Perjalanan rutin Ni Wayan Belentek,87, untuk melepas rindu pada sang buah hati berakhir memilukan. Nenek asal Banjar Susut, Desa Buahan, Payangan, Gianyar ini ditemukan tak bernyawa di kawasan Konservasi Gunung Batur, Bukit Payang, Kintamani, setelah dilaporkan hilang selama lima hari.
KEJADIAN bermula pada Sabtu (7/2/2026) lalu. Seperti biasa, wanita senja yang akrab disapa Dadong (nenek) Belentek ini berpamitan hendak menuju rumah anaknya di Banjar Paket, Kintamani.
Sosoknya dikenal mandiri; biasanya ia menumpang kendaraan pedagang atau truk yang kebetulan melintas di jalur tersebut. Namun, pada hari itu, ia sempat berucap bahwa sang cucu yang akan mengantarnya.
Kekhawatiran keluarga mulai memuncak pada Minggu (8/2/2026). Saat dicek ke Banjar Paket, ternyata Dadong Belentek tak pernah sampai di tujuan. Sejak saat itu, pencarian besar-besaran pun dilakukan.
Keluarga bersama warga Desa Batur menyisir setiap sudut jalur dan hutan di wilayah Kintamani.
Lima Hari dalam Penantian
Harapan keluarga untuk menemukan sang nenek dalam keadaan selamat perlahan sirna. Setelah lima hari pencarian tanpa lelah, tepat pada Kamis (12/2/2026) sore sekitar pukul 17.30 Wita, titik terang muncul di kawasan Bukit Payang.
Warga menemukan sosok Dadong Belentek tergeletak di tengah sunyinya kawasan konservasi. Sayang, ia sudah dalam kondisi tidak bernyawa.
“Saat ditemukan, korban dalam posisi tengadah. Beliau hanya mengenakan kain kamen tanpa baju. Di sekitar lokasi, tidak ditemukan benda-benda yang mencurigakan,” ungkap Kasi Humas Polres Bangli, Iptu I Ketut Gede Ratwijaya, mewakili Kapolsek Kintamani pada Jumat (13/2/2026).
Dinginnya Malam yang Mematikan
Hasil pemeriksaan medis dari tim Puskesmas Kintamani I memberikan gambaran menyedihkan tentang saat-saat terakhir korban. dr. Einan, tim medis yang memeriksa jenazah, menyatakan tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan fisik pada tubuh korban.
Dadong Belentek diduga telah mengembuskan napas terakhirnya sekitar 24 hingga 48 jam sebelum ditemukan. Lebam yang ditemukan pada tungkai kaki kiri serta kondisi lingkungan Kintamani yang ekstrem memperkuat dugaan penyebab kematian.
“Korban diduga meninggal dunia akibat hipotermia (kedinginan ekstrem) atau hipoglikemia (kadar gula darah rendah),” tambah Iptu Ratwijaya.
Meski diselimuti duka mendalam, pihak keluarga menyatakan telah ikhlas. Mereka menerima kejadian ini sebagai musibah murni dan menolak untuk dilakukan otopsi. Kini, sang nenek yang hanya ingin mengunjungi anaknya itu telah "pulang" untuk selamanya ke haribaan Sang Pencipta.[*]
Editor : Hari Puspita