Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Pemberdayaan Kelompok PKK Desa Sembiran melalui Pemanfaatan Toga Menjadi Produk Kesehatan & Pangan Fungsional, PkM STIKes Buleleng & Unipas

Juliadi Radar Bali • Sabtu, 6 September 2025 | 18:35 WIB
PKM: Suasana pelaksanaan PKM Desa Sembiran, Kecamatan Tejakula, Buleleng da pembuatan TOGA menjadi Produk Kesehatan dan Pangan Fungsional.
PKM: Suasana pelaksanaan PKM Desa Sembiran, Kecamatan Tejakula, Buleleng da pembuatan TOGA menjadi Produk Kesehatan dan Pangan Fungsional.

BULELENG, radarbali.jawapos.com - Upaya meningkatkan kualitas kesehatan dan ketahanan pangan keluarga terus dilakukan melalui berbagai inovasi berbasis potensi lokal. 

Salah satunya itulah yang dilakukan dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Buleleng dan Universitas Panji Sakti (Unipas).

Kali kali ini menyasar Desa Sembiran, Kecamatan Tejakula, Buleleng. Program pengabdian bertajuk “Pemberdayaan Kelompok PKK Desa Sembiran melalui Pemanfaatan TOGA menjadi Produk Kesehatan dan Pangan Fungsional” ini dipimpin oleh G. Nur Widya Putra selaku ketua tim, dengan anggota I Made Madiarsa dan Rizka Aisyah.

Kemudian didukung penuh Ketua PKK Desa Sembiran, Nyoman Sri Budiasih bersama anggotanya. 

Desa Sembiran sejak lama dikenal memiliki kekayaan Tanaman Obat Keluarga (TOGA), seperti sereh, kunyit, jahe, kencur, dan kelor. 

Sayangnya, selama ini pemanfaatan tanaman tersebut masih terbatas pada penggunaan tradisional sehari-hari.

Melalui kegiatan ini, tim pengabdian berupaya memberikan nilai tambah pada TOGA dengan mengubahnya menjadi produk yang lebih modern, higienis, dan bernilai ekonomi. 

Ketua Tim, G. Nur Widya Putra, menjelaskan bahwa pemilihan Desa Sembiran bukan tanpa alasan. Selain karena ketersediaan lahan TOGA yang cukup luas, ibu-ibu PKK setempat dinilai memiliki semangat belajar yang tinggi. 

“Kami ingin memaksimalkan potensi lokal agar bisa memberikan dampak ganda, yaitu menjaga kesehatan keluarga dan sekaligus meningkatkan kesejahteraan melalui peluang usaha baru,” ujarnya.

Kegiatan pertama difokuskan pada pemanfaatan tanaman sereh. Selama ini sereh hanya digunakan masyarakat sebagai bumbu dapur atau pengusir nyamuk tradisional. Melalui pelatihan, sereh diolah menjadi minyak atsiri menggunakan metode penyulingan sederhana. 

Minyak atsiri inilah yang menjadi bahan dasar pembuatan lotion anti nyamuk. Ibu-ibu PKK kemudian diajarkan cara mencampur minyak atsiri sereh dengan bahan tambahan lain seperti emulsifier dan pelembab alami, hingga menjadi produk lotion yang aman digunakan. 

Prosesnya dilakukan secara higienis dengan memperhatikan takaran, suhu, dan teknik pencampuran. Produk lotion ini tidak hanya berfungsi sebagai penangkal gigitan nyamuk, tetapi juga memberi aroma segar dan lembut di kulit. 

“Produk ini bisa menjadi alternatif alami pengganti obat nyamuk kimia yang berpotensi menimbulkan efek samping,” jelas Rizka Aisyah, anggota tim.

Sesi berikutnya menghadirkan inovasi pangan fungsional berbasis daun kelor. Tim pengabdian mengajarkan proses pengolahan mulai dari pengeringan daun kelor, penggilingan menjadi tepung kelor, hingga pembentukan adonan camilan puff kelor. 

Camilan ini memiliki tekstur renyah, rasa gurih, dan yang terpenting kaya nutrisi. Tepung kelor terbukti mengandung protein, vitamin, serta mineral yang baik untuk pertumbuhan anak.

Produk puff kelor dipilih karena digemari balita, sehingga dapat menjadi solusi untuk mencegah masalah gizi kurang di desa. 

Menurut I Made Madiarsa, inovasi pangan ini diharapkan bukan hanya sekadar camilan, tetapi juga sebagai bagian dari edukasi gizi masyarakat. 

“Kami ingin masyarakat menyadari bahwa tanaman sederhana seperti kelor ternyata bisa diolah menjadi pangan modern yang disukai anak-anak, sekaligus menyehatkan,” paparnya.

Ketua PKK Desa Sembiran, Nyoman Sri Budiasih mengatakan merasa sangat terbantu dengan pelatihan ini. Bahan-bahannya ada di sekitar kita, dan kini kami tahu cara mengolahnya menjadi produk yang lebih bermanfaat.

"Semoga ke depan bisa menjadi usaha PKK Desa Sembiran,” katanya penuh semangat.

Tim PKM juga menekankan pentingnya manajemen usaha dan strategi pemasaran. Ibu-ibu PKK diberikan wawasan tentang cara mengemas produk yang menarik, membuat label sederhana, serta menjualnya melalui marketplace digital.

Dengan demikian, produk lotion anti nyamuk sereh dan puff kelor tidak hanya bermanfaat bagi keluarga, tetapi juga berpotensi menjadi ikon produk lokal Desa Sembiran. 

Harapannya, inovasi ini mampu mendukung program ketahanan pangan dan kesehatan keluarga sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi ibu-ibu PKK. 

Ketua tim, G. Nur Widya Putra, menegaskan bahwa kegiatan ini akan terus didampingi oleh tim pengabdian. 

Pihaknya mengucapkan terima kasih kepada Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) yang telah memberikan dukungan pendanaan sehingga kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Desa Sembiran.

“Kami berkomitmen untuk tidak hanya melatih, tetapi juga melakukan pendampingan berkelanjutan, termasuk dalam aspek produksi, manajemen, dan pemasaran. Dengan begitu, keberlanjutan program dapat terjamin,” pungkasnya. 

PKM: Suasana pelaksanaan PKM Desa Sembiran, Kecamatan Tejakula, Buleleng da pembuatan TOGA menjadi Produk Kesehatan dan Pangan Fungsional.

Editor : Rosihan Anwar
#STIKES Buleleng #Universitas Panji Sakti