AMLAPURA, Radar Bali.id- Wilayah ujung timur Bali ini tengah menjadi sorotan sejak seminggu terakhir. Ini setelah adanya kasus bunuh diri Ni Komang Ayu Miranda yang viral baru-baru ini meski tempat kejadiannya di Denpasar.
Namun karena Ayu Miranda merupakan warga asal Antiga Kelod, Kecamatan Manggis yang merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Karangasem.
Sebenarnya, sehari setelah kejadian Ayu Miranda bunuh diri di rumah kosnya di Denpasar, di Kecamatan Manggis tepatnya di Desa Selumbung, pada Sabtu (16/3/2024) lalu, juga terjadi kejadian gantung diri. Bahkan lebih miris dengan korban yang masih berusia 16 tahun. Pemicunya hanya karena sempat cekcok dengan ibu kandungnya lantaran tak terima saat dinasihati.
Pada awal bulan Maret, kasus bunuh diri juga terjadi dengan korban remaja 16 tahun di Desa Jungutan, Kecamatan Bebandem. Korban nekat mengakhiri hidup lantaran mengalami masalah asmara.
Sejak mengawali tahun 2024 hingga Maret ini, sudah ada dua remaja 16 tahun yang nekat mengkahiri hidup. Secera keseluruhan, kasus bunuh diri di Karangasem tercatat 11 kasus. "Itu data dari awal Januari hingga 20 Maret ini," kata Kasi Humas Polres Karangasem, Iptu I Gede Sukadana, Seizin Kapolres Karangasem, Rabu (20/3/2024).
Sukadana menambahkan, dari jumlah kasus bunu diri itu dilatarbelakangi masalah yang beragam. Namun yang paling mendominasi yakni masalah ekonomi hingga depresi akibat penyakit yang tak kunjung sembuh.
Dengan dua kasus bunuh diri yang melibatkan remaja itu, Kabid Pemberdayaan Perempuan dan Hak Anak, Dinas Sosial Karangasem, Ni Made Suradnyani menyebut, pihaknya selama ini telah melakukan upaya sosialisasi dengan mendatangi sekolah-sekolah hingga desa-desa. "Kami sosialisasikan bagaimana pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak termasuk bunu diri itu," ucapnya.
Nekatnya remaja memilih bunuh diri sebagai pilihan terakhir dipengaruhi banyak faktor. Selain faktor lingkungan dan media sosial, peran orang tua juga menjadi hal yang penting.
"Seperti kurangnya komunikasi antara anak dan orang tua karena kesibukan. Sehingga seperti ada jarak. Pelarian anak ketika tidak ada tempat curhat saat ada masalah ya media sosial. Padahal media sosial ini sangat memberi pengaruh terhadap perilaku kekerasan anak," jelasnya.
Di tahun 2023 lalu, pihaknya telah menggelar 14 kali sosialisasi turun ke lapangan langsung. Sementara melalaui media sosial juga digencarkan.
Hanya saja, untuk tahun ini anggaran sosialisasi pencegahan minim sehingga hanya mampu dilakukan selama delapan kali saja. [*]
Editor : Hari Puspita