Dulu, waktu kecil sempat viral karena memanjat tiang bendera nan tinggi. Usai kejadian dijanjikan Presiden Jokowi untuk jadi tentara, namun sempat tak lolos seleksi, karena kendala fisik, kurang tinggi. Namun akhirnya Yohanes Gama Marchal Lau alias Joni, pemanjat tiang bendera itu telah lulus seleksi TNI AD.
JONI kini bisa berbangga, mencapai cita-cita. Dia sekarang menjalani pendidikan pembentukan Bintara Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD), bersama 218 orang prajurit lainnya, di Resimen Induk Kodam (Rindam) IX/Udayana, Tabanan.
Kapada Jawa Pos Radar Bali, Kepala Penerangan Kodam IX/Udayana, Kolonel Inf Agung Udayana, S.E., M.M., mengatakan, pemuda asal perbatasan Indonesia -Timor Leste, Nusa Tenggara Timur (NTT), itu memang sempat gagal dalam perekrutan TNI AD.
Tentu karena beberapa hal, termasuk menyangkut tinggi badan. Namun, karena semangat, kegigihan, dan memiliki mental perjuangan, Joni akhirnya lulus. "(Dia) mekukan aksi rela berkorban, yakni spontan memanjat tiang bendera," tutur Kolonel Inf Agung Udayana, Minggu (6/10/2024).
Dikatakan, setelah melihat ada masalah pada tali pengerek ketika diadakan upacara peringatan hari Kemerdekaan RI ke - 73, di Pantai Motaain, Desa Silawan, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), 17 Agustus 2018.
"Ya Rekrutan awal dia gagal, rekrutan kedua lolos. Joni mempunyai potensi, mental, semangat rela berkorban, dan penghargaan kepada (Sang Saka) Merah Putih," lagi kisahnya. Diakadkan, Joni diketahui sungguh-sungguh, bahkan semangat mengikuti serangkaian tes.
Juga didukung bimbingan para pelatih dengan memanfaatkan waktu yang ada, akhirnya dia sampai di Tingkat Pusat dan dinyatakan lulus dalam penerimaan Bintara PK TNI AD Reguler kategori Keahlian Tahun 2024 di Bandung.
"Keberhasilan Joni tersebut merupakan hasil dari kerja keras dan kesungguhannya dalam meraih cita-cita," kisahnya. Kini Joni bersama 218 calon bintara lain, sementara mengikuti pendidikan selama lima bulan di Resimen Induk Kodam (Rindam) IX/Udayana, Tabanan.
Nantinya dilanjutkan pendidikan kejuruan selama 3 Bulan. Mereka menjalani dilatih di masing-masing tempat, sesuai kemampuan maupun keterampilan sebagai prajurit. Para prajurit akan diberikan pendidikan dasar kemiliteran.
Baik pengetahuan, keterampilan, jasmani, karakter, dan wataknya sebagai prajurit. Harapannya, nanti, mereka bisa lahir mempunyai karakter, semangat perjuangan, dan rela berkorban baik jiwa raga.
Pimpinan sempat melontarkan beberapa pertanyaan, Joni pun menjawab dengan tegas. Salah satunya, Joni jawab bahwa siap ditempatkan di mana saja
Untuk diketahui, Joni sempat bersekolah selama tiga tahun di SD Kelas Jauh Halimuti, Desa Silawan, Tasifeto Timur, Belu. Lalu SMP Negeri 1 Silawan, Atambua,. Dan alumni, SMAN 1 Atambua, Nusa Tenggara Timur. [*]
Editor : Hari Puspita