TABANAN, Radar Bali.id – Aksi protes yang dilakukan oleh sejumlah petani di Subak Jatiluwih, Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Tabanan, dengan memasang seng di lahan pertanian mereka, telah memicu dampak serius terhadap tingkat kunjungan wisata di kawasan Warisan Budaya Dunia (WBD) tersebut.
Pembatalan kunjungan, khususnya dari wisatawan mancanegara yang dominan tertarik pada keindahan terasering sawah, mulai terasa signifikan.
Manajer Operasional DTW Jatiluwih, I Ketut Jhon Purna, mengungkapkan bahwa sejak aksi protes dan pemasangan seng pada Selasa pekan lalu (2/12), pihaknya telah menerima konfirmasi pembatalan kunjungan dari sejumlah travel agent.
"Para tamu dan travel sudah berpikir bahwa kondisi di Jatiluwih tidak aman. Tidak dalam kondisi baik-baik saja. Sehingga pembatalan kunjungan wisata dilakukan," ungkap Jhon Purna pada Selasa (9/12/2025).
Citra Jatiluwih Terancam Rusak
Jhon Purna menilai bahwa pemasangan seng oleh para petani telah mencoreng citra pariwisata Jatiluwih yang selama ini dikenal sebagai tempat yang aman, sejuk, tenang, dan layak sebagai tempat menenangkan diri. Pembatalan kunjungan ini otomatis membuat wisatawan mengalihkan tujuan mereka ke destinasi lain yang dianggap lebih aman dan nyaman.
Dampak dari polemik ini langsung terlihat pada statistik kunjungan. Jhon Purna menyebut terjadi penurunan drastis hingga 20 persen setiap harinya.
- Normal (Low Season): Rata-rata 700 orang per hari.
- Setelah Polemik: Turun 150-200 orang per hari.
"Biasanya kunjungan wisata saat low season dengan rata-rata 700 orang per hari. Tapi penurunannya mencapai 150-200 orang setiap hari sejak terjadi polemik di Jatiluwih," bebernya.
Desak Penyelesaian dan Imbau Petani
Dalam kesempatan tersebut, Jhon Purna berharap masalah yang melanda Jatiluwih dapat segera diselesaikan untuk memulihkan citra pariwisata. Pihaknya juga mengimbau agar petani tidak mudah terprovokasi, terutama dengan berkembangnya isu liar yang mulai mengaitkan masalah ini dengan keberadaan subak.
"Saya tidak mengerti ini masalah penutupan akomodasi pariwisata yang melakukan pelanggaran, malah isu liar yang berkembang justru kaitannya tentang subak yang ada di Jatiluwih," pungkasnya.[*]
Editor : Hari Puspita