Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Menjelang Pelantikan KAHMI Sukabumi – Ketegangan Antara Ambisi dan Keharmonisan

Siti Patimah • Senin, 22 September 2025 | 23:20 WIB
Menjelang Pelantikan KAHMI Sukabumi – Ketegangan Antara Ambisi dan Keharmonisan
Menjelang Pelantikan KAHMI Sukabumi – Ketegangan Antara Ambisi dan Keharmonisan

radarbali.jawapos.com- Menjelang pelantikan kepengurusan KAHMI Sukabumi, kita dihadapkan pada sebuah dinamika politik dan sosial yang cukup menarik untuk dianalisis. Seiring dengan semakin dekatnya proses pelantikan, ketegangan antar-kelompok dalam tubuh organisasi ini semakin terasa.

Secara tersirat, ketegangan yang muncul dapat digambarkan sebagai pertempuran antara "raja besar" yang berusaha menguasai segala hal dan "raja kecil" yang berusaha untuk mempertahankan nilai-nilai kolektif dan menjaga keharmonisan yang telah terjalin lama dalam organisasi. Dalam konteks ini, tidak hanya sekadar persoalan siapa yang akan memimpin, tetapi lebih dalam lagi, apakah organisasi ini masih mampu mempertahankan integritas dan idealisme yang selama ini menjadi fondasi perjuangan KAHMI.

Kelompok yang bisa dipandang sebagai “raja besar” dalam KAHMI Sukabumi adalah mereka yang memiliki pengaruh besar baik dalam aspek politik maupun sosial. Kelompok ini umumnya memiliki akses yang lebih luas terhadap sumber daya, baik dari segi finansial, jaringan, maupun kekuatan politis yang mereka miliki.

Dalam beberapa kasus, keinginan untuk mendominasi seringkali menyingkirkan prinsip-prinsip dasar yang menjadi landasan organisasi. Mereka cenderung mengutamakan kontrol yang lebih besar atas setiap keputusan yang diambil, yang berpotensi merusak tatanan yang telah ada sebelumnya.


Fenomena ini tidak hanya terjadi di KAHMI Sukabumi, tetapi seringkali terlihat dalam organisasi-organisasi besar lainnya. Dalam banyak kasus, kelompok dengan kekuatan besar ini justru menganggap dirinya sebagai pemegang otoritas mutlak, yang akhirnya berujung pada dominasi. Namun, pendekatan seperti ini, jika tidak dikelola dengan bijak, dapat menimbulkan ketidakstabilan dalam tubuh organisasi. Ketika dominasi menjadi tujuan utama, keberagaman pendapat dan aspirasi yang seharusnya menjadi kekuatan utama dalam organisasi justru dikesampingkan.


Pendekatan semacam ini mengarah pada perpecahan internal, di mana pihak-pihak yang merasa terpinggirkan bisa merasa tidak memiliki ruang untuk berkembang, bahkan untuk berpartisipasi secara aktif dalam proses pengambilan keputusan. Secara kritis, ini adalah bentuk dari kekuasaan yang destruktif, yang lebih mementingkan kekuatan eksternal daripada mempertahankan nilai-nilai kolektif yang telah dibangun oleh organisasi. Jika ketegangan ini tidak dikelola dengan bijaksana, maka bukan tidak mungkin KAHMI Sukabumi akan kehilangan arah, tergelincir jauh dari tujuan utamanya sebagai wadah kaderisasi pemimpin bangsa.


Di sisi lain, terdapat kelompok-kelompok yang lebih kecil, meskipun tidak memiliki kekuatan sebesar "raja besar", namun mereka berjuang untuk mempertahankan nilai-nilai kolektif yang selama ini menjadi dasar perjuangan KAHMI. Mereka lebih mengedepankan prinsip kesetaraan, transparansi, dan partisipasi yang lebih luas dari setiap anggota. Kelompok ini, meskipun terbatas dalam hal kekuatan eksternal dan jaringan, memiliki peran yang tidak kalah penting dalam menjaga keharmonisan dalam tubuh organisasi.


