RADAR BALI – Musim angin di Bali selalu membawa keceriaan tersendiri bagi masyarakat pesisir dan pencinta tradisi dirgantara.
Festival layang-layang bergengsi, Rare Angon Festival 2026, dikonfirmasi akan kembali menyapa masyarakat serta wisatawan mancanegara pada pertengahan bulan Juli mendatang.
Ajang tahunan yang memadukan seni, budaya, aerodinamika, dan filosofi tradisional ini dijadwalkan berlangsung dari Kamis (23/7) hingga Minggu (26/7) di hamparan pasir Pantai Mertasari, Sanur.
Selama empat hari penuh, langit Sanur akan dihiasi oleh ratusan layang-layang berukuran raksasa dengan corak warna-warni yang memanjakan mata.
Dalam bahasa Bali, kata "rare" berarti anak-anak, sedangkan "angon" berarti menggembala.
Istilah Rare Angon merujuk pada sosok legendaris pelindung pertanian sekaligus tradisi anak-anak gembala di Bali yang menghabiskan waktu di sawah atau lapangan terbuka untuk menerbangkan layang-layang saat musim angin tiba setelah masa panen.
Bagi masyarakat Bali, menerbangkan layang-layang bukan sekadar aktivitas rekreasi atau permainan pengisi waktu luang.
Tradisi ini sarat akan nilai sosial dan spiritual. Pembuatan layang-layang raksasa membutuhkan kerja sama tim yang solid dalam satu komunitas pemuda (sekaa tarunaI). Mulai dari meraut bambu, mengukur keseimbangan, hingga menarik tali saat peluncuran.
Menerbangkan layang-layang juga menjadi bentuk rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Dewa Indra atau Dewa Bayu atas berkah angin dan kesuburan tanah.
Daya Tarik Utama Rare Angon Festival 2026
1. Kompetisi Layangan Tradisional Bali
Festival ini akan menjadi panggung persaingan bagi kreativitas lokal lewat kategori layang-layang tradisional khas Bali yang memiliki karakteristik unik:
Bebean: Layangan berdesain menyerupai ikan yang lincah menari di udara.
Pecukan: Layangan berbentuk helai daun yang membutuhkan keahlian khusus untuk menstabilkannya, serta menghasilkan suara guwangan (dengungan khas) yang nyaring.
Janggan & Janggan Buntut: Layangan sakral berbentuk naga dengan ekor kain super panjang yang bisa mencapai puluhan bahkan ratusan meter.
2. Ekspansi Skala Internasional
Meski berakar dari tradisi lokal, Rare Angon Festival telah bertransformasi menjadi agenda budaya internasional.
Mengikuti kesuksesan edisi sebelumnya yang menarik delegasi dari puluhan negara, festival tahun 2026 ini kembali mengundang pelayang internasional untuk menampilkan rancangan modern dan sport kite mereka di langit Sanur.
3. Eksplorasi Seni Budaya Pesisir
Selain kompetisi di udara, sepanjang garis Pantai Mertasari akan dimeriahkan oleh berbagai pertunjukan seni budaya, musik gamelan pengiring, stan kuliner lokal, serta pameran kerajinan IKM/UMKM.
Bagi Anda yang berencana menyaksikan langsung keseruan festival ini, berikut beberapa catatan penting:
Lokasi: Pantai Mertasari, Sanur, Denpasar Selatan.
Waktu Terbaik: Datanglah sejak pagi hari mulai pukul 08.00 WITA untuk melihat proses persiapan dan peluncuran awal layang-layang tradisional berukuran besar, memanfaatkan angin pesisir yang ideal.
Tiket Masuk: Acara ini gratis dan terbuka untuk umum. Pengunjung hanya perlu membayar biaya parkir kendaraan normal di area pantai.
Tips Kenyamanan: Siapkan kacamata hitam, topi, tabir surya (sunscreen), serta kamera terbaik Anda.
Demi keselamatan bersama, penonton diimbau untuk selalu berada di luar radius tali peluncuran layang-layang.***
Editor : Ibnu Yunianto