ketiga keturunan pendiri Nahdlatul Ulama ini dikabarkan bakal menantang Gus Yahya yang berambisi menjabat untuk periode kedua di Muktamar NU 2026 di Ponpes Tambak Beras, Jombang, Jatim.
Ilustrasi - Gus Salam, Gus Rozin, dan Gus Kikin. Ketiga keturunan pendiri Nahdlatul Ulama ini dikabarkan bakal menantang Gus Yahya yang berambisi menjabat untuk periode kedua di Muktamar NU 2026 di Ponpes Tambak Beras, Jombang, Jatim.

 

RADAR BALI - Panggung tertinggi kaum Nahdliyin bersiap digelar. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) secara resmi telah menetapkan bahwa Muktamar ke-35 NU akan berlangsung selama lima hari, tepatnya pada 27–31 Agustus 2026. Momentum ini menjadi begitu bersejarah karena menandai langkah awal organisasi dalam mengarungi perjalanan abad keduanya.

Menariknya, forum tertinggi ini diputuskan digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Keputusan menunjuk Tambakberas dinilai banyak pihak sebagai jalan tengah sekaligus upaya spiritual untuk mengembalikan ruh muktamar ke akar asalnya: pesantren dan kiai.

Jombang, yang dikenal sebagai rahim tempat berdirinya Nahdlatul Ulama, kembali bersiap menjadi saksi sejarah penentu arah masa depan jam'iyah.

Seiring dengan semakin dekatnya waktu pelaksanaan, tensi kontestasi pemilihan kepemimpinan baru PBNU periode 2026–2031 pun mulai menghangat. Sejumlah nama tokoh kiai, pengasuh pesantren, hingga pejabat publik kini telah mengemuka dan masuk dalam radar bursa pencalonan ketua umum.

Di barisan terdepan, petahana KH Yahya Cholil Staquf atau yang akrab disapa Gus Yahya secara resmi telah mendeklarasikan kesiapannya untuk kembali maju membidik periode kedua.  Gus Yahya menegaskan niatnya untuk menuntaskan berbagai program strategis serta utang organisasi yang telah ia rancang sejak periode pertama, termasuk percepatan sistem manajemen digital di internal NU.

Namun, langkah petahana dipastikan tidak akan melenggang sendirian. Tantangan kuat datang dari jalur kultural dan pesantren tradisional yang diwakili oleh KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam.

Pondok Pesantren Mambaul Ma'arif Denanyar Jombang ini telah menyatakan diri siap bertarung di tanah kelahirannya sendiri. Selain itu, Pengasuh Ponpes Tebuireng sekaligus Ketua PWNU Jawa Timur KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), dikabarkan juga mendapatkan dukungan untuk menjadi ketua umum PBNU. 

Majunya Gus Salam dan Gus Kikin ini menarik karena keduanya adalah cucu pendiri Nahdlatul Ulama. Gus Salam adalah cucu dari pendiri NU KH Bisri Syansuri, sedangkan Gus Kikin adalah cucu Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari dari jalur ibu. 

Selain Gus Salam dan Gus Kikin, gelombang dukungan dari daerah-daerah juga mulai mengkristal ke figur lain. Dari Jawa Tengah, pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo Magelang, KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), mendapatkan sokongan kuat setelah 22 Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) di wilayahnya secara resmi meminta beliau untuk maju. 

Satu lagi nama cucu pendiri NU yang bakal maju adalah Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah, KH Abdul Ghaffar Rozin alias Gus Rozin. Putra KH MA Sahal Mahfudh ini adalah cicit KH Ma’shum (Lasem) dari jalur ibu. 

Dinamika bursa kepemimpinan ini kian menarik dengan munculnya nama-nama besar lain yang diperhitungkan oleh warga Nahdliyin, seperti Menteri Agama RI yang juga Wakil Rais Syuriyah PBNU Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, hingga Wakil Ketua Umum PBNU saat ini, KH Zulfa Mustofa.

Di tengah memanasnya bursa calon ketum, marwah independensi organisasi tetap menjadi prioritas utama. Sekjen PBNU Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menegaskan bahwa presiden Indonesia, Prabowo Subianto, menghormati penuh kemandirian organisasi dan memastikan tidak akan ada intervensi dari pihak luar dalam proses musyawarah para muktamirin.

Muktamar ke-35 NU ini nantinya tidak hanya sekadar menjadi panggung kontestasi politik internal, tetapi juga menjadi tempat bagi para kiai untuk memfinalisasi keputusan strategis dari Munas Alim Ulama dan Konbes NU Kediri.

Berbagai agenda krusial mulai dari perumusan hukum Islam kontemporer (Bahtsul Masail) terkait etika teknologi digital dan perubahan iklim, transformasi digital administrasi, hingga penguatan kemandirian ekonomi umat berbasis pesantren akan disahkan di sini.

Saat ini, persiapan infrastruktur utama di Ponpes Tambakberas dilaporkan sudah hampir rampung. Area parkir, lokasi sidang, hingga pusat bazar terus dikebut. Panitia juga telah menyiapkan 6 titik penginapan siap pakai untuk menampung ribuan utusan PWNU dan PCNU dari seluruh penjuru Indonesia.

Melalui koordinasi erat antara Gus Ipul dan tokoh masyarakat Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di Gedung Grahadi, manajemen transportasi serta pengamanan berlapis telah dimatangkan demi menyambut kembalinya para kiai ke akar pesantren di akhir Agustus mendatang.***

Editor : Ibnu Yunianto
Sumber : Radar Bali
Cucu Pendiri NU Muktamar NU Jombang gus yahya Muktamar NU 2026 Ketua Umum PBNU