RADAR BALI – Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk jenjang SD dan SMP per provinsi resmi dirilis oleh Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM) Kemendikdasmen. Data terbaru ini menempatkan Bali pada posisi yang cukup diperhitungkan di tingkat nasional.
Secara mengejutkan, rerata nilai siswa-siswi dari Pulau Dewata berhasil mengungguli capaian dua provinsi besar di Pulau Jawa, yakni Jawa Barat dan Jawa Timur.
Berdasarkan data yang dihimpun, rerata nilai TKA Bahasa Indonesia nasional untuk jenjang SD berada di angka 60,14, sedangkan untuk jenjang SMP mencatat angka 60,83.
Rerata capaian siswa di Bali berhasil melesat di atas ambang batas nasional tersebut. Untuk jenjang SD, Bali mencatatkan nilai rata-rata 64,15, sementara untuk jenjang SMP menyentuh angka 66,35.
Jika dikomparasikan dengan wilayah lain, performa literasi siswa Bali melampaui Jawa Barat yang harus puas dengan rerata nilai SD sebesar 60,22 dan SMP sebesar 61,26.
Bali juga tampil lebih unggul dari Jawa Timur yang mencatatkan nilai rata-rata 62,74 untuk tingkat SD dan 63,46 untuk jenjang SMP.
Selain mengungguli dua provinsi padat penduduk di Jawa tersebut, capaian Bali ini sekaligus mempertegas dominasi mutu pendidikan mereka di wilayah Sunda Kecil.
Bali tampak kontras jika disandingkan dengan wilayah tetangga seperti Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT) yang masih tertahan di bawah rata-rata nasional.
NTB memperoleh rerata nilai 54,76 (SD) dan 54,03 (SMP), sedangkan NTT mencatat skor 49,77 (SD) dan 52,47 (SMP).
Bukan Sekadar Angka dan Ranking
Menanggapi rilis data ini, Kepala Pusat Asesmen Pendidikan (Pusmendik) Rahmawati menegaskan bahwa sebaran angka tersebut bukanlah bentuk pemeringkatan atau ranking prestasi antarprovinsi.
Data yang dikeluarkan oleh kementerian diurutkan murni berdasarkan kode provinsi yang berlaku dalam sistem pendataan TKA.
Rahmawati menjelaskan bahwa instrumen TKA yang menggunakan sistem penskoran klasik dengan skala nilai 0–100 ini sengaja dilengkapi dengan kategori capaian dan deskripsi kemampuan murid.
Langkah ini diambil agar hasil evaluasi tidak berhenti sebagai komoditas angka semata, melainkan menjadi stimulus evaluasi bagi ekosistem pendidikan setempat.
“Kalau anak berada pada kategori memadai, maka orang tua dan guru bisa melihat kemampuan apa yang sudah dikuasai dan apa yang masih perlu diperkuat. Jadi TKA membantu semua pihak memahami strategi pembelajaran yang paling tepat bagi murid,” papar Rahmawati.
Tingginya partisipasi dalam TKA kali ini, dengan 8.708.891 murid mengikuti ujian, juga dinilai sebagai sinyal positif. Hal ini menjadi indikator meningkatnya kesadaran kolektif dari pihak sekolah, orang tua, hingga murid di daerah terhadap pentingnya asesmen berkala demi perbaikan mutu pendidikan berkelanjutan.***
Editor : Ibnu Yunianto