Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Miris! Alami KDRT Sejak Awal Pernikahan, Warga Takmung Klungkung yang Dimutilasi Suami di Malang Jatim

Dewa Ayu Pitri Arisanti • Rabu, 3 Januari 2024 | 14:00 WIB
Rumah saat korban Ni Made Sutarini sedang remaja adalah warga Dusun Banda Desa Takmung Klungkung, Bali
Rumah saat korban Ni Made Sutarini sedang remaja adalah warga Dusun Banda Desa Takmung Klungkung, Bali

SEMARAPURA, radarbali.id -  Ni Made Sutarini, 55, korban mutilasi oleh suaminya sendiri James Loodewky Tomatala, 61 bertempat di rumah pribadi mereka, Jalan Serayu, Kelurahan Bunulrejo, Blimbing, Kota Malang, Sabtu (30/12) merupakan warga Banjar Banda, Desa Takmung, Klungkung.

Selama hidupnya, Sutarini diketahui kerap mendapat kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Hanya saja perlakuan kasar suaminya itu tidak dilaporkan ke pihak berwajib karena takut.

Adik Sutarini, Komang Suardana, 48 saat ditemui di kediamannya Banjar Banda, Selasa (2/1) tampak terpukul dengan meninggalnya sang kakak kedua dari tiga bersaudara tersebut. Dengan mata yang berkaca-kaca, Suardana berharap Tomatala dihukum penjara seumur hidup. “Saya meminta kepada pihak berwajib agar pelaku dihukum seberat-beratnya. Dihukum penjara seumur hidup,” ujarnya.

 Baca Juga: Pagi Buta, Kamar Mandi Warga Siangan Ambruk, Begini Penyebabnya

Dia pun mengenang masa-masa kelam Sutarini selama menjalani hidup berumah tangga dengan Tomatala. Dituturkannya, Sutarini merupakan seorang perawat di Surabaya sebelum menikah.

Sejak menikah, Sutarini diminta untuk berhenti bekerja oleh Tomatala. Diduga permintaan untuk berhenti bekerja itu karena rasa cemburu Tomatala. “Ijazah kakak saya (korban, Red) diambil dan disimpan suaminya (pelaku, Red). Mungkin sampai sekarang tidak diketahui di mana ijazah itu,” terangnya.

Tidak hanya tidak diberikan bekerja, menurutnya Sutarini juga kerap menerima KDRT. Bahkan anak-anak Sutarini tidak luput dari perlakuan kasar pelaku sehingga memiliki ketakutan terhadap pelaku.

“Kakak saya sering dipukul. Saya pernah lihat tangan kakak saya disulut rokok, kepalanya dibenturkan ke tembok. Anak-anaknya juga dipukul, makanya takut sama bapaknya,” katanya.

Hanya saja karena pertimbangan anak yang masih kecil, Sutarini tidak melaporkan KDRT yang dilakukan Tomatala ke pihak berwajib. Begitu juga dia yang pada saat itu masih muda, tidak berani melindungi sang kakak yang menerima kekerasan. “Kakak saya juga dilarang ke luar rumah. Kalau ketahuan, langsung dipukul dan disekap,” kenangnya.

Lantaran tidak kuat menerima kekerasan, Sutarini sempat melarikan diri ke kampung halamannya di Banjar Banda beberapa tahun lalu. Namun akhirnya kembali lagi setelah Tomatala menemui Sutarini di Banjar Banda. “Tapi kembali lagi dianiaya,” jelasnya.

Lebih lanjut Suardana mengungkapkan, Tomatala sempat datang ke kediamannya untuk mencari Sutarini karena tidak pulang-pulang sebelum Natal atau sekitar 20 hari lalu. Pada saat itu Tomatala diantar oleh anak keduanya yang sebenarnya telah mengetahui posisi Sutarini sebagai pengasuh anak di rumah kerabatnya asal Banjar Banda namun tinggal di Surabaya.

“Di sini sempat marah-marah mengatakan istrinya selingkuh dan hilang dari lama bahkan mengancam membunuh jika ditemukan. Anak kedua kakak saya memberi kode kepada keluarga agar tidak memberitahu ayahnya karena sangat temperamen,” kata Suardana.

Menurutnya, sudah tiga bulan Sutarini bekerja sebagai pengasuh anak di Surabaya. Sebelum memutuskan bekerja, Sutarini menyempatkan diri pulang ke kampung halaman saat Hari Raya Saraswati dan setelah itu langsung ke Surabaya.

“Tidak ke Malang ke rumah suaminya, karena takut dianiaya,” imbuhnya.

Sebenarnya Sutarini berencana pulang ke kampung halaman Rabu (3/1) lantaran pada Jumat (5/1) akan digelar pengabenan terhadap sepupu korban yang lebih dulu meninggal dunia. “Tapi justru saya mendapat kabar dari keponakan saya (anak korban, Red) kalau kakak saya meninggal dengan cara yang sadis,” ujarnya.

Korban rencananya dikremasi secara Hindu di Malang, pada Rabu (3/1) pagi. Prosesi tersebut diurus oleh kerabat yang selama tiga bulan mengajak Sutarini sebagai pengasuh. Pihak keluarga sebanyak tiga orang juga akan ke sana mengikuti proses upacara dengan membawa sarana tirta suci dari Pura Kawitan dan merajan.

“Kami bertiga ke sana, bersama keponakan juga, karena di sini juga akan digelar ngaben adik jadi tidak bisa banyak-banyak berangkat. Selesai upacara langsung balik ke Bali, anaknya yang nomor dua sudah di Malang untuk menyiapkan prosesi upacara secara Hindu di Malang,” imbuhnya.

Sepupu korban, I Wayan Surata menambahkan, KDRT sering dialami korban dan berkali-kali kabur dari Malang pulang ke Bali karena hal tersebut. Sutarini dan Tomatala bertemu di salah satu rumah sakit swasta di Surabaya.

Pada saat itu, Sutarini merupakan perawat di rumah sakit tersebut dan Tomatala merupakan pasiennya. Setelah menikah Sutarini berhenti bekerja dan ikut Tomatala yang bekerja di PLN. “Anak-anaknya menjadi saksi peristiwa ibunya sering dianiaya ayahnya. Setiap disekap ataupun dipukul pasti lapor ke saya menceritakan peristiwa itu. Tapi karena tidak ingin meninggalkan anak-anaknya, korban tetap menjalani rumah tangga,” tandasnya.***

 

Editor : M.Ridwan
#radar bali #Ni Made Sutarini #malang jatim #mutilasi #kdrt #takmung #suami #klungkung