Oleh: Nur Hadiyani Liza Putri
Ketua Umum KOHATI Singaraja
PENDIDIKAN di Indonesia selama ini acap diposisikan sebagai simbol kemajuan bangsa, tetapi jika ditelaah lebih dalam, realitasnya masih menunjukkan kesenjangan antara capaian administratif dan kualitas substansial.
Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan adanya peningkatan dalam angka partisipasi sekolah dan tingkat melek huruf sebagai indikator pembangunan pendidikan nasional.
Namun, peningkatan ini belum sepenuhnya mencerminkan kualitas pembelajaran yang sesungguhnya, karena berbagai studi internasional seperti Programme for International Student Assessment masih menempatkan kemampuan literasi dan numerasi siswa Indonesia pada tingkat yang relatif rendah dibandingkan negara lain.
Hal ini menandakan bahwa pendidikan kita masih berorientasi pada akses, bukan pada kedalaman kualitas (BPS; OECD/PISA).
Ketika melihat lebih spesifik ke daerah, Kabupaten Buleleng menjadi contoh nyata bagaimana persoalan pendidikan tidak hanya soal kualitas, tetapi juga menyentuh aspek paling mendasar, yaitu literasi.
Kasus ratusan siswa SMP yang belum mampu membaca dengan baik menjadi alarm serius bagi sistem pendidikan kita. Fenomena ini dilaporkan oleh Kompas yang mengungkap bahwa lebih dari 400 siswa mengalami kesulitan membaca, yang sebagian besar dipengaruhi oleh lemahnya fondasi pendidikan dasar dan dampak pembelajaran selama pandemi (Kompas, 2025). Kondisi ini menunjukkan bahwa proses pendidikan tidak berjalan secara utuh dan berkelanjutan.
Lebih jauh lagi, struktur pendidikan masyarakat di Buleleng juga menunjukkan ketimpangan yang signifikan. Data dari Katadata melalui Databoks mencatat bahwa sekitar 33,3% penduduk belum atau tidak pernah mengenyam pendidikan, sementara hanya sekitar 5,54% yang mencapai jenjang perguruan tinggi.
Angka ini memperlihatkan bahwa pendidikan belum menjadi arus utama dalam pembangunan sumber daya manusia di daerah tersebut, meskipun secara infrastruktur jumlah sekolah tergolong memadai menurut data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Artinya, persoalan utama bukan pada ketersediaan fasilitas, tetapi pada efektivitas sistem pendidikan itu sendiri (Katadata; Kemendikdasmen).
Jika ditarik lebih luas, akar permasalahan pendidikan di Indonesia, termasuk di Buleleng, terletak pada beberapa faktor yang saling berkaitan.
Krisis literasi dasar menjadi indikator utama kegagalan sistem pendidikan di tingkat awal. Selain itu, dampak pandemi COVID-19 memperparah kondisi melalui fenomena learning loss, di mana banyak siswa mengalami penurunan kemampuan belajar tetapi tetap naik jenjang tanpa kompetensi yang memadai.
Ditambah lagi, sistem pendidikan yang masih berorientasi pada nilai akademik semata membuat siswa kehilangan ruang untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan keterampilan hidup yang esensial (Kompas; berbagai laporan pendidikan nasional).
Dalam konteks ini, solusi yang dibutuhkan bukan sekadar perbaikan parsial, melainkan transformasi menuju pendidikan yang seutuhnya. Pendidikan harus kembali pada esensinya, yaitu membentuk manusia yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, kemampuan berpikir kritis, dan keterampilan adaptif.
Upaya ini dapat dimulai dengan memperkuat literasi dan numerasi dasar sejak dini, mereformasi metode pembelajaran menjadi lebih kontekstual, serta meningkatkan kualitas dan peran guru sebagai fasilitator pembelajaran.
Selain itu, kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat menjadi kunci dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang berkelanjutan (Kemendikbud; kajian pendidikan).
Pada akhirnya, pendidikan bukan sekadar sarana untuk memperoleh pekerjaan, tetapi merupakan fondasi utama dalam membentuk masa depan individu dan bangsa.
Ketika masih ada siswa yang belum mampu membaca di jenjang pendidikan menengah, maka hal tersebut bukan hanya kegagalan individu, melainkan cerminan dari sistem yang perlu dibenahi secara menyeluruh.
Sebaliknya, jika pendidikan mampu dijalankan secara utuh menggabungkan ilmu pengetahuan, karakter, dan keterampilan maka pendidikan akan menjadi kekuatan transformasi yang mampu mengubah arah masa depan Indonesia menjadi lebih baik.***
Editor : M.Ridwan