TABANAN, Radarbali.id – Minum kopi di tengah kota atau coffe shop itu sudah biasa. Bagaimana kalau minum kopinya di tengah hamparan sawah sambil menikmati udara sejuk, air mengalir, barisan pohon kelapa, dan view gunung? Ya, semua itu ada di Nyeduh Kopi.
Lokasi Nyeduh Kopi ada di Subak Piak, Desa Wangaya Gede, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan. Nyeduh Kopi juga bisa ditempuh dari Jatiluwih, lokasinya tidak terlalu jauh dari Jatiluwih.
Untuk parkir kendaraan roda empat maupun roda dua ada di tepi jalan. Di sana sudah ada bapak-bapak pecalang yang jaga. Dari lokasi parkir ke warung jalannya tidak jauh. Dalam perjalanan menuju warung, pengunjung melewati sawah yang ditanami padi beras merah.
Pokoknya tempat ini rekomendasi banget untuk kalian yang ingin libur bersama keluarga. Dari orang tua hingga balita, semua bisa. Bagi yang tidak bisa ngopi karena punya asam lambung, jangan khawatir, di sini juga ada teh jahe dan susu cokelat.
Yang bikin nagih adalah makanan dan jajanan tradisional khas Bali yang disajikan. Ada entil, laklak, jaja uli, sumping, dan aneka rebusan seperti jagung dan umbi-umbian.
Nyeduh Kopi buka saban hari, dari pukul 08.00 sampai pukul 18.00. saat cuaca hujan seperti sekarang, kalian disarankan update medsos Nyeduh Kopi.
Masalah harga jangan khawatir, sangat ramah kantong. Harga jajanan mulai dari Rp 2 ribuan, hingga makanan entil yang superlezat hanya Rp 20 ribu seporsinya.
”Ide pertama memulai usaha ini sebenarnya dadakan, mulai pertengahan 2024,” ungkap pemilik Nyeduh Kopi, I Made Sadu Wenata kepada radarbali.id, Minggu (29/12/2024).
Dijelaskan Made, sawah yang digunakan warung adalah milik orang tuanya. Sejak 2011, Made sekeluarga yang tinggal di Buahan, Kota Tabanan, setahun sekali pas malam pengerupkan Nyepi datang ke sawah yang dijadikan warung kopi sekarang.
Pada pertengahan 2024 muncul ide membuat warung karena melihat momen yang apik. Dari sawahnya bisa melihat gunung, padi, lihat sunrise, bahkan GWK yang jauh di Badung Selatan.
”Akhirnya, kami seluarga berembuk membuat warung kopi di tengah sawah,” tutur pria 29 tahun itu.
Made dan keluarga akhirnya mulai menata lahan dan mendirikan warung pada Juni 2024. Konsep yang ditawarkan pun sangat sederhana, yaitu menikmati kopi di tengah sawah.
Awalnya, di atas lahan 12 are itu, Made hanya ingin berjualan berdua bersama istrinya. Namun, saat opening warung, sambutan dari pengunjung luar biasa.
”Pas opening ada seribu orang yang datang, kami sampai kewalahan karena di luar dugaan kami,” tukas alumnus SMA TP45 Tabanan itu.
Nyeduh Kopi berdiri di antara Banjar Amplas dan Bengkel, Desa Wangaya Gede. Menurut Made, pihak desa sangat mendukung usahanya. Karena itu, ia berusaha memberikan kontribusi pada masyarakat setempat. Di antaranya karyawan yang dikerjakan adalah tenaga lokal. Selain itu, jajan yang dijual juga sebagian dibuat dari warga desa.
”Kami berusaha semua sektor terlibat kerja sama. Kami berusaha mencakup semua wilayah di Wangaya Gede agar kami bisa memberikan kontribusi,” tukasnya.
Rata-rata jumlah pengunjung per hari 150 orang. Jika akhir pekan bisa lebih. Menurut Made, banyak tantangan dan kendala yang harus dihadapi agar tetap eksis. Salah satunya cuaca.
”Kadang jajan yang disiapkan banyak, tapi karena hujan ternyata sepi, akhirnya banyak sisa dan tidak bisa diolah lagi,” ungkapnya.
Made mengaku tidak berani jor-joran soal jumlah jajan. Untuk menyiasatinya, Made membagi jenis jajan menjadi tiga sesi. Sesi pagi tersedia entil, jaja uli, dan sejenisnya. Saat siang hari ada laklak dan sejenisnya. Sementara saat sore ada jagung rebus, kacang rebus, dan sejenisnya.
Selain itu, ia juga harus memerhatikan kalender. Saat rainan tiba, jumlah pegunjung sepi. Sebaliknya, saat libur atau momen tertentu, jumlah pengunjung biasanya membeludak.
Made mengaku berusaha tidak mengecewakan tamunya. Ketika weekend, ia biasanya membuat waiting list melalui nomor antrean agar tidak saling serobot.
Editor : Maulana Sandijaya