Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Menyusuri Pura Dang Kahyangan di Kabupaten Lombok Barat: Pura Gunung Baleku, Tempat Politisi Memohon Jabatan

Eka Prasetya • Jumat, 18 Agustus 2023 | 13:00 WIB

 

MEMELUK BATU: Pemedek memeluk batu kapong di Pura Gunung Baleku. Apabila berhasil memeluk batu, mereka yakin permohonannya akan terkabul
MEMELUK BATU: Pemedek memeluk batu kapong di Pura Gunung Baleku. Apabila berhasil memeluk batu, mereka yakin permohonannya akan terkabul

Selain Pura Kaprusan dan Pura Batu Bolong, di Kabupaten Lombok Barat juga terdapat Pura Gunung Baleku. Para politisi kerap datang ke pura ini, memohon jabatan. Benarkah bisa terkabul?

 

GUSTI Mangku Ngurah Suteja, 72, berjalan perlahan. Dia mempersilahkan koran ini duduk di bale sekepat yang ada di halaman rumahnya.

“Mohon maaf, saya semalam baru pulang dari rumah sakit. Sesak nafas,” kata Suteja seraya menunjukkan bekas infus di tangan kirinya.

Mangku Suteja merupakan pemangku di Pura Gunung Baleku. Dia sudah ngayah sebagai pemangku di pura tersebut sejak tahun 1980 silam.

Baca Juga: Semarakkan Hari Kemerdekaan RI ke-78, WNA Rusia Ikut Lomba Kait Keranjang

Pura Baleku merupakan salah satu Pura Dang Kahyangan yang ada di Pulau Lombok, khususnya di Kabupaten Lombok Barat. Pura itu terletak di Desa Taman Sari, Kecamatan Gunung Sari. Lokasinya pun mudah dicapai. Karena berada di Jalan Raya Mataram-Tanjung yang menjadi ruas arteri menuju Kabupaten Lombok Utara.

Suteja sendiri mengaku telah menjumpai pura dalam kondisi berdiri tegak, bersama pelinggih-pelinggih lain. “Kebetulan saya dari jaman kakek sudah di Lombok ini. Memang kami asalnya dari Duda, Karangasem. Tapi sudah lahir dan besar di sini. Jadi tyang jumpa pura, sudah seperti ini,” kata Suteja.

Keberadaan Pura Gunung Baleku tak lepas dari jejak perjalanan Dang Hyang Nirartha di Pulau Lombok. Dikisahkan Dang Hyang Nirartha melakukan perjalanan suci dari Bali menuju Sumbawa. Selama di Lombok, dia sempat melakukan tapa semedi di beberapa lokasi. Sebut saja di Pura Kaprusan, Pura Batu Bolong, serta Batu Layar.

Baca Juga: Bukit Teletubis di Nusa Penida Terbakar, Penyebab Belum Diketahui

Setelah dari Batu Layar, Dang Hyang Nirartha menuju Gunung Baleku. “Kalau tyang baca prasasti, Beliau sampai di sini pada Wraspati Pon Wuku Landep tahun 1301 caka. Di Lombok ini Beliau lebih dikenal dengan nama Dang Hyang Dwijendra atau Pangeran Sangupati,” imbuhnya.

Saat sampai di Gunung Baleku, Dang Hyang Nirartha bertemu dengan masyarakat setempat yang diyakini telah memeluk Islam Watu Telu. Di sana Dang Hyang Nirartha kemudian bermukim dan menyebarkan agama Hindu, sementara di sekeliling kawasan tersebut terdapat umat yang memeluk agama Islam.

“Kalau pandangan jaman sekarang ini istilahnya moderasi beragama. Jadi yang Islam silahkan membangun, yang Hindu tetap jalan dengan agama Siwa Buda,” ungkap Ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Nusa Tenggara Barat, Ida Made Santi Adnya.

