Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Mengejutkan! Mayat Misterius Mengapung di Pantai Kuta, Tim SAR Sisir Laut, Dua Bocah Tenggelam Waktu Lalu Tak Kunjung Ditemukan

Andre Sulla • Kamis, 18 Juni 2026 | 15:29 WIB

 

DICARI: Petugas Balawista bersama Sat Polairud Polresta Denpasar melakukan penyisiran di perairan Pantai Kuta usai menerima laporan adanya mayat mengapung di sekitar batu pemecah gelombang, Rabu (17/6/2026). (ADRIAN SUWANTO/radarbali.id)
DICARI: Petugas Balawista bersama Sat Polairud Polresta Denpasar melakukan penyisiran di perairan Pantai Kuta usai menerima laporan adanya mayat mengapung di sekitar batu pemecah gelombang, Rabu (17/6/2026). (ADRIAN SUWANTO/radarbali.id)

MANGUPURA, radarbali.jawapos.com – Pantai Kuta kembali dihebohkan dengan laporan temuan mayat mengapung di pantai Kuta. Hingga kini, jasad yang dilaporkan terlihat mengapung itu belum berhasil ditemukan.

Pencarian masih berlangsung di seputaran titik jenazah sempat terlihat yakni di sebelah barat batu pemecah gelombang, tepat di depan Patung Shelter Baruna, Kuta, Badung, Rabu pagi (17/6/2026). 

Kasi Humas Polresta Denpasar, IPTU I Gede Adi Saputra Jaya, S.H., M.H., membenarkan adanya laporan tersebut.

Menurut dia, identitas korban hingga kini masih misterius lantaran jasad belum berhasil ditemukan dan dievakuasi. Informasi tersebut pertama kali diterima sekitar pukul 07.30 Wita.

Baca Juga: Yusuf Meilana Hengkang, Bali United Datangkan Alfeandra Dewangga dari Persib?

Laporan itu langsung ditindaklanjuti oleh tim gabungan dari Sat Polairud Polresta Denpasar bersama Balawista Kuta dengan melakukan pencarian terbatas di lokasi.

Berdasarkan keterangan saksi, awalnya petugas Balawista bernama Andreas Budiman menerima informasi dari dua pria yang mengaku melihat sesosok mayat mengapung di sekitar batu pemecah ombak.

Informasi itu bahkan disebut terekam dalam video. Mendapat laporan tersebut, Andreas langsung bergerak menuju lokasi dengan mobil ambulans.

Sementara rekannya, Mogik Byantara, menggunakan jet ski untuk menyisir area laut dari arah selatan, utara, hingga barat.

Namun, setelah pencarian selama kurang lebih satu jam 30 menit, jasad yang dilaporkan terlihat mengapung itu tak kunjung ditemukan. Kondisi air laut yang sedang pasang diduga menyulitkan proses pencarian.

Di tengah penyisiran, petugas Balawista lainnya, Yoyok Wahyudi, justru menemukan sejumlah barang mencurigakan di atas batu pemecah gelombang. 

Barang-barang tersebut berupa sandal slop warna coklat, kacamata, topi hitam, serta jas hujan plastik warna biru yang diduga kuat milik korban.

Seluruh barang temuan itu kemudian diamankan ke Pos Polairud Kuta untuk kepentingan penyelidikan lebih lanjut.

Selain menyisir laut, polisi juga melakukan pengumpulan bahan keterangan (pulbaket), mencari saksi tambahan di sekitar lokasi, serta mendata rekaman CCTV yang mengarah ke area batu pemecah ombak.

“Pencarian masih terus dilakukan bersama Balawista Badung dan Sat Polairud Polresta Denpasar. Sampai saat ini korban belum ditemukan,” ujar IPTU Adi.

Apakah korban terseret ombak, terpeleset dari batu pemecah gelombang, atau ada unsur lain di balik kejadian tersebut. "Polisi masih terus mendalami kasus ini," tutupnya.

Kejadian sebelumnya, dua Airlangga Andrianto, 13, dan Noval Aditya Saputra, 8, tenggelam, dan sampai saat ini tak kunjung ditemukan.

Untuk diketahui, setelah tujuh hari penuh berjibaku menyisir darat, laut, hingga udara, harapan menemukan dua bocah yang terseret arus di Pantai Kuta akhirnya harus dihadapkan pada kenyataan pahit. Tim SAR Gabungan resmi menghentikan operasi pencarian.

Baca Juga: Sampah Galungan Melonjak, DLH Tabanan Minta Warga Tetap Pilah dari Rumah demi TPA Mandung

Keputusan penghentian itu diambil setelah seluruh prosedur pencarian maksimal dilakukan sesuai ketentuan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2014 tentang Pencarian dan Pertolongan. Selama sepekan, berbagai unsur gabungan telah mengerahkan seluruh kemampuan terbaik.

Mulai dari penyisiran bibir pantai, laut lepas menggunakan rubber boat dan jetski, hingga pemantauan udara memakai helikopter.

Namun derasnya arus, luasnya area pencarian, dan minimnya petunjuk membuat keberadaan kedua bocah malang itu masih menjadi misteri.

Kasi Operasi Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Denpasar, Juni Antara, mengatakan penghentian operasi bukan berarti pencarian benar-benar selesai.

Pemantauan tetap dilakukan melalui koordinasi lintas sektor, termasuk dengan nelayan dan masyarakat pesisir.

“Kami berharap apabila ada tanda-tanda atau temuan yang diduga berkaitan dengan korban, masyarakat segera melapor agar proses evakuasi bisa kembali dibuka,” ujarnya.

Tragedi yang bermula dari permainan bola di bibir Pantai Kuta itu kini meninggalkan duka mendalam bagi keluarga. 

Dua bocah yang semula hanya bermain seperti anak-anak pada umumnya, mendadak hilang ditelan ganasnya ombak Kuta. Hingga kini, keluarga korban masih berharap keajaiban datang, meski operasi resmi telah dihentikan.

"Pantai Kuta pun kembali menjadi pengingat bahwa keindahan ombak Bali juga menyimpan ancaman mematikan jika lengah," tutupnya.***

Editor : M.Ridwan
#mayat mengapung di pantai #tim SAR dan Balawista #pantai kuta bali