DENPASAR, radarbali.id – Budaya literasi di Indonesia khususnya Bali diakui kian menurun. Terlebih di era digitalisasi informasi yang semakin meninggalkan platform konvensional.
Itu pula yang menjadi kerisauan pengelola perpustakaan daerah Kota Denpasar dalam Bincang Literasi dengan tema; Kiat Menulis Efektif, Kreatif dan Berkualitas di Taman Janggan Renon Denpasar, Sabtu, 19 Oktober 2024 baru lalu.
”Penerbitan buku boleh semakin banyak, tapi budaya baca buku masyarakat kita semakin menurun, ini yang harus kita bangkitkan kedepan,” ungkap Eka, dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Denpasar.
Menurutnya, kondisi ini berbanding terbalik dengan di negara-negara maju di Eropa dan Barat. “Meski negaranya maju, orang-orang Eropa daya baca bukunya tinggi, kita lihat saja wisatawan Eropa yang berjemur di tepi pantai saja sambil baca buku,” ungkap Eka.
Pihaknya sudah berupaya keras agar budaya literasi membaca dan menulis karya semakin meningkat. Salah satunya dengan menempatkan perpusatkaan keliling dan portabel di sejumlah titik area publik.
Ketua Komunitas Menulis Indonesia ( KMID ) Bali, Purwanti Halim, S.I.P, menyebut menulis dan berkarya dengan buku akan membuat selalu hidup dan dikenang sepanjang masa.
"Orang bisa pandai setinggi langit, tetapi bila ia tidak menulis, ia akan ditinggalkan oleh masyarakat dan sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian," ungkap Purwanti Halim mengutip Sastrawan Pramodya Ananda Toer, saat menyampaikan prakata.
Sementara itu Pemimpin Redaksi radarbali.id dan Jawa Pos TV Bali Muhammad Ridwan, yang mengurai topik Kiat Menulis Efektif, Kreatif dan Berkualitas, mendorong audiens yang hadir untuk tidak ragu menuangkan ide dalam tulisan.
”Modal seorang penulis itu harus banyak baca dan perlu keberanian untuk tidak ragu menuangkan gagasan dalam tulisan, mau nulis resep, hobi dan lainnya, tulis saja dulu,” tandas Ridwan, dalam bincang literasi yang digagas Yayasan Wahana Kreasi ini.
Selain itu lajutnya, penulis harus belajar referensi dan perkaya kosa kata, senhingga tulisannya berkualitas.
Dikatakan Ridwan, ada beda jurnalis dengan penulis buku. ”Kalau jurnalis setiap saat menulis apa kata narasumber, kalau penulis buku murni menuangkan ide gagasannya dalam karya,” kata Ridwan dalam bincang literasi yang dipandu Fitroh Laili, itu.
Dijelaskan, jurnalis harus jujur dalam menyajikan satu berita dengan teknis berdasar unsur dan struktur 5W 1H (what, who, where, when, why, dan how).
Sementara teknis penulisannya sesuai struktur piramida terbali, dengan menulis judul, angle, tubuh dan ekor berita. Sedang buku perlu kekayaan ide dan konsistensi.
Dalam acara juga dilincurkan 3 buah buku solo baru hasil karya anggota KMID Bali dan penyerahan secara simbolis ketiga buku tersebut sebagai salah satu koleksi di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Denpasar.
Buku solo tersebut berjudul, Kompas Batin karya Wantie Halim, The Dots karya D. Atmaja dan Romantica Ramadhan karya Fitroh Laili.
”Harapannya ini menjadi pemicu para pegiat literasi lebih kreatif dalam menulis lebih banyak genre dan menguatkan kembali literasi untuk kesejahteraan,” harap Wantie.***
Editor : M.Ridwan