Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Langka, Ibu dan Anak Raih Gelar Doktor di Wisuda Ke-78 Undiksha, Terharu Jalani Sidang Terbuka di Hari yang Sama, Saling Menguatkan

Marsellus Pampur • Selasa, 9 Desember 2025 | 03:01 WIB
Dr. Dr. Luh Putu Arsih Karnadi, SE., Ak., M.Pd., M.AP Pendiri Yayasan Widya Sentana (kiri) bersama sang putri, Dr. Putu Dina Yuniarini, SE., S.Psi., Gr., M.Pd.
Dr. Dr. Luh Putu Arsih Karnadi, SE., Ak., M.Pd., M.AP Pendiri Yayasan Widya Sentana (kiri) bersama sang putri, Dr. Putu Dina Yuniarini, SE., S.Psi., Gr., M.Pd.

MANGUPURA, radarbali jawapos.com - Ada  yang menarik dari Wisuda ke-78 Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) pada Jumat (5/12/2025).

Dalam kesempatan itu, Dr. Dr. Luh Putu Arsih Karnadi, S.E., Ak., M.Pd., M.AP., Pendiri Yayasan Widya Sentana, serta putrinya Dr. Putu Dina Yuniarini, S.E., S.Psi., Gr., M.Pd., Kepala Sekolah TK Sila Kumara sekaligus Pengelola PKBM Widya Sentana meraih gelar doktor.

Sesuatu yang langka. Mengingat menyelesaikan Strata 3 (S-3) dan meraih gelar doktor tidak mudah. Apalagi dilakukan orang tua dan anak secara bersamaan.

”Ini bukan sekadar kelulusan, tetapi hadiah terindah dari Tuhan atas proses dan usaha kami selama bertahun-tahun. Bisa mencapai puncak pendidikan di hari, tanggal, dan kampus yang sama adalah anugerah luar biasa,” ungkap Dr. Luh Putu Arsih.

Sebagai ibu sekaligus pendidik, Arsih menegaskan bahwa pendidikan tinggi bukan hanya tuntutan profesi, melainkan amanah moral untuk berkontribusi lebih luas pada masyarakat. 

Hal ini juga dia wariskan pada putrinya yang kini memimpin lembaga pembinaan anak usia dini dan pendidikan kesetaraan di bawah PKBM Widya Sentana.

Momentum wisuda bersama ini memberikan pesan kuat tentang pendidikan lintas generasi, yakni belajar tidak berhenti pada usia, dan pengabdian ilmu harus diteruskan.

“Pendidikan adalah warisan paling berharga yang bisa kami bangun, dan perjuangan yang dijalani bersama terasa jauh lebih bermakna,” ujar Arsih.

Pada kesempatan yang sama, Dr. Dina menuturkan bahwa perjalanannya tidak selalu mulus. Tanggung jawab akademik, pengelolaan lembaga pendidikan, serta peran keluarga kerap membuatnya berada pada titik lelah.

“Ada masa ingin menyerah, tapi kami saling menguatkan. Ibu mengingatkan bahwa ilmu harus sampai ke masyarakat, bukan sekadar gelar,” ujar Dina.

Meski memiliki pendekatan akademik berbeda yang justru saling melengkapi. Arsih mengandalkan metode kualitatif dan reflektif, sementara Dina lebih cepat menangkap analisis dengan pendekatan kuantitatif dan teknologi.

Momen paling haru terjadi ketika keduanya menjalani sidang terbuka pada hari yang sama. 

Sebagai pendiri Yayasan dan pengelola lembaga pendidikan yang aktif, keduanya berkomitmen melanjutkan kontribusi akademik melalui riset, publikasi ilmiah, pengembangan model pembelajaran berbasis budaya daerah, serta program pemberdayaan masyarakat, khususnya di Kabupaten Badung.

Selain menjadi teladan di lingkungan pendidikan formal, keduanya juga menegaskan perhatian besar bagi pendidikan non-formal di Bali melalui PKBM Widya Sentana, yang berfokus pada kesetaraan, keaksaraan, penyetaraan ijazah, dan akses pendidikan untuk semua kalangan.

“Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Pendidikan adalah hak semua orang, termasuk ibu-ibu yang ingin kembali bersekolah. Jika pendidikan dipandang sebagai ruang tumbuh, maka gelar hanyalah bonus, sedangkan manfaatnya bagi sesama adalah tujuan utama,” pungkas wanita kelahiran Denpasar, 19 Juni 1994 ini. 

Editor : Rosihan Anwar
#Wisuda Doktor #undiksha singaraja