RADAR BALI - Melukat merupakan tradisi penyucian diri yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat di Bali.
Secara harfiah, melukat berasal dari kata lukat dalam bahasa Kawi yang berarti melepaskan atau memurnikan.
Fungsi utamanya adalah sebagai sarana pembersihan rohani untuk menghilangkan dasamala atau sepuluh sifat buruk dalam diri manusia serta menetralisir energi negatif.
Dengan menggunakan media air suci (tirta), ritual ini dipercaya dapat menghapus kotoran spiritual yang menghambat ketenangan batin, sehingga pikiran menjadi lebih jernih dan tenang.
Selain pembersihan diri, melukat berperan penting sebagai media penyembuhan non-medis. Masyarakat Hindu Bali melakukan ritual ini di sumber mata air alam atau campuhan untuk memohon keselamatan dan berkah kepada Tuhan.
Jika Anda mencari suasana yang lebih tenang dan jauh dari keramaian wisatawan, berikut adalah enam rekomendasi tempat penglukatan hidden gem yang menawarkan kesakralan serta keindahan alam yang asri.
1. Pura Kahyangan Kedatuan Raksa Sidhi, Tabanan
Terletak di kawasan Jatiluwih yang hijau, tempat ini menjadi destinasi wisata spiritual yang sedang tren namun tetap terjaga kesakralannya.
Pura ini memiliki 17 pancuran suci yang masing-masing memiliki filosofi berbeda, seperti Pancuran Ida Dukuh Sakti untuk ketenangan pikiran hingga Pancuran Sang Hyang Aji Saraswati untuk memohon kecerdasan.
Lokasinya yang berada di ketinggian memberikan udara yang sangat sejuk dan air yang murni karena bersumber langsung dari Gunung Sanghyang.
2. Pura Taman Pecampuhan Sala, Bangli
Tempat ini menawarkan sensasi melukat di pertemuan dua arus sungai (campuhan).
Jalur menuju titik penglukatan cukup menantang dengan anak tangga yang membelah tebing, namun kelelahan akan terbayar dengan pemandangan air terjun kecil dan aliran sungai yang jernih.
Di sini, terdapat beberapa pancuran yang dipercaya memberikan energi positif bagi kejernihan batin.
3. Pura Giri Putri Nusa Penida, Klungkung
Berbeda dengan tempat melukat pada umumnya yang berada di tepi sungai, penglukatan di sini berada di dalam gua raksasa.
Setelah melewati celah masuk yang sempit, Anda akan menemukan ruang gua yang sangat luas dan sakral.
Prosesi melukat dilakukan dengan air suci (tirta) yang menetes dari dinding-dinding gua, menciptakan suasana meditasi yang sangat dalam dan tenang.
4. Pura Campuhan Windu Segara, Denpasar
Meski berada dekat dengan area kota, tepatnya di Pantai Padanggalak, pura ini sering terlewatkan oleh wisatawan umum.
Keunikan tempat ini adalah lokasinya yang merupakan titik temu antara air tawar sungai dan air asin laut.
Penglukatan di sini dipercaya sangat baik untuk menetralisir energi negatif melalui kekuatan pertemuan air sungai dan laut (campuhan segara).
5. Pura Tirta Sudamala, Bangli
Berlokasi di kawasan Sidan, pura ini dikelilingi oleh pepohonan tua yang rimbun.
Terdapat sembilan pancuran air yang mengalir langsung dari sumber mata air alami.
Airnya sangat dingin dan segar, memberikan sensasi penyegaran fisik sekaligus spiritual.
Karena lokasinya yang agak tersembunyi di lembah, tempat ini masih menjaga keheningan yang pas bagi mereka yang ingin fokus bersembahyang.
6. Pura Mengening, Tampaksiring
Berada di dekat Pura Tirta Empul, Pura Mengening di Tampaksiring adalah salah satu tempat melukat yang lebih tenang dan otentik. Pura ini memiliki kolam pemandian dengan mata air alami yang dipercaya mampu menyucikan jiwa dan raga.
Tidak ada tiket masuk resmi, hanya dana punia sukarela. Untuk melukat tidak dikenakan biaya, namun pengunjung bisa menyewa sarung bila tidak membawa.
Siapkan Sarana: Untuk tempat seperti Kedatuan Raksa Sidhi, disarankan membawa banten Pejati (minimal dua bagi yang pertama kali datang) dan Canang Sari sebagai bentuk penghormatan.
Pakaian: Selalu gunakan kain (kamen) dan selendang. Bawalah pakaian ganti karena sebagian besar prosesi melibatkan berendam di air yang cukup dingin.
Waktu Kunjungan: Datanglah lebih awal atau pada hari kerja untuk menghindari antrean, terutama jika Anda ingin merasakan ketenangan yang maksimal.
Jaga Kebersihan: Pastikan untuk tidak meninggalkan sampah di area pura guna menjaga kesucian dan keasrian alam di sekitarnya.
Jaga Kesucian: Perempuan yang sedang haid dan sejumlah situasi tertentu, tidak diizinkan melakukan penglukatan, konsultasikan dengan pemangku adat setempat.
Editor : Ibnu Yunianto