Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Bulan Purnama Bernama Hunter’s Moon Hiasi Langit Bali, Begini Sebab dan Makna Penampakannya

Miftahuddin M.Halim • Jumat, 18 Oktober 2024 | 05:21 WIB
BULAN PEMBURU: Penampakan fenomena bulan purnama yang disebut Hunter
BULAN PEMBURU: Penampakan fenomena bulan purnama yang disebut Hunter

DENPASAR, radarbali.id - Bulan adalah satelit Bumi. Bercahaya karena mendapat pantulan sinar Matahari. Sebuah fenomena unik dan memikat perhatian publik kali ini adalah bulan purnama yang berlangsung di bulan Oktober 2024 disebut Hunter’s Moon atau bulan pemburu, istilah orang-orang barat.

Di laman Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) disebutkan fenomena Hunter’s Moon atau bulan purnama pada Oktober 2024 dapat disaksikan masyarakat di seluruh wilayah Indonesia.

Berdasarkan pemantauan BMKG, dilihat dari tabel periodik bulan tahunan waktu universal, fenomena Hunter Moon mulai berlangsung pada tanggal 16, 17 dan 18 Oktober 2024.

 Baca Juga: Di Bali, Super Blue Moon Bersamaan Purnama Sasih Ketiga, Momentum Penyucian Lahir Batin

Sedangkan puncak bulan purnama dengan fase penuh akan jatuh pada 17 Oktober petang. Fotografer radarbali.id, Miftahuddin Halim mengabadikan momen fenomena alam langka ini pada Kamis 17 Oktober 2024 petang (malam Jumat).

Dilansir radarbali.id dari jawapos.com, di wilayah Indonesia bagian barat, bulan terbit pada pukul 17.39 WIB dan terbenam pukul 05.03 WIB.

 Fenomena Hunter’s Moon mengalami sejumlah fase. Pada tanggal 16 Oktober 2024 bulan berada pada fase waxing bungkuk atau bagian bulan yang gelap berbentuk sabit dan sebagian besar permukaan bulan akan terang. 

 Baca Juga: Ingin Nonton Super Blue Moon di Bali? Berikut Jadwalnya Mulai Malam Hari Ini

Lalu pada 18 Oktober 2024 bulan berada pada fase bungkuk memudar atau bagian bulan yang terang akan berkurang dari 99 persen menjadi 50 persen.

Nantinya, pada puncak fenomena Hunter Moon, bulan akan memiliki jarak terdekat dengan bumi pada tahun ini.

"Pada puncaknya itu ukuran bulan akan lebih besar karena memiliki jarak terdekat dengan bumi pada tahun 2024 ini. Bulan akan terlihat di wilayah Indonesia, kecuali kondisi cuaca hujan," ujar Ketua Tim Bidang Geofisika Potensial BMKG Syrojudin.

Ia juga menegaskan fenomena Hunter Moon tidak berbahaya sehingga masyarakat dapat melihatnya dengan mata telanjang. 

 Baca Juga: Full Moon, Bali Berpotensi Banjir Rob di Sejumlah Pantai

Namun, dampaknya pada saat fase bulan purnama adalah dapat berpengaruh pada pasang surut air laut. Hal ini yang perlu diwaspadai khususnya bagi masyarakat yang berada di kawasan pesisir.

Lantas apa penyebab terjadinya Hunter’s Moon ini?. , Mengutip dari laman Country Living, Hunter Moon merupakan fenomena alam saat bulan purnama berada pada jarak terdekat dengan bumi dan seringkali terjadi pada Oktober, yaitu dengan jarak hanya 357.364 km (222.056 mil) dari bumi.

Hal itu bisa dibandingkan dengan bulan purnama mikro terjauh pada bulan Februari lalu, yang berjarak hingga 405.917 km (252.225 mil). Dengan kata lain, perbedaan jaraknya lebih dari 30.000 mil.

 Baca Juga: Dispar Hidupkan Walking Tour Heritage City Denpasar, Ini Rute yang Ditawarkan

Dinamakan Hunter Moon atau Bulan Pemburu karena dalam masyarakat tradisional, Hunter Moon merupakan penanda bagi masyarakat dahulu agar menyimpan stok daging untuk musim dingin.

Hal itu karena masyarakat dahulu masih mengandalkan berburu. Saat terjadi Hunter Moon, maka itulah kesempatan yang baik bagi mereka untuk berburu. 

Disamping untuk persediaan stok musim dingin yang tentunya akan sulit untuk berburu binatang, cahaya bulan purnama pada Hunter Moon bisa membantu mereka memudahkan dalam berburu banyak binatang.***

Editor : M.Ridwan
#pemburu #Bulan purnama #Hunter Moon