SINGARAJA, RadarBali.id-Petani di Kabupaten Buleleng dihimbau waspada pada saat beraktivitas. Pasalnya, perubahan cuaca saat ini wajib diwaspadai apalagi adanya sambaran petir.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Buleleng meminta aktivitas pertanian selalu waspada bila cuaca sudah berubah menjadi mendung. Ini untuk mengantisipasi adanya sambaran petir.
Apalagi petani yang beraktivitas di ruang terbuka, besar kemungkinan terkena sambaran petir.
Seperti yang terjadi di Kabupaten Jembrana, sebanyak 12 orang petani tersambar petir saat panen semangka pada Sabtu (27/1/2024) sekitar pukul 15.00 Wita.
Dari keterangan yang diberikan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), saat ini wilayah Kabupaten Buleleng masuk dalam puncak musim hujan. Sehingga potensi bencana maupun petir sangat mungkin terjadi.
"Petani yang mulai melakukan bercocok tanam ataupun aktivitas pertanian lainnya, kalau cuaca mendung berpotensi hujan lebih baik berteduh dulu. Untuk mencegah tersambar petir," imbau Kepala Pelaksana BPBD Buleleng, Putu Ariadi Pribadi pada Minggu (28/1/2024).
Selain itu, BPBD Buleleng juga menghimbau kepada masyarakat Buleleng agar waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi. Seperti banjir, tanah longsor, cuaca ekstrim, serta pohon tumbang.
Ariadi Pribadi meminta agar masyarakat tak beraktivitas di luar ruangan apabila sedang terjadi hujan. Kecuali dalam keadaan mendesak saja.
Hal ini untuk menghindari segala kemungkinan buruk yang terjadi ketika hujan turun. “Apabila hujan, kalau tidak ada kegiatan mendesak, kita harap tidak melaksanakan kegiatan di luar rumah,” harapnya.
Bersamaan dengan itu, guyuran hujan yang melanda Kabupaten Buleleng pada Sabtu (27/1/2024) sore menyebabkan bencana banjir di wilayah Banjar Dinas Kayu Putih, Desa Sanggalangit, Kecamatan Gerokgak.
Banjir setinggi mata kaki yang meluap akibat hujan deras, sempat mengakibatkan kemacetan lantaran air meluap hingga ke Jalan Raya Singaraja-Gilimanuk.
“Banjirnya tidak sampai masuk rumah, hanya di jalan raya. Namun airnya cukup membuat kendaraan kesulitan untuk melintas. Airnya surut sejam kemudian,” jelas Perbekel Desa Sanggalangit, Nyoman Sudika di konfirmasi terpisah pada Minggu (28/1/2024).
Sudika menyebutkan banjir tersebut berasal dari sungai desa yang meluap. Sehingga wilayahnya sering menjadi langganan banjir ketika musim hujan.
Sebagai antisipasi, pemerintah daerah sebenarnya sudah membuat gorong-gorong di sungai desa setempat. Hanya saja, air sungai kembali meluber saat hujan.
Sudika mengaku pihaknya juga berencana untuk menambah sodetan, namun belum terealisasi karena terkendala lahan.
"Pembangunan terkendala pemilik lahan yang tidak mau mengorbankan sedikit lahannya untuk dibangun sodetan," tutupnya. [*]
Editor : Hari Puspita