SANUR, radarbali.jawapos.com — Sektor pariwisata Indonesia bersiap menghadapi transformasi besar dalam pemenuhan komoditas ramah lingkungan.
Konsorsium ACT! Project secara resmi menyepakati kerja sama strategis jangka panjang selama empat tahun (2026–2029) bersama Eco Tourism Bali (ETB).
Kolaborasi ini dirancang untuk mempercepat adopsi praktik pasokan berkelanjutan (sustainable sourcing) pada industri perhotelan, restoran, dan kafe (Horeka) di dua destinasi utama: Bali dan Yogyakarta.
Pengumuman kemitraan ini dideklarasikan di tengah pergelaran tahunan agenda The Meru Eco Tourism Week 4th Edition yang berlangsung di Bali Beach Convention Center, Sanur.
Target utamanya adalah mentransformasi rantai pasok empat komoditas penting industri pariwisata, yakni kopi, kakao, teh, serta minyak sawit, agar beralih sepenuhnya ke prinsip yang bertanggung jawab.
Sebagai motor penggerak, ACT! Project (Accelerating Consumer Transformation and Sustainability in Indonesia) membawa kekuatan aliansi besar. Konsorsium ini merupakan gabungan dari Rainforest Alliance, SCOPI (Sustainable Coffee Platform Indonesia), dan CSP (Cocoa Sustainability Partnership). Seluruh pergerakannya didanai penuh oleh Uni Eropa melalui payung SWITCH-Asia, program yang fokus mendorong konsumsi dan produksi berkelanjutan di 42 negara kawasan Asia, Timur Tengah, dan Pasifik.
Menghalau Deforestasi dari Sektor Hospitality
Esensi utama dari kemitraan lintas sektor ini bertumpu pada konsep responsible production.
Kerja sama ini menekankan jaminan ketat bahwa seluruh komoditas yang diserap oleh jaringan akomodasi wisata tidak diproduksi di kawasan lindung yang rentan deforestasi atau wilayah yang mengancam habitat spesies langka.
Kendati berfokus pada kelestarian alam (nature-positive tourism), aspek manusia tetap diletakkan sebagai pilar utama. Skema transformasi ini memprioritaskan peningkatan kesejahteraan masyarakat dan komunitas lokal, utamanya para petani kecil yang menjadi ujung tombak rantai pasok.
"Pariwisata yang regeneratif tidak dapat dibangun hanya dari operasional hotel atau destinasi saja. Transformasi struktural harus dimulai dari rantai pasok yang lebih bertanggung jawab, sehingga setiap produk yang dikonsumsi oleh wisatawan mampu memberikan manfaat nyata bagi alam, kesejahteraan petani, dan keberlanjutan komunitas lokal," tegas Rahmi Fajar Harini, Co-Founder Eco Tourism Bali.
Langkah taktis yang ditempuh ACT! Project dan ETB ini bukan tanpa dasar kuat. Berdasarkan riset internal teranyar yang dirilis oleh ACT! Project, tercatat sebanyak 92 persen konsumen di Bali dan Yogyakarta kini telah memiliki tingkat kesadaran yang sangat kuat terhadap isu-isu lingkungan. Ekspektasi pasar yang tinggi terhadap produk hijau inilah yang direspons secara progresif melalui kemitraan strategis ini.
"Sejalan dengan pertumbuhan permintaan publik terhadap produk berkelanjutan, sinergi ini menjadi instrumen penting untuk mempromosikan adopsi konsumsi harian yang ramah lingkungan," papar Margareth Meutia, Team Lead ACT! Project sekaligus Manager Consumer Campaign Rainforest Alliance.
Ia menambahkan, "Komitmen kami tetap berakar kuat pada manusia; meningkatkan penghidupan petani lewat kesetaraan pendapatan gender, serta menjamin hak anak-anak di wilayah perkebunan aman dari eksploitasi."
Peta Jalan Menuju 2029
Guna memastikan target restorasi industri ini berjalan terukur hingga tahun 2029, kedua lembaga telah menyusun enam program kerja utama yang akan diaktivasi secara berkala:
- Pengembangan Cetak Biru: Penyusunan program terintegrasi untuk skema regenerative tourism.
- Edukasi Pasar Massal: Kampanye masif peningkatan kesadaran kelestarian (sustainability awareness).
- Peningkatan Kapasitas: Program capacity building terarah bagi para pelaku usaha hospitality.
- Sinergi Lingkungan-Sosial: Kolaborasi aktif pada program konservasi dan pemberdayaan komunitas.
- Aksi Iklim Nyata: Pendampingan implementasi standardisasi sustainability framework.
- Aktivasi Tahunan: Integrasi penuh program bersama dalam rangkaian Eco Tourism Week hingga 2029.
Melalui peta jalan yang komprehensif ini, kolaborasi ACT! Project dan Eco Tourism Bali diharapkan mampu mengelevasi posisi Bali dan Yogyakarta ke panggung global. Kedua destinasi ini ditargetkan menjadi percontohan (global role model) dalam implementasi pariwisata yang tidak sekadar mengejar angka kunjungan, melainkan aktif memulihkan alam dan memberdayakan manusianya secara berkelanjutan.
Sementara itu di sesi Konferensi Pers, Plt Deputi Bidang Industri dan Investasi Kementerian Pariwisata, Rizki Handayani
Bali sangat berbeda dengan destinasi lain di Indonesia dan dunia. Bali perpaduan alam, budaya dan keramahtamahan.
“Saya setuju dan pemerintah pusat akan mendorong agar zonasi kawasan industri pariwisata diperbaiki, ini penting untuk menjami kelestarian dan keberlanjutan eco tourism,” tandas Rizki, dalam Konferensi Pers yang dipandu Melody Garcia, itu.
Menurutnya, tata ruang kawasan wisata khususnya di Bali harus diperketat sejak awal. Terutama karena Bali dan Indonesia umumnya menghadapi masalah alih fungsi lahan dan krisis persampahan.
Kedepan lanjutnya, dengan payung regulasi kita akan mendorong UMKM lebih berkembang untuk mendorong daya tarik wisata dan ekonomi.***
Editor : M.Ridwan