Baca Juga: Berdalih untuk Menolong Istri, Imigrasi Ngurah Rai Malah Lepas Bule Kroasia Bisnis Ilegal di Bali

Batu Kapong

Keistimewaan pura ini adalah jalurnya yang mendaki. Dari jabaan pura, pemedek harus menapaki sekitar 145 anak tangga. Setelah menapaki anak tangga, pemedek harus mengikuti jalan tanah sejauh sekitar 200 meter. Baru kemudian sampai di pura.

Mangku Suteja menuturkan pembuatan anak tangga itu baru tuntas sekitar tahun 2019 silam. “Kebetulan ada yang menyumbang. Kalau pelaba, pura tidak punya. Jadi mengandalkan sumbangan umat saja,” ceritanya.

Tatkala sampai di pura, salah satu pelinggih yang menonjol adalah pelinggih Batu Kapong. Pelinggih tersebut diselimuti kain berwarna putih, sementara di bagian atasnya terdapat canang sari yang dihaturkan pemedek.

Dikisahkan batu tersebut merupakan batu sandaran Dang Hyang Nirartha saat menyampaikan darma wacana kepada sisia yang tangkil ke pura tersebut. Hyang Nirartha diyakini pernah menyampaikan sebuah bhisama: “Barang siapa yang bisa memeluk tempat aku duduk ini dengan ketemu jari kiri dan kanan di pusarku ini, di sana doamu terkabulkan. Kalau masih kurang, berarti masih ada rintangan yang kamu jalani.”

Baca Juga: Tepat HUT RI, Bupati dan Kajari Klungkung Lepas 17 Ton RDF ke Pasuruan Sebagai Bahan Bakar Pengganti BBM

Alhasil banyak umat yang tangkil ke pura tersebut. Terutama untuk memohon kepada Ida Sang Hyang Widhi. Suteja menyebut cukup banyak umat yang terbukti permohonannya berhasil.

“Banyak juga yang tidak berhasil. Kalau yang berhasil biasanya memohon sekolah, nunas sentana, memohon jabatan,” ujarnya.

Untuk memohon, umat tak perlu membawa persembahan tertentu. Cukup membawa canang sari, serta menyampaikan permohonan di dalam hati. Permohonan itu disampaikan setelah muspa. Baru kemudian dilanjutkan dengan memeluk batu.

Baca Juga: Hukuman Mantan Bupati Jembrana Gede Winasa Berkurang 3 Bulan

Jelang Pemilu 2024, Suteja mengaku belum banyak politisi yang berdatangan. Namun saat Pemilu 2019 silam, dia menyebut ada banyak politisi yang berdatangan. Bukan hanya dari Lombok, tapi juga dari Bali dan Sumbawa.

Mereka yang permohonannya terkabulkan, biasanya akan menghaturkan sejumlah persembahan untuk pembangunan pura. “Kami dari pengempon sih tidak pernah meminta. Itu keikhlasan saja. Pembangunan pura ini murni hasil dana punia masyarakat yang berhasil,” cerita Suteja.

Selain pelinggih batu kapong, di pura itu juga terdapat empat pelinggih lain. Yakni Padmasana, Ratu Ayu Mas Melanting, Pengrurah, dan Sang Hyang Dwijendra.

Baca Juga: Duh! Paman Perkosa Ponakan 18 Tahun, Sudah Nangis tapi Dipaksa hingga Trauma

Saat ini pengempon Pura Gunung Baleku mencapai 500 kepala keluarga. Mereka bermukim di Banjar Karya, Banjar Rojong, dan Banjar Dharmayatra. Seluruhnya tersebar di sekitar Kecamatan Gunung Sari.

Pujawali sendiri jatuh pada purnama sasih ketiga. Tahun ini pujawali akan dilaksanakan pada Kamis (31/8) mendatang. Saat pujawali, umat akan berdatangan dari penjuru wilayah. Terutama dari Lombok, Bima, dan Bali.***

Editor : M.Ridwan
#pura gunung baleku #jabatan #lombok barat #pura dang kahyangan #politisi