Kelompok ini cenderung menentang pola pikir yang lebih mengutamakan kekuasaan dan kontrol tanpa melihat kebutuhan dan aspirasi dari seluruh anggota. Mereka berusaha menjaga keseimbangan dalam organisasi dengan menekankan pentingnya musyawarah, kolaborasi, dan kesetaraan dalam setiap proses pengambilan keputusan. Dalam pandangan mereka, pemimpin sejati bukanlah yang mampu mengendalikan segala hal, tetapi yang mampu merangkul setiap anggota dan menjaga keberagaman serta keseimbangan dalam organisasi.


Namun, meskipun kelompok-kelompok ini memiliki nilai-nilai luhur yang seharusnya menjadi landasan dalam berorganisasi, mereka seringkali terpinggirkan oleh kelompok dengan kekuasaan lebih besar yang merasa bahwa kendali total atas organisasi akan membawa stabilitas yang lebih besar. Padahal, kenyataannya justru sebaliknya. Tanpa partisipasi aktif dari semua pihak, sebuah organisasi tidak akan mampu berkembang secara sehat. Keharmonisan, yang seharusnya menjadi kekuatan utama, malah akan terkikis habis oleh ambisi kekuasaan yang hanya menguntungkan segelintir pihak.


Pelantikan kepengurusan KAHMI Sukabumi yang akan datang bukan hanya menjadi momentum bagi pengurus yang baru terpilih, tetapi juga ujian bagi organisasi ini untuk memastikan bahwa mereka tetap berpegang pada nilai-nilai yang telah dibangun. Proses ini harus menjadi refleksi bersama tentang bagaimana KAHMI dapat mengelola perbedaan, baik perbedaan ideologi, strategi, maupun pendekatan, tanpa mengorbankan integritas organisasi.


Jika ketegangan antara "raja besar" dan "raja kecil" ini tidak dikelola dengan bijaksana, maka bukan hanya kepengurusan yang baru yang akan terancam, tetapi juga masa depan organisasi itu sendiri. KAHMI harus mampu memastikan bahwa setiap proses pengambilan keputusan dilakukan dengan semangat kebersamaan dan kolaborasi, bukan dengan memaksakan kehendak kelompok tertentu. Jika pelantikan kali ini menjadi ajang untuk mempertahankan ambisi dan kekuasaan semata, maka KAHMI Sukabumi akan kehilangan jati diri dan tujuan utamanya sebagai organisasi yang berperan dalam mencetak kader pemimpin bangsa yang berintegritas dan mampu membawa perubahan positif.


Dari perspektif akademik, penting untuk diingat bahwa KAHMI bukan hanya soal pengurus dan kekuasaan semata, tetapi lebih jauh lagi tentang bagaimana organisasi ini dapat berfungsi sebagai wahana untuk mencetak generasi yang berintelektual, berintegritas, dan memiliki komitmen terhadap nilai-nilai keislaman yang universal. Dalam konteks ini, pelantikan yang akan datang harus menjadi momen bagi KAHMI Sukabumi untuk memperkuat fondasi kolektivitas dan idealisme.


Oleh karena itu, harapan besar kami adalah bahwa pelantikan ini tidak hanya melahirkan pengurus yang kompeten dalam bidangnya, tetapi juga pengurus yang mampu menjaga keharmonisan internal, menghargai keberagaman pandangan, dan merangkul setiap elemen dalam organisasi untuk bersama-sama membangun KAHMI yang lebih baik. KAHMI Sukabumi seharusnya menjadi ruang yang inklusif, tempat di mana setiap kader dapat tumbuh dan berkontribusi tanpa merasa terpinggirkan, tanpa ada dominasi yang merusak tatanan yang ada.
Akhirnya, pelantikan ini harus menjadi simbol komitmen untuk menjadikan KAHMI sebagai wadah yang memperjuangkan nilai-nilai luhur, bukan sebagai medan pertempuran untuk mempertahankan kekuasaan semata. Dengan demikian, KAHMI Sukabumi dapat melanjutkan perjuangannya dalam mencetak pemimpin-pemimpin bangsa yang cerdas, berakhlak mulia, dan mampu menghadapi tantangan zaman dengan bijaksana.

Editor : Siti Patimah
#sukabumi #HMI #pelantikan