Mahasiswa Universitas Mahasaraswati Denpasar saat program pembuatan lubang resapan biopori di Sekolah Dasar Negeri 1 Batuan Kaler.
GIANYAR, radarbali.jawapos.com -Mahasiswa Universitas Mahasaraswati Denpasar melakukan kegiatan pengabdian masyarakat di Desa Batuan Kaler, Sukawati, Gianyar.
Salah satu program kerja yang terlaksana yaitu pembuatan lubang resapan biopori di Sekolah Dasar Negeri 1 Batuan Kaler.
Lubang resapan biopori dipilih karena dapat menjawab isu-isu permasalahan khususnya di Sekolah Dasar Negeri 1 Batuan Kaler dan menjadi solusi yang murah dan efektif.
Berdasarkan hasil observasi lapangan di Sekolah Dasar Negeri 1 Batuan Kaler, beberapa titik di halaman sekolah dan akses masuk ruang kelas mengalami genangan setiap kali hujan turun, genangan tersebut menyebabkan adanya genangan air di permukaan, mengganggu kenyamanan kegiatan belajar dan bermain, serta mobilitas siswa dan guru.
Kondisi permukaan yang tergenang berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk sehingga menimbulkan risiko kesehatan bagi warga sekolah dan memerlukan tindakan penerapan resapan air sederhana yang efektif.
Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala sekolah ibu Ni Ketut Ratnadi S.Pd., sampah organik yang dihasilkan dari lingkungan sekolah selama ini hanya dikumpulkan lalu dibuang tanpa diolah lebih lanjut padahal semestinya sampah tersebut dapat diolah kembali menjadi kompos.
Pengolahan tersebut dapat dilakukan dengan metode sederhana seperti pembuatan lubang biopori skala kecil di lingkungan sekolah.
Dengan pengelolaan yang teratur, sekolah dapat mengurangi biaya pengangkutan sampah dan memperoleh kompos untuk pemeliharaan tanaman.
Biopori adalah lubang kecil berbentuk silinder yang dibuat tegak ke dalam tanah untuk mempercepat meresapnya air hujan dan memperbaiki sirkulasi udara di dalam tanah.
Selain mengurangi genangan di permukaan, biopori juga dimanfaatkan dengan memasukkan sampah organik seperti sisa sayur dan daun kering sehingga bahan tersebut diuraikan oleh organisme tanah menjadi kompos alami.
Sehingga volume sampah berkurang dan tanah menjadi lebih gembur serta subur; manfaat utama penerapan biopori antara lain mengurangi genangan setelah hujan, menekan tempat berkembang biaknya nyamuk, menyediakan kompos untuk tanaman sekolah, dan memperbaiki kondisi fisik tanah melalui peningkatan porositas dan aktivitas organisme tanah.
Berdasarkan hasil analisis situasi tersebut, mahasiswa Universitas Mahasaraswati bersama dosen pembimbing yaitu Dr. I Nyoman Resa Adhika, S.E., M.M. melakukan kegiatan pengabdian masyarakat di Sekolah Dasar Neheri 1 Batuan Kaler pada tanggal 7 Maret 2026.
Langkah pembuatan biopori dimulai dengan memilih lokasi yang sering tergenang dan aman dari fondasi bangunan, kemudian menandai titik titik yang akan dibuat lubang, lubang biopori dibuat sebanyak tiga titik.
Setelah itu tim membawa bor tanah manual, sekop, meteran, dan mengumpulkan bahan organik seperti sisa sayur, daun kering, serta kulit buah.
Pada tiap titik, tanah dibor dan menggali lubang tegak dengan diameter sekitar 10 cm dan kedalaman 80 cm, memastikan dinding lubang rapi agar tidak runtuh.
Biopori digunakan sebagai lubang resapan yang berfungsi menampung dan mempercepat masuknya air hujan ke dalam tanah.
Sehingga genangan di permukaan berkurang dan tanah menjadi lebih gembur, kita mengisi lubang dengan sisa sayur, daun kering, dan kulit buah secara berkala, bahan organik tersebut akan terurai oleh mikroba sehingga memperbaiki struktur tanah di sekitarnya.
Setiap lubang diberi penutup berlubang atau tanah gembur untuk mencegah masuknya sampah non‑organik, pengisian dilakukan setiap dua sampai empat minggu tergantung ketersediaan bahan, dan lubang yang penuh dibiarkan beberapa waktu sebelum sebagian kompos diambil untuk digunakan pada tanaman sekolah.
Pemanfaatan kompos hasil biopori dilakukan untuk pemupukan tanaman di pekarangan dan pot sekolah, guru dan petugas kebersihan bersama siswa mencatat lokasi lubang dan jadwal pemeliharaan agar tidak terjadi kelalaian, pemeriksaan rutin juga dilakukan untuk memastikan tidak ada penyumbatan dan air tetap meresap.
Dengan demikian biopori tidak hanya mengatasi masalah genangan dan mengurangi potensi vektor penyakit, tetapi juga menjadi sumber bahan organik untuk penghijauan, sekaligus sarana edukasi praktis tentang pengelolaan sampah dan siklus nutrisi tanah bagi seluruh warga sekolah.
Kepala sekolah menyampaikan kesan positif atas pelaksanaan pembuatan biopori.
Antusiasme siswa tampak saat mereka terlibat langsung dalam pengeboran dan pengisian lubang.
Petugas kebersihan memberikan dukungan teknis sehingga kegiatan berjalan lancar dan bernilai edukatif.
Sekolah pun merasakan manfaat langsung berupa berkurangnya genangan di beberapa titik halaman dan meningkatnya kesadaran lingkungan di kalangan siswa.
Sebagai pesan, kepala sekolah berharap kegiatan serupa dapat dilanjutkan secara berkala disertai pelatihan lanjutan bagi petugas kebersihan dan siswa.
Juga penyusunan jadwal pemeliharaan serta penyediaan tempat penampungan sementara untuk sampah organik agar bahan yang dimasukkan ke biopori lebih terkontrol.
Kepala Sekolah juga mengajak orang tua dan seluruh warga sekolah untuk mendukung program ini sehingga pengelolaan sampah dan penghijauan menjadi bagian dari budaya sekolah yang berkelanjutan.
Editor : Rosihan Anwar