Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Sulit Capai Partisipasi 100 Persen di Jembrana, Target Realistis 80 Persen, Ini Alasannya

Muhammad Basir • Sabtu, 3 Februari 2024 | 02:15 WIB
Ilustrasi partisipasi pemilu masyarakat-jawa pos.com
Ilustrasi partisipasi pemilu masyarakat-jawa pos.com

NEGARA, Radar Bali.id - Pelaksanaan pemilihan umum (pemilu) serentak 14 Februari  tinggal menghitung hari. Sisa 12 hari waktu pelaksanaan ini, proses sosialisasi pelaksanaan masih perlu ditingkatkan lagi agar partisipasinya tinggi. 

Namun untuk mencapai target partisipasi seratus persen masih sulit terwujud, sehingga penyelenggara hanya menargetkan lebih tinggi dari pemilu serentak sebelumnya.

Target tersebut dari total daftar pemilih tetap (DPT) 243.796 pemilih di Jembrana. Dalam menentukan target, mengacu pada hasil pemilu serentak sebelumnya tahun 2019, di mana partisipasi lima tahun lalu sebesar 79 persen dari DPT.

"Target tahun 2019, sudah melebihi target nasional yang menargetkan partisipasi 75 persen," ujar Ketua KPUD Jembrana I Ketut Adi Sanjaya, Kamis (1/2/2024).

Menurut Adi, pihaknya menargetkan partisipasi pemilih di Jembrana diatas melebihi partisipasi tahun 2019, yakni diatas 80 persen.

Target tersebut dinilai lebih realistis, karena untuk mencapai partisipasi seratus persen akan sangat sulit tercapai.

"Harapan partisipasi bisa seratus persen, tetapi itu bukan target. Karena akan sulit mencapai seratus persen partisipasi pemilih," ungkapnya.

Sulitnya mencapai target seratus persen ini, karena sejumlah faktor. Pihaknya tidak memungkiri jika pemilih yang sudah memiliki hak pilih masih ada yang mementingkan hal lain daripada menggunakan hak pilihnya.

"Mungkin karena kesibukan pekerjaan, tugas di luar daerah saat pemilihan," ungkapnya.

Kondisi lain pemilihan juga menentukan, misalnya apatisme pemilih dengan politik, hingga enggan menggunakan hak pilihnya.

Karena sejumlah faktor ini, pihaknya tetap melakukan sosialisasi secara meluas kepada masyarakat agar menggunakan hak pilihnya pada pemilu 2024 ini.

"Pemilih apatis ini setiap pemilu selalu ada. Berbagai cara sudah kami lakukan untuk sosialisasi pemilu ini untuk meningkatkan partisipasi," ujarnya.

Selain peran KPU Jembrana sebagai penyelenggara, peran aktif peserta pemilu terutama calon legislatif yang maju juga penting dalam sosialiasi meningkatkan partisipasi.

Peserta pemilu ini, memiliki peran penting mendatangkan konstituennya untuk datang ke TPS mengunakan hak pilih.

Sementara itu, mengenai daftar pemilih tambahan (DPTb), saat ini masih belum final. Proses perpindahan pemilih, baik yang keluar dari TPS asal ke TPS lain atau dari TPS luar ke TPS di Jembrana masih belum ada angka final.

"Data DPTb masih proses, belum final," tambah ujar Sa'rani, Anggota Divisi Perencanaan Data dan Informasi KPU Jembrana.

Perpindahan pemilih dari TPS sesuai dengan alamat asal ini, karena beberapa sebab. Di  antaranya karena menjalankan tugas saat pemilihan, menjalani rawat inap di rumah sakit atau puskesmas dan keluarga yang mendampingi.

Ini untuk menjalani rehabilitasi narkoba, menjadi tahanan di rumah tahanan atau lembaga permasyarakatan dan terjadi bencana. [*]

Editor : Hari Puspita
#hak pilih #partisipasi masyarakat #pemilu 2024 #KPUD Jembrana #golput