Debur ombak Pantai Sangsit pada Kamis (15/1/2026) lalu menjadi saksi bisu sebuah perjuangan hidup yang luar biasa. Di sebuah gubuk sederhana di pinggir pantai, Neny Pungwam, seorang perempuan berusia 22 tahun asal Manokwari, Papua Barat, bertaruh nyawa melahirkan putra pertamanya seorang diri.
INI bukan cerita novel. Ini kisah nyata. Neny bukanlah pelancong yang sedang berlibur. Ia adalah seorang ibu dengan riwayat gangguan jiwa (ODGJ).
Neny biasa menjalani hari-harinya dalam kesunyian, jauh dari keluarga, dan tanpa pendamping hidup.
Namun, di balik keterbatasan mentalnya, naluri seorang ibu bicara lebih keras dari segalanya.
Naluri Ibu yang Melampaui Segalanya
Saat ditemukan warga, Neny baru saja melewati proses persalinan yang mendebarkan. Hebatnya, sebelum bantuan medis datang, ia sudah memeluk dan menyusui bayinya dengan penuh kasih sayang.
"Menurut cerita Neny, sebelum orang-orang datang, dia sudah memberikan ASI untuk bayinya," ungkap Kepala Dinas Sosial Kabupaten Buleleng, I Putu Kariaman Putra, dengan nada haru, Senin (19/1/2026).
Bayi mungil berjenis kelamin laki-laki itu lahir sehat dengan berat 2,9 kilogram dan panjang 43 centimeter. Meski ibunya memiliki riwayat kejiwaan, ikatan batin antara keduanya terlihat begitu kuat. Neny masih bisa diajak berkomunikasi meski terbatas, menunjukkan sisa-sisa kekuatan seorang ibu yang ingin melindungi buah hatinya.
Jejak yang Terputus
Kisah Neny di Bali Utara sebenarnya bukan hal baru. Dua tahun lalu, ia sempat dirawat di RSJ Provinsi Bali di Bangli. Namun, entah bagaimana, ia kembali ke Buleleng sendirian dan memilih tinggal di pesisir pantai. Tanpa keluarga dan tanpa dokumen kependudukan lokal, Neny dinyatakan sebagai warga terlantar.
"KTP-nya masih Papua Barat. Karena tidak ada keluarga di sini, kami mengategorikannya sebagai warga yang terlantar," tambah Kariaman.
Menuju Rumah Aman
Pemerintah Kabupaten Buleleng kini bergerak cepat. Mengingat kondisinya yang rentan, Neny dan bayinya telah dipindahkan ke Rumah Aman. Di sana, mereka tidak hanya mendapatkan atap untuk berteduh, tetapi juga perawatan lanjutan dan pemenuhan kebutuhan dasar yang difasilitasi oleh yayasan.
Tak berhenti di situ, Dinsos Buleleng juga merencanakan pengobatan rutin di Poli Jiwa RSUD Buleleng untuk memulihkan kondisi psikologis Neny. Tujuannya satu: agar Neny bisa lebih stabil dan terus merawat bayinya dengan layak.
Kini, kasus Neny telah dikoordinasikan dengan Dinas Sosial P3A Provinsi Bali. Di tengah hiruk-pikuk dunia, publik berharap ada keajaiban yang bisa mempertemukan kembali Neny dengan keluarganya di Papua, atau setidaknya memberikan masa depan yang lebih cerah bagi sang bayi yang lahir di antara pasir dan desau angin Pantai Sangsit.[*]
Editor : Hari Puspita