Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Bidik 820 Ribu Turis India, Kemenpar Dorong Penerbangan Langsung dan Bebas Visa ke Bali

Dhian Harnia Patrawati • Sabtu, 11 Juli 2026 | 13:11 WIB
Ilustrasi - Dua turis India berpose di Air Terjun Tibumana, Bangli.
Ilustrasi - Dua turis India berpose di Air Terjun Tibumana, Bangli.

 

RADAR BALI – Kementerian Pariwisata (Kemenpar) tengah gencar memperkuat konektivitas udara untuk mendongkrak kunjungan wisatawan mancanegara (wisman).

Salah satu fokus utamanya adalah mendorong penambahan penerbangan langsung (direct flight) dari Bali menuju sejumlah kota di India. Strategi ini diharapkan mampu menyokong target kunjungan sekitar 750 ribu hingga 820 ribu wisatawan India ke Indonesia sepanjang tahun 2026.

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengungkapkan bahwa sektor pariwisata nasional saat ini terus menunjukkan tren positif. Hingga Mei 2026, akumulasi kunjungan wisman ke Indonesia telah mencapai 6,07 juta orang, atau tumbuh 7,68 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

"Capaian ini menjadi indikator bahwa pariwisata Indonesia memiliki daya tahan sekaligus tetap menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi nasional yang penting," ujar Menteri Pariwisata Widiyanti dalam keterangan tertulisnya.

Pertumbuhan tersebut juga diikuti oleh peningkatan perjalanan wisatawan nusantara yang menembus angka 523,22 juta perjalanan sepanjang Januari–Mei 2026.

Selain itu, Indonesia mencatat surplus kunjungan wisatawan sebesar 2,37 juta orang dibandingkan dengan perjalanan warga negara Indonesia ke luar negeri, dibarengi dengan kenaikan tingkat okupansi hotel berbintang yang kini mencapai 46,99 persen.

Momentum Kunjungan PM Narendra Modi

Optimisme pencapaian target pasar India tahun ini kian diperkuat oleh faktor geopolitik dan diplomasi. Juru Bicara Kemenpar Nia Niscaya menjelaskan bahwa minat pasar India meningkat tajam, terutama setelah kunjungan kenegaraan Perdana Menteri India Narendra Modi ke Indonesia pada 6–8 Juli 2026.

Kunjungan PM Narendra Modi diyakini dapat meningkatkan kepercayaan wisatawan India terhadap keamanan dan kualitas destinasi wisata Indonesia. "Dengan bertumbuhnya kepercayaan tersebut, tentunya akan berdampak pada kenaikan kunjungan wisatawan India yang berkualitas," kata Nia.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), arus kunjungan wisman India ke tanah air memang konsisten menanjak dalam beberapa tahun terakhir:

2023: 606.439 kunjungan

2024: 710.207 kunjungan

2025: 734.490 kunjungan

Januari–Mei 2026: Telah mencapai 298.450 kunjungan (tumbuh positif 0,40% secara year-on-year).

Khusus untuk pintu masuk Bali, data BPS Provinsi Bali pada Triwulan I (Januari–Maret 2026) mencatat sebanyak 116.943 wisman India datang langsung ke Pulau Dewata.

Posisi ini menempatkan India di peringkat ketiga sebagai penyumbang wisman terbesar ke Bali, tepat di bawah Australia dan Tiongkok.

Meskipun secara kumulatif triwulan sempat ada koreksi tipis sebesar 0,25% dibanding periode yang sama tahun lalu, performa bulanan pada Maret 2026 melonjak signifikan sebesar 14,35% dengan mencatat 42.460 kunjungan dibanding bulan Februari.

Promosi Wisata Premium dan Daya Tarik Prambanan

Dalam upaya menggaet wisatawan berkualitas, Kemenpar tidak hanya mempromosikan Bali tetapi juga destinasi unggulan lainnya seperti Yogyakarta, Labuan Bajo, Lombok, dan Danau Toba. Targetnya adalah wisatawan yang memiliki masa tinggal lebih panjang (length of stay), belanja lebih besar, serta menghormati budaya setempat.

Strategi ini didukung oleh promosi paket wisata mewah (luxury travel), wisata keluarga, pernikahan (wedding), bulan madu, wisata kebugaran (wellness tourism), hingga sektor MICE.

Selain Bali, Candi Prambanan di Yogyakarta diposisikan sebagai destinasi utama yang dinilai memiliki kedekatan emosional sangat kuat dengan pasar India pada segmen wisata budaya dan spiritual.

"Kami ingin menjadikan Prambanan sebagai salah satu jembatan penting dalam memperkuat hubungan pariwisata budaya dan spiritual antara Indonesia dan India. Bersama Bali, Prambanan memiliki kedekatan emosional dan spiritual yang kuat dengan wisatawan India," tutur Menteri Pariwisata Widiyanti.

Stimulus Insentif Maskapai dan Bebas Visa

Untuk mempermudah aksesibilitas, Kemenpar terus berkoordinasi dengan pemangku kepentingan penerbangan. Kemenpar mendorong PT Angkasa Pura untuk memberikan insentif khusus bagi maskapai berupa pembebasan biaya pendaratan (landing fee) dan biaya parkir pesawat (parking fee) pada periode tertentu.

Tidak hanya itu, pemerintah juga sedang menggodok regulasi kemudahan masuk. Kemenpar telah mengusulkan agar India dimasukkan ke dalam skema Bebas Visa Kunjungan (BVK). Usulan strategis ini saat ini tengah dibahas di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian demi memicu lonjakan arus kunjungan.

Kendati pasar India tumbuh pesat, konektivitas udara langsung (direct flight) dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali menuju India masih dalam tahap penetrasi awal jika dibandingkan dengan pasar tradisional Australia yang sudah matang.

Dari segi destinasi dan maskapai, rute India baru berfokus pada kota metropolitan utama seperti New Delhi dan Mumbai yang dilayani oleh Air India dan IndiGo dengan frekuensi puluhan penerbangan per minggu, sehingga sebagian besar wisatawan masih harus transit via Singapura atau Malaysia.

Sebaliknya, rute Australia sudah sangat padat dan jenuh, melayani hampir seluruh kota besar dari Perth hingga Canberra melalui maskapai masif seperti Qantas, Jetstar, hingga Garuda Indonesia, dengan frekuensi mencapai lebih dari 100 penerbangan per minggu khusus untuk rute Sydney saja.

Jarak dan durasi tempuh ke India juga tergolong menengah-jauh berkisar antara 7,5 hingga hampir 9 jam. Sementara itu, rute Australia menawarkan variasi waktu yang sangat fleksibel, mulai dari kategori sangat dekat seperti Darwin (2,5 jam) dan Perth (3,5 jam), hingga rute sedang ke wilayah pesisir timur (5–6 jam).

Secara umum, rute Bali-India merupakan koridor strategis baru yang terus diperluas untuk mengakomodasi perjalanan tanpa transit bagi pasar premium dan wisata spiritual, di tengah dominasi kuat pasar Australia yang mapan.***

Editor : Ibnu Yunianto
#Pariwisata Bali 2026 #Penerbangan Langsung Bali India #Penerbangan Internasional Bali #wisatawan India #kemenpar