Oleh: Sudiarta Indrajaya, Ketua Umum Yayasan Empu Astapaka/Ketua Dewan Kepanditaan Daerah Magabudhi Bali
Pengendalian diri, di Buddhis memang diajarkan the way of life. Paling tidaknya, mengenal siapa diri kita, itu secara umum. Tetapi, bagaimana diajarkan Buddha, pengendalian diri umat Buddha itu adalah sila atau moralitas. Jadi ada lima dasar moralitas yang didasari oleh dua pelindung.
YANG pertama, Hiri. Yaitu, malu berbuat jahat. Kedua, Ottapa, yakni, takut akibat perbuatan jahat. Karena paham dan yakin akan hukum karma, Karma Phala.
Hanya dua cara mengendalikan diri. Miliki rasa malu, kemudian bangun rasa takut dengan akibat Karma Phala itu. Itulah menurut saya yang diajarkan di Buddha, terkait bagaimana caranya mengendalikan diri.
Bangunlah malu berbuat jahat dan perkuat rasa takut perbuatan buruk, karena kita kenal Samsara. Jadi tidak usah terlalu jauh-jauh kalau ingin mengendalikan diri, pakai ilmu orang Bali kuno. Ngelah rasa lek dan hukum karma, itu menurut saya.
Malu berbuat jahat itu luas. Harus ada jelas definisi malu berbuat jahat itu. Apa sih yang disebut jahat? Yang merugikan diri kita sendiri.
Terkait perdamaian, damaikan hati kita dulu. Semaikan damai itu, di dalam diri setiap orang, mulai dari diri sendiri. Perdamaian itu mulai dari dalam diri dan Buddha mengajarkan landasan perdamaian adalah cinta kasih.
Kebencian tidak akan berakhir, jika dibalas dengan kebencian, tapi kebencian akan berakhir jika dibalas dengan cinta kasih atau tidak membenci. Terdapat dalam Dhammapada Ayat 5.
’’Semoga semua makhluk berbahagia!.’’ Jadi, lakukanlah kebaikan. Karena kita mengerti, semua makhluk menginginkan kehidupannya sendiri, mencintai kehidupannya sendiri. Semua ingin damai. Semut, burung, cicak, semuanya kan dia mencintai kehidupan. Dia kan tidak ingin menderita. Dia tidak ingin bersedih. Janganlah menyakiti!.
Jadi, dimulai menyucikan batin pikiran kita dengan apa? Mengembangkan cinta kasih. Apa itu cinta kasih? Cinta tanpa batas. Kekuatan cinta kasih tanpa batas (Metta), sebagai landasan untuk perdamaian dunia.
Jadi, untuk menciptakan perdamaian dunia, mulai dari dalam diri sendiri. Dengan tidak membenci, tidak menyakiti.
Ciptakanlah hidup yang damai, harmonis, menyama braya. Itulah yang disebut perdamaian. Pancasila kita hebat, kok. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Kalau ngomong perdamaian dunia, itu dia. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.
Damai itu, tidak bisa kalau tidak adil. Makanya, harus ada keadilan dan harus beradab. Orang beradab itu tidak menyakiti, saling menghormati, saling mendoakan, saling membantu, tidak membunuh, tidak membuat orang lain menderita. Itulah namanya perdamaian.
Damai itu adalah menyayangi. Damai itu adalah mencintai. Damai itu adalah melindungi. Damai itu, menghormati perbedaan. Karena mengerti hukum karma.
Itulah perdamaian. Kalau di Buddha, dengan mengembangkan cinta kasih. Meditasinya, cinta kasih dan tidak membenci. Karena kebencian tidak berakhir, jika dibalas dengan kebencian. Itu sabda Sang Buddha. [*]
Editor : Hari Puspita