UBUD, radarbali.jawapos.com– Di tengah gempuran pariwisata Bali yang kerap dihadapkan pada dilema antara pertumbuhan cepat dan kelestarian alam, Sanggraloka Ubud hadir sebagai narasi pembeda.
Terletak di Bresela, jantung spiritual Ubud, Sanggraloka ini bukan sekadar tempat menginap, melainkan sebuah ekosistem hidup yang membuktikan bahwa kemewahan (luxury), keberlanjutan (sustainability), dan pemberdayaan masyarakat dapat tumbuh bersama.
Sejak soft opening pada Oktober lalu, Sanggraloka Ubud telah mencatat performa awal yang mengesankan dengan okupansi rata-rata 58-62 persen, dan menargetkan peningkatan hingga 65-70 persen menjelang akhir tahun. Menariknya, strategi ini bukan dibangun di atas diskon agresif, melainkan melalui penguatan pengalaman otentik dan program wellness yang mendalam.
Bagi wisatawan modern, ketenangan dan pemulihan diri adalah mata uang baru. Sanggraloka Ubud menjawab kebutuhan ini dengan serangkaian program yang terintegrasi langsung dengan keindahan alam sekitarnya:
- Pembersihan Spiritual: Tamu dapat langsung turun ke Sungai Oos untuk mengikuti ritual Melukat (pembersihan diri secara spiritual khas Bali).
- Aktivitas Pemulihan: Sesi yoga, meditasi, dan terapi sound bath ditawarkan di tengah lanskap hijau yang menenangkan, seringkali menjadi daya tarik utama di pertengahan pekan.
- Farm-to-Table Dinner: Pengalaman kuliner yang menawarkan kedekatan dengan alam, didukung oleh produk-produk hasil kebun organik lokal.
Pendekatan ini selaras dengan tren global, terutama di Asia, yang kini menjadi tujuan utama bagi retreat dan perjalanan pemulihan diri (wellness retreat). Laporan Booking Sustainable Travel Report 2024 juga memperkuat fakta bahwa luxury traveler semakin memprioritaskan perjalanan yang memberikan dampak positif bagi komunitas lokal dan selaras dengan alam.
Keberhasilan Sanggraloka tidak hanya tercermin dari tingkat hunian, tetapi juga dari struktur pendapatannya yang unik. Ini adalah bukti bahwa pengalaman bernilai tinggi (high-value experience) dapat melampaui akomodasi semata:
- 34–38 persen revenue berasal dari sektor wellness, kuliner, dan event boutique.
- Kegiatan seperti sesi sound healing di tepi sungai, kelas memasak dengan bahan organik, hingga pernikahan intim di Anandam Chapel menjadi pilar pendapatan non-kamar.
- Pada semester I 2026, Sanggraloka menargetkan seperempat total pendapatan mereka berasal dari wellness dan event melalui kolaborasi dengan operator retreat global.
“Kami percaya bahwa pariwisata tidak harus memilih antara pertumbuhan dan keberlanjutan. Sanggraloka membuktikan bahwa bisnis yang dijalankan dengan menghormati alam dan budaya justru menciptakan loyalitas tamu, nilai ekonomi yang lebih kuat, dan hubungan jangka panjang dengan komunitas,” kata I Wayan Lanus, Direktur dan Partner Sanggraloka Ubud, di sesi Konferensi Pers Rabu, 10 Desember 2025.
Di balik citra kemewahan, Sanggraloka menjalankan komitmen lingkungan dan sosial yang terukur, sejalan dengan kerangka GSTC (Global Sustainable Tourism Council) dan prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance):
- Pengelolaan Limbah: Sampah dipilah dan diolah, dengan target pengalihan sampah dari TPA minimal 70 persen.
- Efisiensi Sumber Daya: Penggunaan air dan energi dioptimalkan melalui pengelolaan greywater dan pemanenan air hujan, dengan target penurunan intensitas energi hingga 10 persen per tahun.
- Pemberdayaan Lokal: Lebih dari 70 persen tenaga kerja berasal dari Bresela dan Payangan, yang secara terukur mendapatkan pelatihan ramah lingkungan dan berbasis budaya.
- Ekonomi Komunitas: Rantai pasok diprioritaskan dari petani, perajin, dan pemandu budaya sekitar, dengan proyeksi perputaran ekonomi lokal mencapai Rp 1,2 miliar – Rp 1,6 miliar per tahun.
Komitmen ini tidak hanya memenuhi ekspektasi pasar, tetapi juga memperkuat daya saing dan stabilitas bisnis jangka panjang. Sanggraloka Ubud hadir sebagai contoh model hospitality masa depan yang berhasil menyehatkan tanah, memberdayakan masyarakat, dan menjaga warisan budaya Bali tetap hidup, menjadikannya luxury resort pilihan terbaik di Bali yang bertumbuh tanpa melepaskan akarnya.***
Editor : M.Ridwan