KUTA UTARA, radarbali.jawapos.com – Industri pariwisata Bali sedang tidak baik-baik saja. Di tengah gempuran ketidakpastian global dan masifnya kepemilikan properti oleh Warga Negara Asing (WNA), Bali Villa Association (BVA) mengambil langkah ekstrem: memanggil kembali sang founder untuk "turun gunung".
Dr. Drs. H. Ismoyo Soemarlan, M.Par., resmi dilantik kembali untuk menakhodai BVA periode 2026-2031. Pengukuhan yang berlangsung di Kuta Utara pada Selasa, 9 Juni 2026 ini dipimpin langsung oleh Ketua BPD PHRI Bali, Prof. Dr. Ir. Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati, M.Si. (Cok Ace), serta disaksikan oleh Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, I Wayan Sumarajaya.
Ketua Panitia Pengukuhan, Veronica Femi Andayani, S.H., M.H., CSA, menegaskan bahwa momentum ini bukan sekadar ritual pergantian pengurus.
"BVA bukan pemain baru. Ini adalah momentum krusial untuk memperkuat kembali peran strategis BVA dalam menjaga pariwisata Bali agar tetap berkualitas, berkelanjutan, dan berdaya saing global," tegas Veronica.
Sebagai nakhoda baru (yang lama), Ismoyo Soemarlan langsung dihadapkan pada "pekerjaan rumah" yang menumpuk. Berikut adalah tiga tantangan utama yang dibeberkan oleh Ismoyo dan para tokoh pariwisata.
Banyak pengusaha vila lokal yang saat ini kebingungan menghadapi perubahan aturan dari pemerintah pusat, mulai dari penyesuaian KBLI (Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia) hingga transisi regulasi IMB.
Ismoyo menegaskan BVA akan menyatukan visi dan siap menjadi "jembatan" serta konsultan gratis bagi anggota yang vilanya mengalami kendala perizinan.
Geopolitik Global & Hidupnya Kembali "Selasa Pariwisata"
Ketidakpastian global, seperti konflik geopolitik yang melibatkan Israel, Amerika Serikat, dan Iran, membayangi sensitivitas pariwisata Bali.
Ismoyo mengusulkan untuk menghidupkan kembali forum "Selasa Pariwisata" sebulan sekali. Usulan ini langsung disetujui oleh Kepala Dinas Pariwisata Bali sebagai wadah taktis merespons isu-isu terkini secara cepat.
Ini adalah tamparan keras sekaligus peringatan paling krusial dari Ketua BPD PHRI Bali, Cok Ace. Menjamurnya vila yang kini dimiliki dan dikendalikan oleh WNA menjadi ancaman nyata bagi kedaulatan ekonomi lokal, terlebih regulasi undang-undang saat ini memberi kelonggaran bagi asing untuk memiliki properti di Indonesia.
"Sebenarnya saya sudah memprediksi hal ini saat pandemi Covid-19 lalu. Kita semua (pemerintah dan pelaku usaha) agak terlambat mengantisipasi tren ini. Saya berharap teman-teman BVA bisa bangkit dan mengantisipasi ini dengan serius, agar kita tidak menjadi tamu di rumah sendiri," ujar Wakil Gubernur Bali periode 2018-2023 tersebut.
Dengan pengalaman panjangnya, duet Ismoyo Soemarlan dan pengurus baru BVA diharapkan mampu membawa angin segar. Tugas mereka kini bukan lagi sekadar mempromosikan pariwisata, melainkan membentengi dan menyelamatkan aset emas milik krama Bali dari kepunahan di tengah modernisasi.***
Editor : M.Ridwan