Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Darurat Siswa Baru di Jembrana: SDN 5 Pohsanten Zonk, 21 Sekolah Kritis

Muhammad Basir • Selasa, 14 Juli 2026 | 05:45 WIB
Ilustrasi sekolah SD minim siswa. (gambar digital gemini/radar bali)
Ilustrasi sekolah SD minim siswa. (gambar digital gemini/radar bali)

NEGARA, Radar Bali.id – Krisis peserta didik di sejumlah sekolah dasar negeri di Kabupaten Jembrana belum menunjukkan tanda mereda.

Baca Juga: Mangkrak, Setahun Terbengkalai karena Regrouping, Eks Gedung SDN Blimbingsari Bakal Disulap Jadi Koperasi Desa, Begini Ceritanya

Pada penerimaan peserta didik baru tahun ajaran 2026/2027, satu sekolah bahkan tidak memperoleh seorang pun siswa baru. Sementara 21 SD lainnya hanya menerima kurang dari 10 murid.

Fenomena ini kembali menjadi alarm bagi Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Jembrana untuk menata ulang keberadaan sekolah-sekolah dengan jumlah siswa yang terus menyusut.

Kabid Pembinaan SD Disdikpora Jembrana, I Nyoman Koriawan mengatakan, secara umum proses penerimaan peserta didik baru di jenjang SD berlangsung lancar. Namun, persoalan minimnya jumlah siswa masih menjadi tantangan yang terus berulang setiap tahun.

Sekolah yang tidak memperoleh siswa baru adalah SDN 5 Pohsanten. Kondisi tersebut membuat sekolah itu masuk daftar evaluasi dan berpotensi di-regrouping apabila memenuhi persyaratan. ”Tahun ini ada satu sekolah yang tidak menerima siswa," ujarnya, Senin (13/7/2026).

Selain satu sekolah tanpa siswa baru, Disdikpora juga mencatat 21 SDN hanya menerima kurang dari 10 peserta didik baru. Jumlah sekolah dengan murid minim paling banyak berada di Kecamatan Mendoyo. ”Memang ada sekolah yang menerima siswa kurang dari 10 orang per sekolah," katanya.

Koriawan menjelaskan, nihilnya siswa baru di SDN 5 Pohsanten dipengaruhi faktor demografi. Selain lokasi sekolah yang cukup jauh dari permukiman, tahun ini tidak ada anak usia sekolah dasar yang tinggal di sekitar wilayah tersebut.

Kondisi itu hampir sama dengan sejumlah sekolah lain yang sebelumnya mengalami penurunan jumlah peserta didik hingga akhirnya harus digabung dengan sekolah lain.

Meski demikian, Disdikpora belum langsung memutuskan regrouping. Evaluasi akan dilakukan terlebih dahulu untuk melihat tren jumlah siswa dalam beberapa tahun terakhir serta proyeksi jumlah anak usia sekolah di wilayah tersebut. ”Khusus SDN 5 Pohsanten akan kami evaluasi dulu. Kalau memenuhi syarat regrouping, misalnya selama tiga tahun jumlah siswanya terus menurun dan ke depan diperkirakan tidak ada siswa lagi, tentu akan kami tindak lanjuti," tegas Koriawan.

Kondisi ini memperlihatkan persoalan pemerataan pendidikan di Jembrana belum sepenuhnya tuntas. Di satu sisi, sejumlah sekolah di kawasan perkotaan masih menjadi pilihan utama masyarakat.

Di sisi lain, sekolah-sekolah di wilayah terpencil terus kehilangan peserta didik akibat minimnya jumlah anak usia sekolah dan perubahan pola persebaran penduduk. Jika tren ini terus berlanjut, regrouping diperkirakan akan kembali menjadi opsi yang ditempuh pemerintah daerah untuk mengefektifkan penyelenggaraan pendidikan. [*]

Editor : Hari Puspita
penerimaan siswa baru tahun ajaran baru Krisis Siswa jembrana sekolah dasar negeri