DENPASAR, radarbali.jawapos.com – Wajah pariwisata Bali sepanjang tahun 2025 menampilkan dua hal yang berbeda. Kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) tembus 7 juta lebih, di lain sisi Bali justru mulai kehilangan daya pikat di mata pelancong lokal.
Penurunan tajam jumlah wisatawan nusantara (wisnus) ini memaksa Pemerintah Provinsi Bali untuk mengevaluasi secara total, terutama mengenai kemungkinan adanya pergeseran ke destinasi lain di luar Bali.
Gubernur Bali Wayan Koster mengakui perlunya pengecekkan data lebih untuk memastikan penyebab turunnya jumlah pelancong lokal ke Bali. Apakah benar-benar tidak berwisata atau berpindah tujuan.
”Tentu saya harus mengecek dulu bagaimana tiket kunjungan di daerah-daerah lain di luar Bali. Apakah yang orang tadinya ke Bali itu bergeser ke daerah lain, atau stay tidak bepergian?” ujar Koster saat ditemui usai media gathering, Minggu malam (4/1/2026).
Koster memerkirakan, Bali kini mulai terasa sulit dijangkau karena harga tiket pesawat yang melambung tinggi. Ia menyoroti keterbatasan armada maskapai yang belum beroperasi secara maksimal.
”Karena Garuda dan Citilink itu kan tidak semuanya pesawatnya beroperasi. Sedang menjalani, pas waktunya itu harus ada perawatan. Jadi tidak semua beroperasi, sehingga kesulitan penerbangan. Pesawatnya penuh terus, kekurangan memang,” imbuh Koster.
Selain persoalan ongkos, faktor ketidaknyamanan akibat cuaca ekstrem yang menyebabkan bencana banjir. Koster mengakui adanya fenomena alam yang berbeda di tahun 2025, di mana tingginya intensitas hujan memicu bencana banjir di berbagai titik.
”Nah, di samping itu kan juga ada fenomena alam yang berbeda sekarang tahun ini dengan tahun-tahun dulu. Sekarang kan hujannya tinggi dan banyak banjir. Mungkin juga ini membuat orang tidak nyaman. Sehingga mungkin beralih dia ke Bali atau ke tempat lain, atau malah tidak berwisata,” beber politisi PDI Perjuangan tersebut.
Ironisnya, di saat pasar domestik anjlok sekitar 800 ribu orang, kunjungan wisman justru meledak hingga menyentuh angka 7,05 juta orang. Capaian ini naik 11,3 persen dibanding tahun sebelumnya dan resmi melampaui rekor kunjungan tertinggi sebelum pandemi.
”Rekor ini sebelum Covid-19, tahun 2019 wisman ke Bali hanya 6,27 juta, sebelum itu lebih rendah lagi. Rupanya Bali tetap menjadi daya tarik masyarakat dunia,” tegas Koster.
Baca Juga: Kemenham Buka 500 Lowongan PPPK Mulai 7 Januari 2026, Simak Kualifikasi dan Cara Daftarnya
Di samping itu, indikator ekonomi dari sisi Pajak Hotel dan Restoran (PHR) diklaim masih menunjukkan tren peningkatan di seluruh kabupaten/kota se-Bali. Terutama di Badung, Denpasar, Gianyar dan Tabanan.
”Nah kemudian juga saya cek dengan pendapatan PHR. Pajak hotel dan restoran Kabupaten Kota Se-Bali Memang pendapatan PHR itu meningkat. Semua Kabupaten Kota mengalami peningkatan. Jadi berarti peningkatan jumlah wisman itu juga meningkatkan tingkat hunian hotel yang resmi,” jelasnya.
Hal ini juga didukung oleh kebijakan Pungutan Wisatawan Asing (PWA) yang meraup dana segar sebesar Rp 369 miliar dari 34,8 persen. Ada peningkatan sekitar 2 persen dibandingkan tahun 2024. Menurut Koster, dana tersebut kini menjadi tumpuan untuk proteksi budaya sesuai amanat UU No. 15 Tahun 2023. ”Dana wisatawan asing digunakan melestarikan budaya dan lingkungan masuk dalam pendapatan asli daerah,” pungkasnya.***
Editor : M.Ridwan