GIANYAR, radarbali.jawapos.com – Potensi kuliner lokal Desa Saba, Gianyar, terus dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi masyarakat.
Salah satunya melalui PKM SATELiT (Saba Telur Asin Nikmat), program Pengabdian kepada Masyarakat yang mendorong peningkatan Efisiensi, Mutu, dan Daya Saing (EMAS) UMKM Telur Asin Desa Saba melalui teknologi tepat guna berbasis smart processing.
Program ini menyasar Kelompok UMKM “Telur Asin Desa Saba” yang diketuai Desak Nyoman Sri Utari, dengan dukungan Kepala Desa Saba I Ketut Redhana, SP.
Kegiatan dilaksanakan melalui skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat dan didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Tahun Anggaran 2026.
PkM ini merupakan kolaborasi Universitas Mahasaraswati Denpasar (Unmas) dan Politeknik Internasional Bali (PIB).
Tim diketuai Dr. I Gusti Ayu Imbayani, S.E., M.M., dengan anggota Ir. I Dewa Made Adi Baskara Joni, S.Kom., M.Kom., Ph.D. dan Sandy Dwiputra Yubianto, S.E., B.A., M.Par.
Kegiatan PkM mulai dilaksanakan pada Bulan Juni 2026 melalui rangkaian introduksi teknologi, pelatihan, dan pendampingan bagi Kelompok UMKM.
Dari Produksi Konvensional Menuju Smart Processing
Desa Saba memiliki potensi ekonomi masyarakat yang kuat, salah satunya melalui usaha pengolahan pangan berbasis telur bebek.
Kelompok UMKM Telur Asin Desa Saba menjadi salah satu unit usaha mikro potensial yang secara turun-temurun menjaga keberadaan kuliner lokal tersebut.
Telur asin bukan sekadar produk pangan. Di tengah intensitas aktivitas sosial, budaya, dan upacara adat masyarakat Bali, kebutuhan terhadap pangan olahan yang praktis, berkualitas, higienis, dan memiliki nilai ekonomi relatif tinggi.
UMKM Telur Asin Desa Saba merupakan usaha rumah tangga yang memproduksi sekitar 300–500 butir telur per minggu, dengan bahan baku dari peternak lokal.
Namun, proses produksi sebelumnya masih banyak dilakukan secara manual.
Pencucian 500 butir telur dapat memerlukan waktu sekitar empat jam, sementara perebusan konvensional berisiko menyebabkan telur retak.
Produk juga masih didominasi telur asin rebus, dengan pemasaran, kemasan, pencatatan keuangan, dan penerapan CPPB-IRT yang masih perlu diperkuat.
Menjawab persoalan tersebut, tim PkM memperkenalkan dua teknologi tepat guna, yakni ACT-Wash (Automatic Controlled Egg Washing System) untuk membantu mempercepat dan menyeragamkan proses pencucian telur, serta BRINE-LOCK (Controlled Immersion Brining System) untuk membantu mengontrol proses perendaman telur dalam larutan garam.
Kedua inovasi tersebut menjadi bagian dari pendekatan smart processing untuk meningkatkan efisiensi sekaligus menjaga konsistensi mutu produk.
Telur Asin Dikembangkan Menjadi Produk Kekinian
Pendampingan tidak berhenti pada teknologi produksi. Tim juga melatih mitra mengembangkan produk turunan berupa bolu kukus salted egg dan bubuk salted egg.
Diversifikasi ini penting karena memberikan pilihan baru bagi konsumen sekaligus membuka pasar yang lebih luas.
Telur asin tidak lagi hanya diposisikan sebagai lauk atau pangan pendamping, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk oleh-oleh dan pangan olahan dengan nilai tambah.
Mitra juga mendapatkan pelatihan pengemasan dan pelabelan agar produk lebih menarik, informatif, higienis, serta memiliki identitas sebagai produk khas Desa Saba.
Di bidang pemasaran, UMKM diperkenalkan dengan digital marketing melalui website, media sosial, dan marketplace.
Sementara untuk pengelolaan usaha, mitra dilatih melakukan pencatatan keuangan sederhana menggunakan aplikasi digital seperti Buku Kas.
Aspek keamanan pangan turut diperkuat melalui bimbingan teknis CPPB-IRT, meliputi penataan alur produksi, sanitasi peralatan, serta pemisahan area bersih dan area kotor.
Dari Saba untuk Pasar yang Lebih Luas
Ketua Kelompok UMKM Telor Asin Desa Saba, Desak Nyoman Sri Utari, menyampaikan apresiasi atas pendampingan yang diberikan.
“Kami sangat terbantu karena selama ini banyak proses masih dilakukan secara manual.
Dengan adanya teknologi dan pelatihan ini, kami belajar meningkatkan proses produksi, mengembangkan produk baru, serta memasarkan produk secara digital.”
Kepala Desa Saba, I Ketut Redhana, SP, juga mengapresiasi program tersebut sebagai upaya mengembangkan potensi ekonomi desa.
“Potensi yang dimiliki masyarakat tidak cukup hanya dipertahankan, tetapi harus dikembangkan.
Teknologi, pengemasan, pemasaran digital, dan pengelolaan usaha akan membantu produk lokal Desa Saba memiliki daya saing lebih baik.”
Sementara itu, Ketua Tim PkM Dr. I Gusti Ayu Imbayani, S.E., M.M., menegaskan bahwa program dirancang berdasarkan kebutuhan nyata mitra.
“Kami tidak ingin teknologi hanya berhenti sebagai alat. Karena itu, PKM SATELiT mengintegrasikan teknologi produksi, peningkatan mutu, diversifikasi produk, pengemasan, pemasaran digital, pembukuan, dan penguatan CPPB-IRT.”
Menurutnya, konsep EMAS—Efisiensi, Mutu, dan Daya Saing menjadi arah utama program.
“Harapannya, setelah program selesai, mitra tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga mampu mengelola usaha secara lebih profesional, menghasilkan produk yang lebih beragam, dan menjangkau pasar yang lebih luas.”
Melalui PKM SATELiT, telur asin yang selama ini menjadi bagian dari tradisi kuliner masyarakat Desa Saba diarahkan menjadi produk yang lebih efisien, higienis, inovatif, dan bernilai tambah.
Kolaborasi antara Unmas Denpasar, Politeknik Internasional Bali, Pemerintah Desa Saba, dan Kelompok UMKM Telur Asin Desa Saba menjadi contoh.
Bahwa perguruan tinggi dapat hadir bukan hanya membawa pengetahuan, tetapi juga membantu mengubah pengetahuan tersebut menjadi inovasi yang dapat digunakan masyarakat, sekaligus mampu memperkuat ekonomi lokal dan membawa Telur Asin Desa Saba menjangkau pasar yang lebih luas.
Editor : Rosihan Anwar