RADAR BALI - Tren otomotif roda dua di Indonesia sedang mengalami gelombang nostalgia yang luar biasa.
Motor bebek lawas yang dulunya dianggap sebagai kendaraan harian biasa untuk ke pasar atau ke sekolah, kini naik kelas menjadi barang harian yang modis bahkan aset investasi.
Di gardan terdepan tren ini, nama keluarga Honda Astrea berdiri paling mentereng. Diproduksi oleh Federal Motor (sekarang PT Astra Honda Motor), lini Astrea dikenal memiliki mesin berkode C100 yang luar biasa bandel, irit bahan bakar, dan memiliki posisi berkendara yang sangat ergonomis.
Dari sekian banyak generasi yang pernah mengaspal di tanah air, berikut adalah jenis-jenis Honda Astrea yang paling digandrungi dan dicari di pasar motor bekas saat ini.
Honda Astrea Grand "Bulus" (1991–1992)
Di antara seluruh keluarga Astrea, varian inilah yang bisa dibilang menempati kasta tertinggi dalam urusan perburuan kolektor saat ini.
Diluncurkan pertama kali pada tahun 1991 sebagai penerus Astrea Prima, generasi awal Astrea Grand ini mendapatkan julukan unik "Grand Bulus" atau "Pantat Monyet."
Desain lampu belakangnya rata dan membulat tanpa adanya ducktail (topi tambahan), menyerupai tempurung kura-kura bulus.
Tampilannya dinilai paling murni (pure) dan memiliki kesan klasik yang sangat kental dibanding versi penyegarannya.
Unit orisinal atau hasil restorasi total dengan komponen asli dari varian ini harganya bisa melambung tinggi, mulai dari belasan hingga puluhan juta rupiah.
Honda Astrea Prima (1988–1990)
Sebelum era bodi ramping dimulai oleh Grand, Astrea Prima adalah penguasa jalanan di akhir era 80-an hingga awal 90-an.
Motor ini menjadi tonggak penting karena menjadi varian Astrea pertama yang mengadopsi suspensi depan teleskopik, meninggalkan model leading link yang jadul.
Desain bodinya cenderung kotak, kaku, namun terlihat sangat kokoh. Ciri paling ikonik adalah sayap depan berwarna putih bersih yang kontras dengan warna bodi utamanya.
Untuk versi rakitan Jepang (CBU) yang masuk pada tahun 1988, sistem starter-nya bahkan masih menggunakan engkol.
Desain kotaknya yang timeless memberikan nuansa retro era 80-an yang sangat kuat. Anak muda perkotaan kerap memburu Astrea Prima untuk dijadikan motor komuter harian bergaya vintage.
Honda Astrea Star (1985–1986)
Bagi pencinta motor klasik yang menginginkan tampilan yang jauh lebih unik dan langka di jalanan, Astrea Star adalah jawabannya. Motor ini hadir sebagai suksesor dari Honda C800.
Mesinnya masih berkapasitas 86 cc dengan transmisi 3-percepatan. Desainnya mulai bertransisi dari model kotak kaku ke arah yang sedikit melengkung, namun masih mempertahankan suspensi depan model lama yang khas.
Kelangkaannya di jalanan membuat Astrea Star memiliki nilai eksklusivitas tersendiri. Menunggangi Astrea Star dalam kondisi mulus di tengah kota memberikan kebanggaan tersendiri bagi pemiliknya.
Honda Astrea Legenda 1 & 2 (2001–2003)
Jika varian-varian di atas harganya sudah sulit dijangkau untuk sekadar motor harian, Astrea Legenda muncul sebagai opsi terbaik bagi para pemula yang baru terjun ke dunia motor bebek klasik.
Merupakan versi modern atau facelift terakhir dari platform Astrea Grand/Impressa. Desain sayapnya berwarna putih dengan lampu sein mini yang memberikan kesan ramping dan elegan.
Harganya di pasar motor bekas masih relatif ramah di kantong dibandingkan varian Grand Bulus atau Prima.
Selain itu, karena tahun produksinya jauh lebih muda, kondisi sasis dan mesinnya umumnya masih lebih segar dan komponen aftermarket-nya melimpah, menjadikannya bahan favorit untuk dimodifikasi atau direstorasi tipis-tipis.
Melonjaknya popularitas Honda Astrea belakangan ini tidak lepas dari menjamurnya kultur restorasi di Indonesia. Motor ini bukan lagi sekadar alat transportasi murah, melainkan simbol gaya hidup dan pengingat nostalgia masa lalu.
Didukung oleh konsumsi bensin yang super irit (bisa menembus 55-60 km/liter) serta mesin yang sangat mudah dirawat oleh montir di bengkel mana pun, tidak heran jika keluarga Astrea tetap kokoh berdiri menembus batas zaman.***
Editor : Ibnu Yunianto