Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Jadi Desa Wisata, Desa Kamasan Fokus Garap Budaya

Donny Tabelak • Minggu, 8 Oktober 2017 | 18:45 WIB
jadi-desa-wisata-desa-kamasan-fokus-garap-budaya
jadi-desa-wisata-desa-kamasan-fokus-garap-budaya

RadarBali.com - Desa Kamasan, Klungkung adalah satu desa yang akan di launching Pemerintah Kabupaten Klungkung sebagai Desa Wisata.


Berbagai fasilitas pun sudah mulai dilengkapi, seperti tempat menginap, atraksi seni dan pertunjukan. Meski demikian, masih ada berbagai kendala yang menghadapi Desa Kamasan.


Perbekel Kamasan Ida Bagus Ketut Danendra mengatakan, Desa Kamasan terus melakukan penataan untuk bisa menunjang industri pariwisata.


Pembangunan dan perbaikan pun terus dilakukan untuk hal ini, sehingga Desa Kamasan layak untuk menjadi salah satu desa yang patut dikunjungi wisatawan.


 “Dibantu oleh warga, kami terus melakukan penataan,” ujarnya. Tidak hanya itu, kelestarian budaya pun menjadi perhatian pentingnya.


Karena budaya merupakan daya tarik utama desa ini untuk menggait para wisatawan agar berkunjung. Adapun yang terkenal dari desa ini adalah lukisan wayang Kamasannya.


Tak hanya itu, tarian Wayang Wong, dan tarian Ratu Gede Landung juga merupakan kebudayaan dari Desa Kamasan yang sangat menarik.


Hanya saja kedua tarian tersebut sifatnya sakral dan hanya boleh ditarikan saat Piodalan. “Untuk itu kami sudah membuat


duplikat Wayang Wong untuk bisa ditampilkan saat ada wisatawan yang ingin menyaksikan tarian ini. Biasanya kami berlatih setiap hari Sabtu dan Minggu,” katanya.


Sayangnya dari berbagai upaya yang telah dilakukan, kendala lahan parkir masih menjadi bayang-bayang desa ini.


Jika ada wisatawan yang berkunjung dengan jumlah yang besar dengan kendaraan yang banyak, otomatis desa ini tidak bisa menampung kendaraan yang mengantar wisatawan tersebut.


“Parkirannya itu lah yang belum bisa kami penuhi. Kalau parkir di jalan umum, nanti mengganggu aktivitas lalu lintas. Untuk saat ini kami memanfaatkan beberapa banjar untuk tempat parkir,” tandasnya.

Editor : Donny Tabelak