NEGARA, Radar Bali.id – Sebuah insiden perusakan dua baliho terjadi. Baliho kritik yang menyoroti ancaman alih fungsi lahan oleh investor di Taman Nasional Bali Barat (TNBB) yang dirusak itu mengejutkan banyak pihak.
Kedua baliho yang berdiri di pintu masuk Areal Cekik (ACK), Gilimanuk, ini ditemukan dalam kondisi rusak parah, dengan salah satunya bahkan hancur dan robek menjadi potongan-potongan kecil.
Baliho-baliho ini menjadi perhatian publik karena lokasinya yang strategis di pinggir jalan Denpasar–Gilimanuk, membuatnya mudah terlihat oleh ribuan pengendara setiap hari. Isinya jelas: sebuah seruan untuk "Selamatkan Hutan Bali Barat dari Investor."
Pada baliho pertama, terdapat foto I Made Sutaadi, seorang tokoh yang dikenal sebagai Bapak Konservasi Hutan Bali Barat dan penyelamat burung Jalak Bali dari kepunahan.
Baliho kedua memuat pesan serupa, diperkuat dengan foto dokumen penghargaan konservasi dunia yang pernah ia terima. Pesan ini seolah menjadi simbol perlawanan terhadap potensi perusakan ekosistem.
Hingga saat ini, pihak berwenang masih menyelidiki siapa pelaku di balik pemasangan dan perusakan baliho tersebut. Kejadian ini menimbulkan pertanyaan besar di kalangan aktivis lingkungan dan masyarakat: apakah kerusakan baliho ini merupakan upaya untuk membungkam suara-suara yang peduli terhadap kelestarian TNBB?
Belum ada informasi resmi mengenai waktu pemasangan dan pelaku perusakan. Namun, insiden ini menambah daftar panjang kekhawatiran tentang masa depan kawasan konservasi vital di Bali ini.
Siapa pun yang bertanggung jawab, satu hal yang pasti: perusakan ini bukan hanya merusak selembar spanduk, melainkan juga simbol perjuangan untuk melindungi warisan alam Bali dari kepentingan ekonomi yang merusak..[*]
Editor : Hari Puspita