Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

High Season Tiba, Okupansi Hotel di Sanur Tembus 75 Persen, Masalah Sampah dan MICE Jadi Evaluasi

Adrian Suwanto • Minggu, 24 Mei 2026 | 18:54 WIB
MULAI RAMAI : Suasana Pantai Sanur saat musim kemarau high season pelancong. (foto: Adrian Suwanto/Radar Bali)
MULAI RAMAI : Suasana Pantai Sanur saat musim kemarau high season pelancong. (foto: Adrian Suwanto/Radar Bali)

DENPASAR, Radar Bali.id - Kawasan wisata Sanur mulai menunjukkan geliat positif menyambut musim liburan pertengahan tahun. Tingkat hunian kamar hotel (okupansi) diproyeksikan bakal melonjak tajam seiring datangnya periode high season yang puncaknya diperkirakan terjadi pada Juli hingga Agustus 2026 mendatang.

Baca Juga: Dampak Perang Amerika -Israel Mengeroyok Iran : Libur Panjang Nyepi -Lebaran Tak Sesuai Ekspektasi, Okupansi di Bali Hanya Naik 5 Persen

Berdasarkan data yang dihimpun per Minggu (24/5/2026), rata-rata pemesanan kamar (on hand booking) di kawasan Sanur untuk dua bulan ke depan sudah menyentuh angka 75 persen. Bahkan, untuk akomodasi besar seperti Prama Sanur Beach Hotel, angka pemesanan sudah menembus 80 persen.

General Manager Prama Sanur Beach Hotel, I Gusti Bagus Surya, mengungkapkan bahwa tingginya animo wisatawan ini menjadi angin segar sekaligus sinyal kuat bagi pertumbuhan sektor pariwisata Bali, khususnya di wilayah Sanur.

"Untuk dua bulan ke depan okupansi sangat bagus karena sudah memasuki high season Juli dan Agustus. Rata-rata on hand booking hotel di Sanur sudah 75 persen, sedangkan di Prama Sanur Beach Hotel sendiri booking yang masuk sudah mencapai 80 persen," jelasnya.

Meski trennya meroket, Bagus Surya mengingatkan bahwa Bali, termasuk Sanur, masih mengantongi pekerjaan rumah (PR) yang klasik namun serius: persoalan sampah. Kendati demikian, ia mengapresiasi langkah sinergis para pemangku kepentingan (stakeholder) pariwisata yang pelan-pelan mulai mengurai benang kusut masalah ini.

Ia menegaskan, pelaku sektor hotel, restoran, dan kafe (Horeka) wajib hukumnya melakukan pengelolaan sampah secara mandiri sesuai regulasi yang berlaku. Penekanan utamanya ada pada pemilahan sampah dari hulu serta penanganan sampah organik.

"Masalah sampah masih menjadi kendala, walaupun sekarang sudah mulai terurai berkat sinergi semua stakeholder pariwisata. Kami berharap Juli 2027 persoalan sampah ini bisa benar-benar rampung," tegasnya.

Di sisi lain, wajah Sanur saat ini dinilai kian molek, tertata, dan nyaman bagi pelancong. Rencana penanaman kabel bawah tanah (underground utility) diyakini akan semakin mempercantik lanskap estetika Sanur sekaligus memperkuat komitmen terhadap konsep pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism).

Namun, tantangan tidak hanya datang dari masalah lingkungan. Kebijakan efisiensi anggaran yang digandeng pemerintah turut memukul ceruk pasar Meeting, Incentive, Convention and Exhibition (MICE) di Sanur. Menanggapi hal ini, pelaku industri berharap pemerintah memberikan fleksibilitas kebijakan agar sektor MICE tetap bisa bernapas dan bergerak optimal.

Sebagai rekomendasi taktis ke depan, Bagus Surya mendorong pentingnya pembentukan forum komunikasi kawasan. Wadah ini diperlukan untuk mempererat koordinasi antar-pelaku pariwisata demi merumuskan standar kebersihan bersama, manajemen lalu lintas, penataan kantong parkir, hingga pengendalian pembangunan agar tidak kebablasan (overdevelopment).

"Implementasi konsep ESG (Environmental, Social, and Governance) serta standar pariwisata berkelanjutan GSTC (Global Sustainable Tourism Council) juga mendesak diterapkan demi menjaga daya saing Sanur sebagai destinasi kelas dunia," pungkasnya. [*]

Editor : Hari Puspita
#wisman #Kunjungan wisatawan #Pantai Sanur #high season #okupansi hotel