Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Disokong KEN, Jatiluwih Festival 2026 Konsisten Jaga Napas Subak, Suarakan Pelestarian Tradisi Kuno ke Panggung Dunia

M.Ridwan • Minggu, 21 Juni 2026 | 15:08 WIB
BUKAN PADI UMUMNYA: Manajer DTW Jatiluwih John K. Purna,  Bupati Tabanan, I Komang Gede Sanjaya dan sejumlah pejabat pusat memanen padi di arena Jatiluwih Festival 2026.
BUKAN PADI UMUMNYA: Manajer DTW Jatiluwih John K. Purna, Bupati Tabanan, I Komang Gede Sanjaya dan sejumlah pejabat pusat memanen padi di arena Jatiluwih Festival 2026.

 

JATILUWIH, radarbali.jawapos.com - Ketika dunia modern sibuk mencari formula "pariwisata berkelanjutan", masyarakat di kaki Gunung Batukaru, Tabanan, Bali, sebenarnya sudah mempraktikkannya selama berabad-abad.

Melalui denyut nadi sistem irigasi tradisional Subak, Kawasan Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih membuktikan bahwa menjaga alam bukan berarti menolak kemajuan.

Bukti nyatanya tersaji apik dalam pembukaan Jatiluwih Festival VII 2026, Sabtu (20/6/2026).

Tahun ini, festival yang mengusung tema "In Balance with Nature, Inspired by Tradition" tersebut resmi mencetak sejarah baru.

Apa itu?.  Untuk pertama kalinya, Jatiluwih Festival berhasil menembus kurasi ketat Karisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata RI.

Pembukaan Jatiluwih Festival ke VII tahun 2026. (Fabiano Ramadhan/radarbali.id)
Pembukaan Jatiluwih Festival ke VII tahun 2026. (Fabiano Ramadhan/radarbali.id)

 

Bukan tanpa alasan festival ini mendapat tempat di hati dunia. Di bawah pengelolaan yang berbasis komunitas, Jatiluwih terus mengumpulkan "sertifikat emas" internasional:

"Pencapaian ini adalah bentuk pengakuan nyata atas konsistensi warga dalam melestarikan nilai-nilai luhur dan lingkungan," ujar John K. Purna, Manajer DTW Jatiluwih dengan bangga.

Banyak tempat di dunia memiliki sawah terasering yang indah, namun Jatiluwih punya "jiwa" yang membedakannya. Jiwa itu bernama Tri Hita Karana—sebuah filosofi hidup yang menjaga harmoni antara manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam sekitar.

Dalam sistem Subak, air tidak dilihat sebagai komoditas, melainkan berkah yang harus dibagi adil dari hulu hingga hilir.

Bupati Tabanan, I Komang Gede Sanjaya, menegaskan bahwa tata kelola air berbasis keadilan inilah yang membuat peradaban agraris Bali dikagumi dunia.

"Kalau sawah, hampir semua daerah punya. Tetapi sistem tata kelola air seperti Subak inilah yang menjadi keunggulan Bali dan diakui dunia," ungkap Bupati Sanjaya.

Ia juga mengingatkan pentingnya membentengi kawasan ini dari alih fungsi lahan agar Tabanan tetap tegak berdiri sebagai lumbung pangan Bali.

Jatiluwih Festival VII bukan sekadar parade budaya atau seremoni estetik untuk media sosial. Festival ini dirancang sebagai motor penggerak ekonomi kerakyatan yang dampaknya langsung menyentuh meja makan warga lokal.

 

Editor : M.Ridwan
#Jatiluwih Festival VII 2026 #Inspired by Tradition #Jaga Napas Subak #Karisma Event Nusantara